Wednesday, 6 May 2020

REKOMENDASI CHANNEL YOUTUBE INI BIKIN AKTIVITAS MEMBERSIHKAN RUMAH JADI LEBIH SERU

Sudah dua bulan di rumah, kira-kira aktivitass beres-beres masih tetap semangat gak nih? Mungkin pandemi ini memberikan kesempatan bagi para moms untuk membersihkan sudut-sudut rumah yang dulunya terlupakan karena banyaknya aktvitas yang padat. Namun ada juga para moms yang memang terbiasa dengan kegiatan bersih-bersih, dan bahkan menjadikannya sebagai hobi yang menyenangkan.

Saya pribadi yang masih punya dua anak batita, aktivitas berbenah cenderung pasang surut. Kalau anak-anak lagi senang-senangnya main messy play, ya sudah deh terpaksa harus mengikuti alur yang mereka sukai. Tapi terkadang saya butuh imunisi penyemangat biar aktivitas beres-beres saya semakin asyik dan menyenangkan. Jadilah saya suka cari inspirasi berbenah di channel youtube.

Awalnya memang gak sengaja channel ini keluar di beranda youtube saya. Saya iseng nonton satu sesi, ternyata keren banget. Suka lihat mamah-mamah korea mempersiapkan makanan keluarga, berberes rumah, dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Semua serba tersusun rapi dan eye cacthing.

Saya baru tahu kalau mesin cuci harus rutin dibersihkan sedetail itu. Perasaan seumur hidup belum pernah lihat ibu saya, atau siapapun yang lagi bersihin mesin cuci sampai ke lubang-lubang kecil yang ada di setiap sudut mesin cuci. Belum lagi natural cleaner yang mereka pakai untuk bersih-bersih lebih sering menggunakan baking soda dan extra kulit lemon. Hasilnya tampak terlihat bersih gak kalah sama cleaner yang dijual di pasaran. 

Okay sini kubisikin satu-satu ya channel youtube siapa aja yang bikin moms makin jatuh cinta sama aktvitas beberes rumah:

1. Haegreendal


Youtuber moms asal Korea ini emang paling sering saya tonton videonya. Channel dengan 1,7 juta suscribers ini emang selalu menginspirasi dan bikin gak bosen untuk ditonton berulang kali. Biasanya sambil cuci piring atau aktivitas di dapur, saya suka menyempatkan untuk menonton channel haegreendal mulai dari kegiatan beres-beres rumah, mempersiapkan makanan keluarga, sampai aktivitas bersama anak lelakinya yang lucunya minta ampun. Gemes pisan euy.


2. Hommy Mommy

Channel ini adalah channel yang pertama kali saya tonton karena ketidak sengajaan nongol di beranda Youtube. Sebagai seorang minimalist, hami mommy ini selalu menampilkan cara berbenah yang simpel dan ramah lingkungan. Yang selama ini saya ikuti setelah nonton videonya hami mami ini adalah saya selalu stock baking soda yang saya gunakan buat bersih-bersih dapur sampai cuci pakaian. Ternyata emang bagus banget buat pakaian yang kena kotoran membandel. Nyuci pakai baking soda selain ramah lingkungan juga bikin pakaian tampak lebih bersih dan terang dibandingkan sabun cuci pasaran.


3. Fany Sebayang

Fany adalah youtuber asal Indonesia yang selama ini paling aku suka tonton videonya. Awalnya saya tertarik sama video fany karena saat itu lagi cari tahu tentang minimalism. Keluarlah nama fany di urutan pertama dalam pencarian Youtube. Jadilah aku mulai suka simak tips bagaimana menerapkan minimalis dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu desain rumah fany ala Japanesse Minimalis bikin saya jadi jatuh hati karena terkesan simpel, rapi, dan gak ribet. Mungkin kalau ada keinginan rehab rumah, kayaknya rumah Fanny cocok banget dijadikan referensi. 




Nah, itu dia 3 rekomendasi channel Youtube yang bikin kalian jadi betah berlama-lama beresin rumah dan melakukan segala aktivitas di rumah jadi lebih menyenangkan. Mungkin ada banyak Youtuber lain yang punya tema yang sama dengan mereka seperti Liaon Salim, Rhea Y, dan lain sebagainya. Tapi yang menurutku paling relate sama aktivitasku dan paling kusuka ya tiga itu tadi. Nonton diulang-ulang pun masih gak pernah bosen sampai sekarang. Nyuci jad semangat, beres-beres rumah jadi semangat. Semangat beberes rumah semuanya :)

#BPNRamadhan2020
#BPNRamadhanChallenge
#BloggerPerempuanNetwork
#BPNRamadanChallengeDAY13

Tuesday, 5 May 2020

JANGAN TERGODA SAMA MAINAN EDUKASI MAHAL, MAINAN DARI BARANG BEKAS JUSTRU LEBIH MENGEDUKASI ANAK



Dulu, bisa dibilang aku sama kakakku jarang banget dibelikan mainan. Tetangga pada punya PS, kita gak ada. Tetangga hampir semua punya sepeda, kita gak punya. Tapi alhamdulillah bisa naek sepeda semua, the power of minjem😝. Uang saku sekolah pada 500an, kita mah 100an. Meski kenyataanya perekonomian keluarga cenderung cukup, abah bekerja sebagai dosen dan ibu PNS. Gak serta merta menjadikan kami dipenuhi dengan apa yang kami punya.

