Tuesday, 2 April 2019

Lestari Hutanku, Lestari Bumiku



Bumi kian memanas, es di kutub kian meleleh, bencana semakin merajalela..Ah, masih pantaskah kita sebagai manusia hanya berdiam diri?



Bumi kita sedang sekarat! Kalimat itu masih selalu terngiang di telinga usai mengikuti Forest Talk with Blogger Palembang sepekan yang lalu.

Dr. Amanda Katili Niode, adalah manager climate reality Indonesia, pun juga sebagai pemateri dalam acara ini. Beliau memaparkan betapa mirisnya kondisi bumi yang kita hadapi saat ini. Bagaimana tidak, puluhan juta manusia tumbang karena dampak dari cuaca ekstrim yang menghantui. Ratusan bencana hidrologi maupun geologi kian memporak-porandakan negeri. Pun juga dirasakan oleh hewan dan tumbuhan hingga nyaris musnah dari muka bumi.



Mengapa bumi kita sekarat?

Banyak yang tidak kita sadari bahwa seluruh aktivitas manusia memiliki dampak terhadap bumi. Dampak yang paling dirasa saat ini adalah kontribusi manusia terhadap emisi gas rumah kaca.  Emisi Gas rumah kaca merupakan proses naiknya suhu bumi yang disebabkan oleh komposisi atsmosfer.

Sejatinya gas rumah kaca sangatlah diperlukan untuk menjaga kestabilan suhu bumi. Namun, aktivitas manusia yang berlebihan meningkatkan konsentrasi emisi gas yang menyebabkan lapisan atsmosfer semakin tebal. Penebalan atmosfer inilah yang berdampak pada peningkatan suhu bumi sehingga berimbas juga pada perubahan iklim dalam proses jangka panjang.

Data yang diperoleh dari World Resources Institute menyebutkan bahwa emisi gas rumah kaca di Indonesia berasal dari penggunaan lahan atau kehutanan sebesar 61,6%. Sisanya 26,2% berasal dari energi, pertanian, limbah, industri, sampai transportasi.




Tahukah anda? Tahun 2015 merupakan tahun dengan kebabakaran hutan terbesar sepanjang sejarah di Indonesia. Lebih dari 2,5 juta area yang terbakar.  Saya kembali teringat pertemuan saya dengan mas Yayan, salah satu anggota Forestry di perusahaan OKI Pulp and Paper Mills.

Pada saat kebakaran hutan di tahun 2015 silam, beliau menceritakan bahwa diperlukan waktu selama 45 hari untuk memadamkan api. Biaya yang diperlukan selama 45 hari sangatlah besar. Salah satunya mereka harus menghire 2 orang dari Spanyol dengan biaya berkisar ratusan juta rupiah!

Padahal pohon sejatinya berfungsi untuk menyerap karbon dan polusi udara yang lebih tinggi dibandingkan semak maupun tumbuhan lain. Penyerapan akan turun ketika terdapat emisi gas rumah kaca. Turunya penyerapan c02 dari geomasa pohon inilah yang menyebabkan gas rumah kaca menjadi tinggi di udara.

Hutan juga bermanfaat untuk menahan lacu erupsi ke hilir. Banjir dan longsor pada awal tahun 2019 di Sulawesi terjadi akibat eksploitasi sumber daya hutan.  Tak heran jika satu pohon sangatlah berarti untuk menyelamatkan bumi. Bagaimana tidak? Hutan alam kita kian terkikis. Sampai kapan bumi akan selalu merintih menangis?


Kiri ke kanan: Ir. Murni, Dr.Amanda, Dr.Atiek, Pak Januardi, Pak Amril

Upaya mengembalikan Fungsi Hutan

Hutan alam kini semakin tergerus akibat deforetasi hingga bencana kebakaran yang melanda negeri. Sudah saatnya semua bergerak untuk mengembalikan fungsi hutan dan mengolahnya menjadi hutan berkelanjutan.

Sebagai masyarakat awam, ada kalanya kita berpikir kontribusi apa yang bisa kita lakukan untuk mengembalikan fungsi hutan kita?