Kadang pernah envy juga, kenapa kok kita gak pernah dibelikan kayak temen yang lain. Sampai suatu saat aku berpikir tentang memori masa kecil apa aja yang paling melekat di fikiranku sampai saat ini. Bukan memori tentang mainan berharga, bukan tentang pemberian barang yang mewah dari abah ibu. Tapi memori tentang kebersamaan.


Inget banget jaman dulu sering banget tiap weekend kita keluar mancing di pemancingan Janti. Pemancingan legendaris yang udah hampir 30 tahun masih jadi langganan keluarga kami meski tak banyak pengunjung datang. Inget waktu mudik dari Lombok ke Sumbawa kita naik bus reyot bareng orang bawa ayam dan kotorannya semerbak bau kemana2. Inget waktu di Bali godain kakak batal puasa sampai kena marah abah. Inget main hujan-hujanan depan rumah sambil bayangin gubug2 cantik berderet di sepanjang jalan. Indah..sekali.

Momen berharga itu yang bikin aku memutuskan untuk gak sering-sering beli permainan, sekalipun itu yang permainan edukatif. The world provides everything what we want to learn. Meski kenyataanya jadi ortu jaman now itu gampang banget tergoda sama onglen shop😝. Kayak kmren kekeuh gak beli tenda ujung2nya kebeli jg 🤭.



Kenyataanya barang bekas yang disulap jadi bahan belajar anak justru lebih esensial dibandingkan permainan edukasi sekalipun itu aparatus Montessori yang harganya lumayan mahal. Aparatus yang dibeli sama orang tua yang bisa saja gak ngerti cara mainnya. Ataupun kalau gak ada aparatus, benarkah anak-anak tidak mampu memahami konsep ukuran, angka, tahap dari sensori ke konkrit seperti halnya yang diunggul-unggulkan dari aparatus itu sendiri?

Memanfaatkan barang bekas adalah bahan utama dalam metode pengajaran loose part play. Loose part play adalah jenis permainan dengan menggunakan bahan bisa digabungkan, dirancang ulang, disusun, dipisahkan, disatukan kembali dengan berbagai macam cara. Permainan ini mendorong anak untuk memiliki pemikiran yang berbeda, pemecahan masalah, dan keingintahuan yang tinggi pada anak. 

Saat anak diberikan permaianan dari barang recycle, anak akan belajar menjelajahi objek tersebut, berpikir kritis untuk merefleksikan ide dalam benaknya, dan tentunya mengasah kreativitas anak untuk menciptakan sesuatu. Ini yang membuat benda-benda bekas cenderung lebih exploratif dan mengasah critical thinking anak. 

Ruang bermian yang cenderung statis tidak banyak membantu anak untuk mengeksplorasi dibandingkan ruang bermain yang menyediakan kebebasan dalam berpikir. Anak-anak bisa saja menjadikan wajan di dapur kita sebagai alat musik, gasing, jungkat jungkit, dan lain sebagainya yang meemungkinkan anak-anak menjadi sangat inventif dan kreatif dalam permainan mereka. 

Saat di rumah aja selama pandemi ini, ada orang tua yang berpikir akan memenuhi segala fasilitas agar anak bisa lebih betah di rumah dengan membelikan berbagai macam permainan. Padahal kenyataanya ada anak yang hanya memainkannya sekali dua kali kemudian ia merasa bosan dengan permainan itu. Lalu kemudian si anak mencari-cari sesuatu di kulkas, Dia menemukan telur dan ingin sekali mengocok telur karena hal itu ia anggap sangat menyenangkan.

Jadi saya rasa, barang yang harus ada selama anak-anak di rumah bukanlah mainan yang begitu banyak jumlahnya. Sediakan saja barang-barang bekas yang bisa kita buat menjadi permainan seru bersama anak. Ini justru lebih memberikan kualitas dan momen berharga kaerena adanya kebersamaan dalam keluarga. Saling berkerja sama untuk menciptakan barang bekas menjadi barang yang bernilai.