Dr. Atiek Widayati, perwakilan dari Tropenbos Indonesia sebagai pemateri kedua menyampaikan, beberapa upaya yang dapat dilakukan masyarakat untuk berkontribusi mengembalikan fungsi hutan. 
Diantaranya adalah
  • Mendukung peletarian hutan yang ada dengan cara mencegah penebangan hutan.
  • Mendukung hasil hutan kayu. Hutan tidak hanya memproduksi kayu saja. Madu hutan, rotan, dedaunan, semua bisa dimanfaatkan supaya tidak hanya mengambil hasil kayu secara berkelanjutan.
  • Pemanfaatan jasa ekosistem. Membangun kegiatan ekowisata yang memperhatikan keramahan lingkungan dapat dijadikan solusi agar hutan terjaga kelestariannya.
  • Mendukung ekonomi masyarakat tepi hutan.
  • Mensosialisasikan hutan yang lestari melalui media. Disini lah peran blogger sangat dibutuhkan untuk meningkatkan wawasan masyarakat.
Baca Juga: Melestarikan Hutan Melestarikan Kehidupan

Selama 10 tahun belakangan ini, euforia menanam pohon sering disosialisasikan sebagai upaya untuk kembali menghijaukan bumi. Namun, yang sering terlupakan adalah bagaimana merawat pohon-pohon tersebut supaya tetap terpelihara. Padahal, banyak sisi manfaat dari pohon yang dapat dibudidayakan supaya pohon terawat dengan baik.

Ir.Murni Titi Resdiana, MBA., perwakilan dari Kantor Urusan Khusus Presiden bidang pengendalian dan perubahan iklim, beliau menjelaskan bahwa pada tahun 2015 negara di seluruh dunia menyepakati untuk menjaga bumi dalam menyeimbangkan pembangunan ekonomi maupun sosial.

Seperti halnya pengelolaan hutan berkelanjutan, aspek ekonomi dan sosial juga harus diperhatikan. Pemerintah Indonesia memiliki kebijakan untuk menurunkan emisi gas sebesar 29% khususnya dalam sektor perindustrian.

Mengembalikan Fungsi Hutan untuk Ekonomi Kreatif

Salah satu upaya yang dapat dilakukan seperti yang Dr. Murni paparkan adalah mendukung perekonomian masyarakat tepi hutan.  Menghasilkan produk dari hutan juga berkaitan erat dengan upaya mengurangi dampak perubahan iklim.

Jika masyarakat dan pemerintah mampu mengembangkan perekonomian lokal dengan menjaga kelestarian lingkungan, maka aksi menyelamatkan bumi dari perubahan iklim pun bisa diwujudkan.

Pohon seyogyanya tidak hanya bisa diambil manfaat dari satu sisi saja. Pohon merupakan sumber serat, pewarna alam, bahan kuliner, furnitur, hingga penghasil minyak atsiri. Pohon yang kaya akan sumber tersebut jika dapat dikelola dengan baik maka akan menghasilkan produk yang memiliki nilai jual tinggi.

Dari upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mewujudkan ekonomi kreatif dari masyarakat tepi pohon tersebut, muncul pertanyaan dari benak saya. Bagaimana membangun perekonomian desa tepi hutan serta mendukung produk unggulan desa? Lalu produk seperti apakah yang bisa memiliki nilai jual yang tinggi?

Mendukung Produk Unggulan Pedesaan

Janudianto, perwakilan dari Asian Pulp dan Paper Sinar Mas, beliau menyampaikan bagaimana upaya APP Sinar Mas untuk membangun desa tepi hutan industri dan mengangkat perekonomian masyarakat setempat.

APP Sinar Mas memiliki komitmen utama untuk perlindungan hutan alam dimana di setiap konsesi lahan perusahaan memiliki tanggung jawab untuk pengelolaan hutan berkelanjutan. Salah satunya dengan membangun Desa Makmur Peduli Api (DMPA). DMPA merupakan program pemberdayaan konservasi hutan perusahaan yang berperan untuk pengelolaan hutan lestari.


Hasil pertanian yang diproduksi oleh DMPA

Program DMPA  dibangun untuk memberdayakan perekonomian masyarakat di sekitar hutan, memetakan sumber daya desa, melakukan transfer teknologi dan merubah mindset masyarakat akan pembakaran lahan hutan, serta membantu masyarakat untuk memasarkan berbagai produk agroforesti yang dihasilkan.

Dampak dari program ini adalah masyarakat memperoleh kesempatan kerja dan mendapat pendapatan yang lebih dari produk agroforestri. Hasil produk dari DMPA ini bisa kami lihat di stand booth saat Forest Talk berlangsung. Ada hasil jagung, beras, abon, keripik, dan masih banyak lagi.