Saya tidak menyudutkan para pedagang mainan edukasi dan lainnya. Ini hanya opini dari kacamata saya. Tentunya setiap orang tua berhak memberikan hal yang terbaik untuk anak. Semua dikembalikan ke value masing-masing orang tua ya. Judul diatas juga opini saya yang diperoleh setelah banyak mempelajari tentang loose part play.  Walau gimanapun tujuan kita sama-sama ingin mendidik anak-anak kita menjadi anak yang sukses dan bermanfaat. Go ahead everything is your choice. Mari tetap menjadi orang tua yang saling bersinergi ya :)

#BPNRamadhan2020
#BPNRamadhanChallenge
#BloggerPerempuanNetwork
#BPNRamadanChallengeDAY12

x

APLIKASI YANG SUKSES BIKIN ANTI KECANDUAN GADGET SELAMA DI RUMAH


Kelamaan di rumah memang seringkali bikin lupa waktu. Apalagi dalam mengelola penggunaan gadget. Pernah gak sih kalian mengalami ketika bangun tidur yang diawali membuka notifikasi HP ternyata berujung scrolling social media sampai gak terasa sudah menghabiskan waktu selama 1 jam. Bingung mau ngerjain apa lagi kemudian iseng-iseng cari ide di social media dan browser gak taunya malah mencari hiburan lain yang gak sesuai dengan tujuan awal.  Gak terasa banget ya kita sudah wasting time sama hal-hal yang gak memiliki esensi.

Sebagai ibu rumah tangga, menghabiskan banyak waktu dengan gadget akan mengacaukan seluruh pekerjaan rumah tangga yang seharusnya bisa selesai sesuai waktu yang ditentukan. Misal kalau aku nekat mau buka notifikasi HP setelah bangun tidur, ujung-ujungnya waktu untuk menyiapkan sarapan buat anak-anak terpaksa molor. Cuci piring jadi ikut molor. Yang awalnya mau setrika ujung-ujungnya jadi males dan harus menerima kenyataan setrikaan semakin menumpuk dan beranak pinak.

Capek banget kan moms kalau gini terus. Makanya sebagai ibu rumah tangga yang SMART memanajemen waktu, kita perlu banget bantuan fitur aplikasi yang bikin gak lupa waktu sama gadget. So, kali ini aku mau review fitur yang selama ini aku pakai untuk memanajemen penggunaan gadget dan waktu kita jadi gak banyak kebuang hanya untuk scrolling dan checking hal yang gak bermanfaat. Lets check this out!

1. Digital Wellbeing & Parental Control

Fitur ini bisa kita temukan di pengaturan/setting pada HP Android. Silahkan check  setting kalian dan temukan sub menu ini setelah scrolling ke bawah. Fitur ini gampang banget digunakan dan noo ribet-ribet. 
Setelah itu kita bisa check berapa jam per hari kita menghabiskan waktu dengan gadget, aplikasi apa aja yang kita buka dan besaran waktunya. 

Nah, dari sini kita jadi tahu kalau hari ini aku baru saja buka satu aplikasi yaitu whatsapp dan terhitung sudah 10 menit. 

Selanjutnya, kita bisa mengatur waktu aplikasi yang sering banget bikin kita lupa waktu. Semisal kita dalam sehari kita mau membatasi membuka instagram 1 jam per hari. Setelah 1 jam penggunaan, otomatis aplikasinya gak bisa dibuka lagi dan harus menunggu keesokan harinya. Berbeda kalau kita cuman log out instagram saja, bisa jadi perasaan ingin tetap log in masih bisa terjadi. Tapi dengan setting ini, kita benar-benar gak bisa lagi buka sampai keesokan harinya.

Caranya klik ways to disconnect dan kita akan menemukan dashboard untuk mengatur waktu aplikasi yang ingin kita batasi penggunaannya.

Nah, dari situ kalian bisa lihat kalau aku set timer ke 3 aplikasi yaitu whatsapp, youtube, dan instagram. Whatsapp aku batasi maksimal 2 jam, instragam 1 jam 30 menit, dan Youtube 1 jam 50 menit. Aku pilih 3 aplikasi itu karena aplikasi ini paling banyak buang kuota dan bikin aku jadi lupa diri hehe. Jadi pengaturan alarm bisa kalian sesuaian sendiri aplikasi apa aja yang ingin kalian batasi penggunaanya. Gampang banget kan pakainya. Dijamin waktu kita bisa termanajemen dengan baik dan gak perlu buang-buang waktu untuk screen time selama di rumah aja. 

2. Aplikasi MOMENT

Aplikasi ini bisa kalian unduh di app store dan google play. Cara kerjanya kurang lebih sama dengan digital wellbeing yang aku review sebelumnya. Kita jadi tahu selama sehari berapa waktu yang kita habiskan dan aplikasi apa saja yang kita buka dalam sehari secara detail. 


Selain itu aplikasi ini juga punya fitur COURSE yaitu panduan agar kita bisa tidur lebih nyenyak, lebih fokus, terhindar dari gangguan screen time, dan lain sebagainya. 
Dengan bantuan course dalam aplikasi, mereka akan selalu memberikan alarm jika kita masih suka check HP tidak sesuai dengan waktu yang ditentukan. Misal di course better sleep, kita hanya diperbolehkan check HP selama berapa jam. Lalu antara jam 9 sampai jam 5 pagi kita diminta untuk tidur. Semisal jam 10 kita iseng mau check sosial media, otomatis HP kita akan berdering terus yang berasal dari aplikasi ini karena mengingatkan kalau ini jam tidur kamu dan kamu gak dibolehkan untuk check HP sama sekali.

Nah, keren banget kan dua aplikasi tadi. Dijamin bisa membantumu memanajemen waktu dengan baik. So far, aku memang lebih sering pakai yang setting digital wellbeing saja karena lebih mudah dan praktis. Mau scrolling social media silahkan asal sesuai waktu yang ditentukan. Kalau waktunya sudah selesai, otomatis sosmednya tidak akan bisa terbuka sama sekali sampai keesokan harinya. Sadis khaaan...

Memang sih, untuk disiplin memang perlu pengorbanan dan keinginan kuat. Manajemen waktu penting banget dalam situasi pandemi ini supaya kita tetap produktif meski di rumah saja. Selamat mencoba :)

#BPNRamadhan2020
#BPNRamadhanChallenge
#BloggerPerempuanNetwork
#BPNRamadanChallengeDAY10

Monday, 4 May 2020

6 KUNCI MEMBANGUN KELUARGA YANG TANGGUH SELAMA PANDEMI


Ada banyak hikmah dan tantangan yang kita temukan selama pandemi berlangsung. Salah satunya adalah keluarga. Di tengah situasi ini, keluarga adalah menjadi social group yang akan selalu berada dengan kita dalam kehidupan sehari-hari. Indeed, karena di seluruh dunia serempak memberlakukan aturan lebih baik di rumah saja untuk menghindari adanya penularan virus Corona yang begitu cepat. Artinya, kita akan menghadapi segala sesuatunya bersama keluarga. Menghadapi segala suka dan duka bersama keluarga. Pertanyaanya adalah bagaimana kita bisa melewati hal tersebut dengan baik bersama keluarga kita.

Selama pandemi ini, dilaporkan bahwa angka perceraian di Wuhan meningkat  sebesar 50%. Angka kasus kekerasan dalam rumah tangga meningkat drastis di seluruh dunia. Perekonomian dunia begitu semrawut sehingga banyak yang kehilangan pekerjaannya. Dengan segala kekacauan ini ternyata tidak semua keluarga dapat bertahan dengan baik hingga akhirnya menyerah di tengah jalan. Saya yang saat ini memiliki keluarga kecil bersama anak-anak dan suami tercinta tentunya harus terus mengevaluasi diri agar hal-hal tersebut tidak terjadi pada keluarga kami yang baru berusia 6 tahun ini. 

Sebagai upaya untuk memperkuat keutuhan keluarga kami, saya menyempatkan diri untuk mengikuti WEBEX Session: Family Strethening in Cricis Situation bersama Dr. John Defrain yang diselenggarakan oleh CPMH UGM. Dr John merupakan profesor terkemuka yang banyak meneliti tentang keluarga di seluruh dunia. Beliau selama bertahun-tahun menginterview dan membagikan kuesioner pada keluarga di seluruh dunia yang merasakan kepuasaan dan kebahagiaan dalam keluarganya. 

Dari hasil penelitian tersebut ditemukan bahwa ada 6 kualitas utama yang membangun kekuatan keluarga di seluruh dunia dari berbagai macam suku, etnis maupun budaya yang berbeda. Apa saja 6 kualitas itu? Yuk kita simak satu-persatu:

1. Apresiasi dan afeksi satu sama lain

Apresiasi dan afeksi berarti adanya rasa sayang, rasa saling peduli, dan rasa saling menghargai perbedaan satu sama lain. Terkadang kita sebagai orang tua berhak menentukan keputusan sebagai wujud rasa peduli dan sayang kita ke anak-anak. Namun sering kali kita melupakan untuk bertanya ke anak-anak, apakah keputusan itu juga terbaik bagi mereka? Kadang orang tua tanpa disadari sering memaksakan kehendak diri agar semuanya dapat diikuti oleh anak. Namun kita melupakan satu hal yang penting yaitu berdiskusi. 

Dengan adanya diskusi, kita bisa saling menghargai pendapat masing-masing anggota keluarga. Suami bisa lebih menghargai istri, istri bisa lebih memahami suami, dan orang tua bisa lebih mengharagi pendapat anak. Sebagai orang tua, jauhkan diri dari perasaan lebih superior yang menganggap segala keputusan adalah terbaik bagi anak. Sebagai anak, tidak semua keinginan harus seua diwujudkan oleh orang tua. Hargai apa alasan orang tua belum bisa memenuhi keinginanmu. Begitu juga sebagai suami dan istri. Selesaikan segala permasalahan dengan kepala dingin agar tidak saling menyalahkan dan beradu argumen yang mengakibatkan hubungan yang tidak baik.