Produk yang berasal dari Sumber Pohon

Produk-produk yang memanfaatkan serat pohon juga dipamerkan pada acara ini. Salah satunya adalah produk hasil karya Galeri Wong Kito. Kain jumputan cantik yang dipamerkan di galeri ini rupanya menggunakan sumber pewarna alam. Sumber pewarna alam dapat diperoleh dari kulit secang, kunyit, akar mengkudu, sampai daun jati. Teknik yang digunakan untuk menghasilkan corak yang indah itupun menggunakan teknik Ecoprint.

Ecoprint merupakan teknik cetak dengan menggunakan pewarna alami. Usai talkshow, GWT juga mempraktekan bagaimana proses pewarnaan dengan teknik ecoprint. Mulai dari pemilihan daun sampai teknik memukul daun pun harus diperhatikan dengan seksama.


Demo mewarnai Kain dengan teknik ecoprint oleh Galeri Wong Kito

Selain kain, ada juga produk lain yang memanfaatkan sumber hutan. Diantaranya adalah minyak atsiri yang digunakan untuk campuran parfum, gelang kayu yang terbuat dari kayu pohon gaharu, dan juga miniatur khas Palembang yang terbuat dari kayu bekas.
Miniatur khas Palembang yang terbuat dari kayu bekas di Mellin Gallery




Kain jumputan, minyak atsiri, sampai gelang dari kayu gaharu dipamerkan di stand Galeri Wong Kito

Conclucion:

Perubahan iklim yang ditandai dengan meningkatnya emisi gas rumah kaca semakin mengancam bumi kita. Cuaca ekstrem yang berdampak pada seluruh makhluk hidup dari manusia hingga binatang. Para nelayan semakin susah mencari ikan, pun juga dirasakan oleh para petani yang mengeluh karena gagal panen. Artinya saat ini kita sedang menghadapi pemanasan global yang sangat serius.

Hutan sebagai kontributor terbesar untuk mengurangi emisi gas rumah kaca harus terus dilestarikan. Masyarakat maupun pemerintah perlu bergerak untuk mengembalikan fungsi hutan dengan berbagai macam upaya.

Upaya secara langsung dapat dilakukan oleh masyarakat untuk mendukung pencegahan penebangan hutan. Pemanfaatan hutan untuk ekonomi kreatif juga menjadi solusi yang sangat tepat untuk menjaga kelestarian hutan agar dapat dimanfaatkan dan dipelihara dengan baik.

Upaya secara tidak langsung yang dilakukan oleh masyarakat adalah mensosialisasikan tentang betapa pentingnya menjaga hutan lestari melalui media. Inilah tugas para blogger dengan mengangkat topik ini menjadi sebuah tulisan yang nantinya akan membuka wawasan seluruh masyarakat untuk sadar dan ikut andil dalam pelestarian hutan.

Terimakasih atas ilmu yang sangat berharga ini kepada Yayasan Doktor Sjahrir, The Climate Reality Project Indonesia, APP Sinar Mas, Galeri Wong Kito, dan Meilin Galeri. Semoga kita bagian dari orang –orang yang memberikan kontribusi bagi kelestarian hutan. Untuk Informasi lebih lanjut mengenai kelestarian hutan, kalian bisa dapatkan di website www.lestarihutan.id.

Melestarikan hutan sama halnya dengan melestarikan bumi kita bukan?

Thursday, 28 February 2019

Nasib Matematika di Tangan Kita


Kenapa sih matematika selalu menjadi momok bagi anak-anak? Seberapa susahnya untuk dipelajari? Tidak perlu bertanya jauh-jauh. Saya pun sampai sekarang tidak suka bahkan sangat lemah mempelajari Matematika. Terlebih background pendidikan banyak saya habiskan di pondok. Tambah buta banget sama namanya aljabar, algoritma, sampai hitungan volume!
Kebetulan penelitian S2 saya saat itu mengangkat tentang prestasi belajar matematika. Kenapa Matematika? karena ketika saya mencari akar masalah di setiap sekolah, matematika adalah mata pelajaran yang memiliki kriteria ketuntasan minimal (KKM) paling rendah diantara pelajaran yang lain. Berarti bukan saya aja donk ya yang dari kecil gak suka matematika. Ternyata sampai sekarang pun siswa masih dipusingkan dengan mata pelajaran ini.
Tidak heran berdasarkan Program for International Student Assesment (PISA) menyebutkan bahwa kemampuan matematika dan sains siswa di Indonesia berada pada peringkat 69 dari 76 negara di dunia. Yassalam..
Literasi yang rendah, kemampuan matematika yang rendah, lantas bagaimana nasib bangsa kita jika generasi kita tidak mampu menghadapi tantangan global?
Banyak orang salah kaprah memaknai matematika yang diasumsikan sebagai angka saja. Padahal sejatinya matematika itu adalah ilmu yang selalu ada dalam kehidupan kita sehari-hari. Kultur pendidikan kita yang masih mengajarkan teori saja mengakibatkan kemampuan matematika anak di Indonesia semakin jeblok.
Kuliah Bunda Sayang Institut Ibu Profesional tak hanya sekedar memberikan materi dan tugas semata. Namun ada cita-cita mulia dari Ibu Septi untuk meningkatkan kualitas para ibu para pendidik generasi bangsa.
Bagaimana tidak. Dari serangkaian tugas yang diberikan, kita semakin sadar pentingnya home education untuk perkembangan dan kematangan emosi anak. Beberapa tugas yang diberikan diantaranya adalah tantangan meningkatkan literasi dalam keluarga, meningkatkan kecerdasan emosional, sampai menstimulus kemampuan matematika logis.
Tantangan ke-enam tentang menstimulus kemampuan matematika logis anak sejatinya menjadi tantangan terbesar saya sebagai orang tua untuk menumbuhkan rasa cinta anak terhadap matematika.
Dibandingkan tantangan sebelumnya, tantangan ini bikin saya lebih deg-degan. Lebih merasa harus melakukan lesson plan untuk merancang stimulus apa yang akan saya berikan selama 10 hari kedepan. Yah, meskipun realitanya untuk setor tugas saya masih super lelet wkwkw. Maafkan saya bu Fasil...
Hasilnya adalah Archy lebih excited mempelajari tentang angka, konsep pola, dan bentuk dasar. Alhamdulillah. Rasanya udah gak sabar naik ke level selanjutnya mengajarkan Archy matematika yang lebih kompleks. Eits..sabar dulu. Harus disesuaikan dengan tahap perkembangan anak ya.
Itulah mungkin yang menyebabkan banyak anak tidak suka matematika. Disamping pelajaran ini sangat jarang dikoneksikan dengan kehidupan sehari-hari, pun anak juga tidak pernah dibekali sejak dini lalu saat masuk bangku sekolah tiba-tiba harus berhadapan materi MTK yang kompleks.
Istilahnya adalah njeglek. Super shock, otaknya juga kaget, dan berujung pada kebencian yang berkepanjangan. Lihat angka langsung mual-mual pengen segera menutup buku rapat-rapat.
So please for all parents, silahkan ikut perkuliahan Institut Ibu Profesional kalau gak mau tingkat literasi, kemampuan sains, dan kemampuan matematika anak Indonesia selalu berada di peringkat terbawah. Tidak Ada bekal yang harus disiapkan kecuali bekal konsisten saja untuk menjalankan rentetan tugas yang diberikan selama setahun.
I really thank a lot to IIP for this wonderful education. Rasanya kalo gak ikutan IIP mungkin saya tidak semelek sekarang menjadi “Home Educator” untuk anak-anak saya. Yuk moms, jadi kapan moms juga mau daftar IIP? :D

Tuesday, 19 February 2019

MENGUNJUNGI FIRE STATION BERSAMA IBU PROFESIONAL PALEMBANG


Sabtu, 20 januari 2019, Ibu Profesional Palembang mengadakan kegiatan Edutrip ke Bandara Sultan Mahmud Badaruddin, Palembang. Acara ini diselenggarakan oleh devisi playdate, yaitu devisi yang mewadahi kegiatan-kegiatan edukasi anak dan para orangtua dari anggota Ibu Profesional Palembang.

Pukul 08.00 kami diminta berkumpul di kantor Airport Rescue & Fire Fighting. Kantor ini terletak di kawasan perkantoran bandara. Bersama 35 anak dan para pendamping mulai berkumpul di titik lokasi. Cuaca yang begitu cerah ditambah angin semilir membuat suasana kegiatan ini semakin menggembirakan.

Dari depan tampak mobil pemadam kebakaran berjajar dengan gagah dan rapi. “Tayoo..tayo...!!” teriak Archy saat melihat mobil pemadam kebakaran yang bewarna merah menyala itu. Anak-anak lain juga tampak ceria sambil mengamati si mobil. “Wah..keren..wah Frank..!!” sahut anak lainnya sambil menyebutkan tokoh mobil pemadam kebakaran dalam film Tayo, Frank.
Mejeng di depan Mobil pemadam kebakaran
Tampaknya anak-anak semakin tidak sabar menanti rentetan kegiatan yang akan mereka lewati. Para ibupun mulai turun tangan untuk mengondisikan anak-anak supaya tertib dan tenang. Ya harap maklum. Pesertanya adalah anak-anak dari berbagai lapisan usia. Mulai dari 2,5 tahun sampai 8 tahun. Bisa kebayang kan bagaimana riewehnya mereka.