Selanjutnya afeksi. Afeksi adalah bagaimana cara kita mengekspresikan rasa sayang kita ke anak-anak dan pasangan kita. Kehidupan masyarakat urban yang sangat sibuk seringkali membuat kita lalai untuk sekedar mengungkapkan rasa cinta kita ke keluarga. Peluk mereka dengan hangat, sampaikan hal apa saja yang bisa membuatmu bahagia bersama keluarga. 

2. Komunikasi positif

Keluarga yang kuat adalah keluarga dimana anggota keluarga saling memberikan power/kekuatan satu sama lain dengan cara saling memberikan ide, bekerjasama, dan saling berkompromi, termasuk menghargai pendapat setuju dan tidak setuju. Beberapa aspek dari komunikasi positif antara lain adalah bagaimana cara kita memberikan pujian, berbagi perasaan, saling terbuka, dan menjauhkan diri dari menyalahkan satu sama lain. Dalam menyelesaikan suatu masalah, baiknya kita fokus dalam penyelesaiannya, bukan terfokus pada perbedaan pendapat yang berujung pada rasa saling menyalahkan dan merasa lebih superior dibandingkan yang lain.

3. Komitmen terhadap keluarga

Kepercayaan, keterbukaan, dan kejujuran adalah elemen yang penting untuk menguatkan komitmen terhadap keluarga. Kejujuran ini yang dapat membantu pasangan untuk saling menguatkan dan menerima kesalahan. Sebaliknya, perselingkuhan akan menghancurkan kepercayaan pasangan yang berimbas pada ketidak harmonisan dalam rumah tangga. Tak hanya itu, anak juga akan merasa tidak aman dan terancam jika melihat kedua orang tuanya tidak harmonis dan saling berselisih faham. Oleh sebab itu selalu tanamkan komitmen untuk bisa membangun keluarga yang tangguh menghadapi cobaaan.

4. Menikmati waktu bersama

Suatu penelitian menemukan bahwa kekerasan dalam keluarga dan kesibukan sangat berkaitan erat. Seringkali orang tua bekerja terlalu keras sehingga secara tidak disadari dapat menyakiti relasi antar keluarga. Bekerja terlalu keras seringkali membuat kita terlalu lelah dan hampir tidak memiliki waktu bersama keluarga.  Menghabiskan waktu bersama keluarga tak perlu hal yang mewah seperti bepergian keluar negeri, menghabiskan uang untuk shopping dan lain sebagainya. Hal-hal sederhana pun justru bisa membangun kelekatan bersama keluarga. Anak-anak bahkan tidak menyadari jika orang tuanya sedang menghadapi perekonomian yang sulit. Namun ia bisa menyadari bagaimana orang tua mereka dapat menikmati waktu bersama-sama dengan anak-anak dengan penuh canda dan tawa. 

5. Adanya perasaan sehat secara Spiritual

Salah satu kekuatan keluarga adalah adanya kesehatan spiritual dan nilai-nilai yang dipercayai bersama. Landasan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah adalah kunci utama untuk membangun keluarga yang tangguh. Terutama dalam situasi sulit seperti saat ini, kita dapat merenungkan bersama-sama keluarga dan bersama-sama bermunajat untuk mengingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. 

6. Kemampuan mengatasi dan memanage stress dan krisis

Jika setiap keluarga dapat saling memahami karkter masing-masing, maka mereka akan tahu bagaimana memperlakukan keluarganya dengan baik. Saat salah satu anggota melewati masa yang sulit, maka anggota keluarga saling bersinergi agar mereka dapat melewati masa sulit itu sehingga tidak menimbulkan kondisi yang lebih buruk lagi seperti stress dan depresi berkepanjangan.


Semoga dalam situasi ini, kita semua bisa saling bersinergi untuk membangun keluarga yang tangguh. Semua dimulai dari rumah dan berakhir dari rumah. Rumah adalah tempat kita dan keluarga kita saling berkumpul dan menghadapi segala situasi dan kondisi bersama-sama. Yuk jadikan rumah kita menjadi tempat ternyaman yang dimulai dari kekuatan keluarga :)

#BPNRamadhan2020
#BPNRamadhanChallenge
#BloggerPerempuanNetwork
#BPNRamadanChallengeDAY9


5 TIPS AGAR ANAK BETAH DI RUMAH


Pandemi udah dua bulan aja ya. Artinya udah 2 bulan juga kita gak kemana-mana. Stay at home as always. Anak-anak yang biasa main di luar jiwanya sudah makin meronta-ronta karena kelamaan di rumah. Parents juga makin bingung kan mau ajak anak ngapain lagi selama di rumah. Sudah kehabisan ide, anak rewel, mama papanya jadi ikutan ribut. Wah, jangan sampai di situasi seperti saat ini bisa memperkeruh keharmonisan keluarga ya parents. Ingat keluarga yang tangguh bakal mampu melewati situasi pandemi ini sampai normal kembali. 