Setelah terkondisikan dengan baik, para anggota dari airport rescue mulai menyiapkan diri untuk menyampaikan materi. Bapak-bapak berseragam jingga itu mula menyapa anak-anak dengan suara lantangnya. Berasa lagi upacara nih rasanya. Nyapanya udah kayak komandan pleton haha.

Bapak Taufik selaku komandan regu memperkenalkan anggotanya satu persatu. Kalau gak salah ada yang jabatanya sebagai laksana pratama, selebihnya kurang jelas. Mungkin laksana madya kali ya. Maklum-lah baru 5 menit menjelaskan saja, anak-anak suaranya lebih seru daripada pematerinya.

Yah, dengan style si bapak saat menjelaskan materi, memang lebih cocok didengarkan oleh para orang tua. Lumayan kan, orang tua jadi nambah pengetahuan. Kalaupun saat itu anak tidak fokus pada materi, orang tua bisa mereview ulang dengan metode yang lebih menarik saat di rumah hehe.

Dari materi pembuka yang disampaikan yang saya pelajari adalah syarat berdirinya suatu bandara yaitu harus mempunyai pertolongan kecelakaan penerbangan. Nah, karena lokasi di bandara maupun pesawat udara sangat riskan dengan berbagai kemungkinan kecelakaan, maka respon tim tidak boleh lebih dari 3 menit. Makanya kemarin terdengar ledakan kecil saja tim-nya sudah pada kocar kacir mencari sumber suara. Wih, mantap jaya kan.

Setelah penjelasan yang panjang lebar, perhatian anak-anak kembali terpusat ketika para tim memperagakan baju pemadam kebakaran. Waoo, sontak anak-anak ada yang menjerit ketakutan dan ada juga yang teriak kegirangan. Kalo Archy? dia termasuk yang teriak ketakutan. Dikira makhluk luar angkasa kali ya hahaa.
Baju pemadam kebakaran sekilas mirip dengan astronot


Para tim memperagakan baju pemadam yang terdiri dari 2 jenis pakaian pemadam kebakaran. Yang pertama baju yang diperagakan berupa baju hitam layaknya baju pemadam kebakaran pada umumnya. Dan baju yang kedua tampak seperti baju pemadam yang dilapisi alumunium. Bentuknya-pun seperti pakaian astronot.

Rupanya baju ini memang didesain khusus untuk mengatasi kecelakan yang ada di dalam pesawat udara. Nah baju inilah yang membuat anak-anak pada heboh ketakutan, kegirangan, dan bahkan ada yang minta salaman.

Usai pemaparan materi, anak-anak diajak untuk melihat bagaimana proses penggunaan air untuk memadamkan api yang menyala. Pun juga mereka diperkenankan untuk memegang selang air bersama-sama. Wah seru ya. Eits tapi ada yang lebih seru lagi lo kegiatan setelah ini.
Picture: doc IP palembang

Yes, acara yang paling dinanti-nanti oleh anak dan juga emak-emaknya adalah naik mobil pemadam kebakaran. Yeay, emaknya aja super heboh apalagi anaknya gitu kan. Semua anak sudah mulai berbaris rapi tak sabar menunggu giliran. Ya, karena memang mobil yang digunakan memang satu, jadi semua harus antri menanti giliran masuk.
Mobil pemadam kebakaran yang gagah perkasa

Archy yang belum menunjukan sikap mandiri selama kegiatan berlangsung, membuat saya sedikit berharap kalau dia juga tetap ingin naik mobil pemadam seperti anak-anak lainnya. Ayo donk please Archy, mama wanna make a great memory for you, ujar saya dalam hati. Alhamdulillah, saat kloter terahir tiba, dengan sedikit bujukan Archy pun mau ikut serta bersama saya. Yeayy..

Saat memasuki mobil, saya begitu terkesima dengan tombol-tombol yang ada di depan driver. Saya penasaran tombol apa sajakah itu, terutama tombol-tombol yang berwarna biru, kuning, dan ungu. Tombol biru berfungsi untuk mengeluarkan air ke pipa penyemprotan. Di setiap mobil pemadam terdapat 3 outlet untuk menyemburkan air, yaitu di bagian depan, bawah, dan samping.


Saat driver menombol biru, anak-anak tampak terkesima melihat semburan air yang keluar dari dalam pipa (emaknya juga gak kalah heboh ding wkwk). sementara untuk tombol bewarna kuning digunakan untuk menyeburkan busa. Busa disini merupakan alat untuk memadamkan api khususnya pada lokasi yang tertutup oleh minyak.

Sementara pada tombol ungu, tombol ini berfungsi untuk menyemburkan serbuk kimia. Mungkin serbuk ini digunakan pada kondisi kebakaran yang tidak bisa teratasi dengan air. Tentunya pada kunjungan hari ini memadamkan dengan busa dan serbuk kimia tidak dipraktekan oleh petugasnya, karena keduanya harus memiliki prosedur yang sangat ketat dan juga mahal.
Foto bersama sebelum ke bandara


Kegiatan terahir ditutup dengan simulasi check-in di bandara SMB II. Anak-anak belajar bagaimana proses masuk bandara. Mulai dari menaruh barang ke peralatan X-ray, memeriksakan diri di walk-through metal detector, dan mengamati bagaimana proses para calon penumpang melakukan check-in ke setiap maskapai yang digunakan.

Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 12 siang. Itu tandanya kegiatan playdate hari ini telah usai. Sebagai penutup, mbak Ina selaku ketua IP Palembang memberikan sedikit kenang-kenangan kepada tim bandara yang telah memperkenankan kami untuk melakukan kunjungan edukasi.

What a great day we are having! semoga kegiatan hari ini memberikan kenangan yang berharga bagi anak-anak dan orang tua. Terimakasih tim Playdate IP Palembang. Kita tunggu kegiatan playdate selanjutnya ya J




Saturday, 16 February 2019

Permainan Matematika Sensori: Aktivitas Anak Usia 2 Tahun

Bunda, masih ingatkah bagaimana dulu bunda belajar mengenal huruf dan angka?
Sewaktu mama Archy kecil, mama belajar mengenal angka dan huruf dibantu dengan media buku dan alat tulis. Dulu, mama belajar menarik garis untuk membentuk angka "1" sampai terkadang kertas yang digunakan sering sobek karena tekanannya terlalu dalam. Hahaha, lucu ya.

Sekarang, anak belajar menulis angka bisa dengan menggunakan berbagai macam variasi media. Misalnya belajar menulis angka dengan media pasir, tepung, air, dan lain sebagainya. Bahkan ketika anak belajar menuliskan angka di atas pasir, anak juga mampu merasakan seperti apa bentuknya. Di sinilah kemampuan logis anak akan semakin berkembang, di mana anak tidak hanya belajar wujud si angka, namun juga belajar mengenal konsep dan simbol.

Seperti yang bunda ketahui, anak usia 2 tahun sedang memasuki tahap pra-operasional. Tahap ini dicirikan dengan perkembangan awal berfikir logis. Meskipun demikian, anak usia 2 tahun masih melewati akhir dari tahap sensorimotor yaitu tahap representasi, dimana anak masih menyukai belajar hal baru berdasarkan rabaan atau sentuhan.

Nah, kali ini Archy akan belajar mengenal angka 1 sampai 3 yang dibantu dengan media playdough. Mama beri nama untuk aktivitas ini dengan sebutan "Touch and Feel Number". Lalu bagaimana sih cara memainkanya?


Cara memainkanya mudah sekali bunda. Awalnya bunda buat angka 1 sampai 3 dengan media playdough. Kemudian mintalah si kecil untuk meraba playdough tersebut satu persatu. Kemudian bunda bisa bantu anak untuk mengikuti garis angka dengan telunjuk tanganya. Jadi anak semakin paham bagaimana cara membentuk angka satu, dan seterusnya. Mudah sekali bukan?

Archy excited sekali saat mencoba meraba angka-angka tersebut satu persatu. Dirabanya berulang kali meskipun setelah itu ia coba leburkan kembali menjadi satu. Hahaha, namanya juga anak-anak. Mereka juga sedang mengembangkan konsep yang ada di pikiranya. 