World Health Organisation (WHO) memberikan beberapa tips untuk menjaga kesehatan mental anak selama di rumah. Kalau anak kesehatan mentalnya terjaga, maka mereka akan lebih mampu menerima keadaan dan semakin betah di rumah bersama keluarga. Apa aja ya tipsnya? Yuk kita simak satu-persatu:

1.  Set aside time to spend with each child.


Atur waktu khusus untuk meluangkan momen berharga bersama anak. Cukup meluangkan waktu selama 20-30 menit untuk merencakan kegiatan seru bareng anak-anak. Bisa baca buku bareng, masak bareng, melukis bareng, atau membuat permainan yang kita rencanakan agar permainan jadi semakin seru dan bikin anak jadi punya challenge seru selama di rumah.

2. Ask your child what they would like to do


Biarkan anak memilih kegiatan apa yang ingin mereka lakukan. Memberikan kesempatan berharga bagi anak dapat meningkatkan kepercayaan dirinya sehingga anak bebas untuk bereksplorasi. Meskipun kadang apa yang mereka suka membawakan konsekuensi yang membuat parents bekerja lebih keras lagi. Misalnya anak suka membuat adonan roti dan membuat dapur menjadi sangat berantakan, atau bermain messy play yang membuat rumah menjadi kotor. Barangkali bisa bisa saja membereskan rumah berulang kali kapanpun kita mau namun kebersamaan bersama anak-anak tentunya tidak dapat terulang lagi kan. Tetap latih anak bertanggung jawab setelah bermain dengan bersama-sama membersihkan ruangan agar bisa bersih seperti semula ya parents.

3. One on one time.

One on one time artinya apa yang kita lalui hanya terjadi sekali seumur hidup. Momen berharga bersama anak adalah hal yang akan dilewati oleh anak dan tidak akan terulang kembali hingga mereka besar dan dewasa. Artinya membangun quality time bersama anak adalah momen yang sangat penting agar anak merasa lebih dicintai. 

Menciptakan rasa aman pada anak dengan membangun komunikasi produktif dalam keluarga dapat menciptakan rasa aman bagi anak. Artinya adalah parents perlu membangun komunikasi yang bagi satu sama lain. Jika mama dan papa sering bertengkar hebat, ini bisa melukai perasaan anak. Di saat seperti itu anak akan merasa terancam yang membuat mereka menjadi lebih cemas. Keharomisan mama dan papa adalah momen dimana anak akan merasa lebih tenang dan merasa dicintai oleh orang tuanya.

4. Switch off the TV and phone. This is virus free time!

Kondisi pandemi seperti saat ini seringkali memicu diri untuk terus mencari tahu informasi seputar COVID. Jika ini terus dilakukan tanpa waktu dan resource yang kredibel, hal ini dapat berdampak kepada kondisi psikologis yang memburuk. Kita akan mengalami rasa takut berlebih sehingga dapat menganggu waktu kita bersama keluarga. Tetaplah fokus untuk membersamai keluarga dan menaati peraturan yang ada. Hal ini jauh lebih membuat kita lebih sehat secara fisik dan mental sehingga virus pun tidak mudah untuk menyerang imunitas tubuh kita. 

5.  Listen to the, look at them. Give them your full attention. Have fun.


Seringkali kesibukan orang tua dapat mengalihkan seluruh perhatiannya dari anak-anak. Memang sejatinya parents bekerja semata-mata untuk menafkahi keluarga dan memberikan kesejahteraan bagi anak di masa yang akan datang. Namun jika sampai pekerjaanmu dan melalaikan waktu bersama anak, maka itu akan jauh lebih buruk dan menjadikan apa yang kita kerjakan berasa sia-sia. Selalu mencoba mendengarkan apa yang anak bicarakan dengan sungguh-sungguh. Beri pemahaman ke anak jika kita sedang ada kerjaan tanpa melukai perasaan anak. Maka anak akan tumbuh menjadi anak dengan penuh cinta dan kasih sayang dari orang tuanya. 

Nah, dengan kelima tips dari WHO itu, semoga anak kita bisa tetap betah di rumah dalam situasi seperti ini ya parents. Terus bangun kekompakan keluarga agar anak jadi betah dan menjadikan keluarga sebagai tempat ternyaman dalam hidupnya :)

#BPNRamadhan2020
#BPNRamadhanChallenge
#BloggerPerempuanNetwork
#BPNRamadanChallengeDAY8

THE NEW NORMAL SETELAH PANDEMI BERAKHIR


Lima bulan sudah dunia diguncang dengan kesemrawutan akibat si mikroorganisme yang bernama Novel Corona Virus 2019. Virus yang dikabarkan awal mulanya muncul di Wuhan, China. Virus yang dikabarkan berbahaya dengan penularan yang begitu cepat. Seluruh negara begitu semrawut menangani kasus ini tanpa terkecuali negara-negara maju seperti Amerika, China, dan negara-negara di Eropa. 