Nah, sekarang kita coba praktekan sama-sama yuk di rumah. Cukup dengan menggunakan playdough, anak bisa belajar mengenal angka dengan cara yang seru dan menyenangkan loh. Selamat bermain dengan si kecil ya bund :)



Thursday, 14 February 2019

BELAJAR MENGENAL POLA: AKTIVITAS ANAK USIA 2 TAHUN

Jika kita melihat anak sedang asyik mensortir mainan sesuai warnanya, menyusun balok berurutan dengan urutan warna yang diulang, apa yang terbesit dari kacamata kita sebagai orang tua? Ya, barangkali anak sedang mempelajari warna. Betul, itupun yang juga sering dilakukan Archy secara otomatis tanpa arahan dan petunjuk dari saya. Anak usia 2 tahun senang mensortir segala sesuatu!

Lebih dari itu, hal yang perlu kita ketahui dari permainan yang anak kita lakukan adalah mereka sedang belajar mengenal pola. Pengalaman-pengalaman bermain melalui pola umumnya terjadi secara alamiah. Pola membantu anak untuk belajar mengurutkan, memprediksi yang mengarah pada keterampilan matematika, struktur logika, dan membangun keteraturan kita dalam hidup.

Kali ini, saya akan menyajikan permainan DIY yang mengasah keterampilan berfikir logis anak tentang pola. Kegiatan ini saya namakan dengan “Rainbow Ball” . Tujuan dari permainan ini adalah untuk memperkenalkan anak bentuk pola warna yang diulang. 

Bahan yang diperlukan:
Printable Rainbow Ball atau bisa bunda buat dengan menggambar lingkaran kecil berurutan diatas karton.
Gunting
Lem
Kardus untuk alas Printable
Bola pom-pom

Cara membuatnya:
Tempelkan printable atau hasil gambar lingkaran kecil diatas kardus supaya lebih tebal dan rapi. Gunting kardus sesuai dengan pola. Siapkan bola pom-pom disampingnya. Lalu mainkan!



Cara memainkanya:
Tulislah warna yang akan kita susun untuk membentuk pola yang berulang diatas lingkaran. Minta anak untuk bantu menyusun bola pom-pom sesuai dengan warna yang ditentukan.

Misalnya pada baris pertama saya buat pola berulang merah dan kuning. Kemudian archy saya minta melanjutkan untuk menyusun bola pom-pom sesuai dengan warna selanjutnya.

Tada..seperti ini hasilnya.


Memang awalnya susah untuk mengarahkan Archy bermain permainan ini. Saya biarkan namun saya mainkan berulang-ulang. Ternyata lama-lama ia mulai tertarik dengan bola yang terususun cantik itu.
Jangan lupa, setiap kita membuat sesuat permainan dengan prakarya bunda sendiri. Jangan langsung dibuang ya. Bunda bisa gunakan lagi karena suatu saat anak pasti merindukan mainan itu jika ternyata dia mulai bosan dengan permainanya. Disisi lain semua permainan anak akan diajadikan portofolio sebagai dokumentasi hasil belajar mereka bunda.

Selamat bermain dengan si kecil ya J

Wednesday, 13 February 2019

BELAJAR KONSEP UKURAN: AKTIVITAS ANAK USIA 2 TAHUN


Bunda, seperti artikel yang saya tulis sebelumnya, matematika selalu ada dalam kehidupan anak sehari-hari loh. Salah satunya adalah memahami konsep ukuran (besar-kecil, panjang-pendek). Konsep ini merupakan tahap yang perlu dicapai anak di usia 2 tahun.

Ada banyak cara yang bisa bunda lakukan di rumah untuk mengajarkan anak mengenai perbedaan besar dan kecil. Tentunya banyak sekali benda-benda di rumah yang bisa dijadikan untuk media belajar. Sendok besar dan sendok kecil, piring besar dan piring kecil, dan masih banyak lagi.

Kali ini Archy ingin mengenal macam-macam anak hewan beserta induknya. Pasti lebih menyenangkan lagi jika kita buat puzzle bergambar anak dan induk binatang. Caranya mudah sekali loh bunda. Mari kita simak bahan yang diperlukan beserta cara mainnya.

Bahan yang diperlukan:
Printable anak dan induk hewan. Saya download di Farm Animal Puzzle
Gunting
Lem
Kardus susu bekas

Caranya:
Gunting  puzzle anak dan induk hewan yang sudah kita print out sesuai dengan pola.
Tempelkan diatas kardus
Gunting kardus mengikuti pola

Tada..mudah sekali bukan? setelah itu mari kita bereksplorasi bermain bersama si kecil.

“mama kucing, mana mama kucing? si anak kucing mencari kesana kemari huhuhu”ucap saya supaya Archy tertarik dengan permainana puzzlenya.

“Ini.....” Archy berteriak saat mempertemukan si anak kucing dengan induknya.

Permainan ini cukup membuat Archy bertahan duduk mencocokan puzzlenya satu persatu. Biasanya, jika permainan itu dirasa tidak disukai, ia segera beranjak pergi. Karena tak hanya bertujuan untuk mengenal konsep ukuran saja, namun anak juga menambah pengetahuan baru tentang binatang ternak.

Contohnya anak ayam rupanya tidak serupa dengan ayam ketika menjadi induk. Si anak ayam yang berwarna kuning saat besar ia akan berubah warna menjadi warna kecoklatan. Awalnya Archy tidak tahu jika si ayam kecil kuning itu adalah anak ayam. Tapi kini bisa mencari kemiripan lain dari paruhnya. Wow, menyenangkan sekali bukan?

Yuk, kita coba memainkan animal farm puzzle di rumah!

Tuesday, 12 February 2019

BELAJAR MATEMATIKA: AKTIVITAS ANAK USIA 2 TAHUN


Banyak orang tua yang masih memandang kalau mengajarkan Matematika dasar berarti mengajarkan anak mengenai penjumlahan. Biasanya kalau anak sudah masuk sekolah, si bapak iseng bertanya, “ nak satu ditambah dua sama dengan berapa?”. Atau yang lebih dasar lagi bertanya urutan angka satu sampai sepuluh. Jika si anak sudah mahir menghafal, itu tandanya ia sudah pandai matematika. Itu pandangan orang awam.

Sekarang pandangan orang tua sudah semakin maju. Kemudahan untuk mendapatkan informasi mendorong orang tua untuk menstimulus kemampuan matematika anak sejak dini. Tak hanya itu, pandangan orang tua mengenai matematika kini sudah meluas. Matematika tidak hanya mengenal angka saja, pun juga menganl besaran, bentuk, dan pola yang bisa diajarkan kepada anak sebelum memasuki usia sekolah.

Untuk mengetahui tahap perkembangan matematika anak sesuai usianya, kini kita bisa melihat acuan dari Permendikbub PAUD mengenai tahap pencapaian perkembangan anak. Disitu dengan jelas dan singkat dituliskan kemampuan logis apa yang semestinya dilewati oleh anak-anak sesuai usianya.
Kalau susah mencari, silahkan klik dibawah ini:

Tingkat Perkembangan Anak Permendikbud PAUD

Nah, kali ini saya akan membagikan pengalaman bagaimana menstimulus kemampuan matematika logis Archy, anak saya yang berusia 2 tahun. Awalnya saya buat lesson plan, yaitu rencana belajar selama 10 hari kedepan. Karena kegiatan ini juga merupakan bagian dari tugas kelas Bunda Saya Ibu Profesional level 6.

Bagi yang belum tahu seperti apa lesson plan itu, silahkan klik link dibawah ini ya J

Baiklah, hari pertama saya membuat ide kegiatan tentang mengenal angka dasar. by the way, tingkat pencapaian kemampuan logis apa saja ya yang dilewati anak usia 2 tahun?

Tingkat pencapaian kemampuan logis anak usia 2 tahun:
·         Memahami konsep ukuran besar-kecil dan panjang-pendek
·         Mengenal bentuk dasar (segitiga, segiempat, dan lingkaran)
·         Memahami simbol angka
·         Memahami pola

Ok, ide kegiatan ini saya beri nama “Bug Jumping”. Ide ini saya ATM (amati, tiru, modifikasi) dari Pinterest dan kemudian saya praktekan di rumah.
DIY BIG JUMPING


Bahan yang diperlukan:
-          Kertas karton
-          Spidol/crayon
-          Lego

Ceritanya, si capung meloncat terlalu tinggi dan ia sedang tidak bisa menggunakan sayapnya. Kita bantu si capung untuk turun ke bawah. Caranya kita harus membuatkan tangga untuk si capung. Kita hitung, perlu berapa lego-kah untuk membantu capung turun dari atas?

Dari situ kita bisa ajak anak untuk menghitung jumlah lego yang diperlukan untuk menyusun tangga. Sederhana dan menarik bukan? Yuk, kita coba praktekan Bug Jumping bersama buah hati anda di rumah J
Menghitung jumlah lego yang digunakan untuk membangun tangga



#haripertama
#Tantangan10hari
#Level6
#KuliahbunsayIIP
#Ilovemath
#Matharoundus
#ThinkLogic