Melihat negara maju pun tidak bisa luput juga dari kesemrawutan akibat pandemi ini, lalu bagaimana dengan kita yang tinggal di negeri berkembang? Semakin semrawut kah atau jangan-jangan tenang saja? Saya rasa sama saja. Terutama kebijakan yang dikeluarkan pemerintah yang tidak se suara merupakan bukti begitu semrawutnya negara kita menghadapi COVID ini. 

Dilarang mudik, tapi boleh pulang kampung. Dilarang keluar rumah, tapi masih ada yang nekat kerja keluar rumah. Lantas dengan adanya ke plin plananan ini, siapa yang pantas disalahkan? Rasanya tidak ada. Negeri kita tidak siap menghadapi pandemi ini. Ancaman kesehatan yang berimbas ke perekonomian, pendidikan, sampai ke sektor-sektor kecil lainnya yang tidak pernah kita prediksi sebelumnya.

Tahun ini pelaksanaan UN dibatalkan di seluruh Indonesia. Kelulusan siswa ditentuka oleh pihak sekolah. Tidak ada lagi pesta hura-hura bagi anak-anak lulusan SMA. Bahkan pendaftaran Perguruan Tinggi sudah mulai dilakukan secara online. 

Physical distancing terus digalakkan agar semua orang menghindari melakukan kerumunan. Mau keluar? Jangan lupa gunakan masker dan bawa hand sanitizer ya. Selalu cuci tangan sesering mungkin. Bisa jadi generasi anak-anak saya adalah generasi yang paling rajin cuci tangan dan begitu berhati-hati dengan kondisi kesehatan. 

Pandemi ini merubah manusia di berbagai aspek kehidupan. Dulunya kita gak begitu peduli sama cuci tangan, sekarang itu jadi kewajiban. Dulunya kita biasa kongkow bareng temen, sekarang kita terbiasa menjaga jarak dengan orang lain. Hingga akhirnya kita menciptakan habit yang baru dan itu dianggap normal. Let we say this is THE NEW NORMAL.

Dilansir dari Wikipedia.com, New Normal merupakan istilah yang mengacu pada kondisi setelah krisis keuangan yang digunakan untuk menyiratkan bahwa seuatu sebelumnya tidak normal telah menjadi biasa. 

Sebagai seorang konsultan Parenting & Pendidikan, saya sering membayangkan jika new normal ini akan berimbas pada kondisi psikologi anak terutama remaja. Remaja yang sedang melewati masa di mana peer group sebagai tempat nyaman bagi kesejahteraan mereka, terpaksa harus melewatkan waktu berbulan-bulan tanpa kehadiran teman-teman sebayanya. It is really hard, bored, and frustated. 

Anak-anak pra sekolah yang memerlukan aktivitas motorik yang banyak, kini segala aktivitasnya terbatas hanya dalam ruangan rumah saja. Saya yang memiliki anak-anak balita ini sempat terbesit jika pandemi ini usai, apa yang akan terjadi pada anak-anak saya? Akankah mereka tetap bersemangat setiap kali kita ajak keluar rumah?

Selama dua bulan di rumah saja, anak saya yang usianya 3,5 tahun masih selalu bersemangat menanyakan kapan kita naik pesawat lagi,

"ma, pa, nanti kita naik pesawat ke rumah apin ya:
"ma, nanti kita ke Singapore lagi ya sama mbak Archy, adek, mama, papa"
"ma, ke rumah apin yuk ma"

Bermain peran berpergian adalah salah satu permainan favorite yang sering dimainkan anak-anak selama di rumah. Bisa jadi 2 bulan ini mereka masih tetap ingin menikmati suasana di luar. Tapi bagaimana jika ini berlangsung selama sekian lama? Ya semoga tidak akan berlangsung lama. 

Kita perlu menyeimbangkan hidup antara di rumah dan luar rumah. Its good for their mental health. Anak-anak akan lebih mudah mengekspresikan diri ketika di luar. Anak-anak dapat melepaskan rasa ketakutan dan kecemasan bertemu dengan orang. 

Yah semoga the new normal ini akan terjadi pada habit yang baik dari pandemi ini. Kita butuh anak-anak yang sehat secara mental untuk masa depannya yang lebih baik. :)

#BPNRamadhan2020
#BPNRamadhanChallenge
#BloggerPerempuanNetwork
#BPNRamadanChallengeDAY7

Tuesday, 28 April 2020

FUNGSI MASKER SELAMA PANDEMI DI BULAN RAMADHAN


Selama pandemi, kita diwajibkan untuk menggunakan masker penutup wajah untuk menghindari dari penularan virus kepada orang lain. Bagi yang sehat disarankan menggunakan masker kain yang masih bisa dicuci ulang agar tetap waspada terhadap penularan virus. Bagi yang sakit diwajibkan menggunakan masker medis agar tidak berpotensi menularkan virus kepada yang sehat.  Sebaiknya setiap kali keluar rumah masker harus selalu digunakan dan juga diimbangi dengan rutin mencuci tangan dengan sabun antiseptik. 

Menjelang puasa Ramadhan, masa pandemi masih terus berlangsung dan semuanya tetap disarankan #dirumahsaja sampai kondisi saat ini berangsur membaik. Tidak ada lagi buka bersama yang biasa dilakukan oleh banyak orang setiap kali berbuka Ramadhan. Sedikit juga orang yang pergi ke masjad dan memilih untuk melaksanakan salat Tarawih di rumah. Meski demikian, tetap jangan lupa gunakan masker ya setiap kali keluar rumah.

Menariknya, penggunaan masker di bulan yang penuh suci ini memiliki banyak manfaat bagi kita. Selain berfungsi untuk menangkal virus Corona masuk ke tubuh kita, tapi juga berfungsi untuk menangkal hal-hal yang membatalkan puasa. Lah kok bisa? Bisa aja donk.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Utdzh.Sheila Ardiana, Lc., hal-hal yang membatalkan puasa terbagi menjadi 2 yaitu: Muhbithat dan Mufathirat. Yuk kita simak penjelasannya satu persatu:

1. Mufathirat

Mufathirat adalah yang membatalkan puasa sehingga puasanya tidak sah dan wajib mengqadha atau mengganti. Hal-hal tersebut antara lain; murtad, gila, haid dan nifas, mabuk atau pingsan, jima (bersetubuh), mengeluarkan mani dan muntah dengan sengaja. Jika hal itu terjadi pada kita, maka puasanya batal dan wajib mengganti. 

2. Muhbithat

Muhbitat adalah hal yang membatalkan pahala puasa meskipun puasanya sah dan tidak wajib mengqadha, namun tidak mendapatkan pahala. Sebagaimana hadits dibawah ini disebutkan:

خَمْسٌ يُفْطِرْنَ الصَّائِمَ: الْكَذِبُ وَالْغِيْبَةُ وَالنَّمِيْمَةُ وَالنَّظَرُ بِشَهْوَةٍ وَالْيَمِنُ الْكَاذِبَةُ. رواه الديلمي في الفردوس
“5 hal yang membatalkan pahala puasa: kebohongan, ghibah, adu domba, melihat dengan syahwat dan sumpah palsu”.

قَالَ  كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوْعُ وَالْعَطَشُ رواه أحمد وابن ماجه.

Rasulullah Saw bersabda: “betapa banyak orang yang berpuasa tapi hanya mendapatkan rasa lapar dan haus karena puasanya (tanpa mendapat pahala)”. 

Dari hadits tersebut dapat disimpulkan bahwa hal-hal yang menghilangkan pahala saat berpuasa antara lain adalah: 
  • Ghibah, alias gosip membicarakan tentang keburukan seseorang meski perkataanya benar
  • Namimah, mengadu domba
  • Berbohong, termasuk menyebar berita HOAX
  • Melihat kepada sesuatu yang haram juga yang halal, namun dengan pandangan yang penuh syahwat dan menikmati pandangan tersebut
  • Melakukan sumpah palsu
  • Bebuat dan berkata dusta
Dengan penjelasan diatas, sejatinya saat berpuasa kita bisa menghindari hal-hal tersebut agar pahala puasa kita tetap utuh dan lebih berkah. 

Masker sejatinya berfungsi sebagai penutup. Jadi gunakanlah masker untuk menutupi mulut kita dari ghibah, mengadu domba, sampai menyebarkan berita bohong. Jika perlu, tutuplah jemari tanganmu dari hal seperti mengetik status yang bertujuan untuk membicarakan orang lain, mengadu domba, menyebar berita yang belum kita ketahui kebenarannya. Baik ini semua ditujukan kepada teman kita, saudara kita, bahkan pemerintah. Sebisa mungkin harus kita hindari. 

Masa pandemi yang penuh dengan kekacauan ini memang lebih mendorong diri kita untuk menyebarkan berita hoax, mencaci maki pihak tertentu, sampai mengadu domba yang menimbulkan kebencian dan kekacauan. Saling menyalahkan satu sama lain, sampai menghabiskan waktu dengan menonton tontonan yang mengundang syahwat karena waktu kita banyak kita habiskan di rumah. Naudzubillahimindzalik.

Jadi meski selama puasa di rumah aja dan kita menjalankan social distancing, sebisa mungkin hal-hal tersebut dapat kita hindari. Alihkan dengan menulis, membaca Al-Qur`an, beribadah yang lain, sehingga memfokuskan diri kita dengan hal-hal yang bermanfaat. Buatlah target khatam Al-Qur`an selama sebulan ini. Jadi saat kita ngerasa gak ada kerjaan di rumah sambil nunggu bedug, mending kita isi dengan hal-hal yang mendatangkan banyak keberkahan dari Allah SWT. 

Semoga kita dilimpahkan amal ibadah yang bermanfaat di bulan yang penuh berkah dan ampunan ini ya :)

#BPNRamadhan2020
#BPNRamadhanChallenge
#BloggerPerempuanNetwork
#BPNRamadanChallengeDAY6