Friday, 7 September 2018

SOUNDING SEBAGAI PEREKAT PROSES KOMUNIKASI PRODUKTIF



Ini adalah hari keduaku kembali mengajar perkuliahan di tahun ajaran baru. Namun kali ini aku tidak akan lagi membawa Archy. Kuamati di hari pertama mengajaknya belajar, ia tampak begitu letih meskipun menunjukan raut bahagia. Lagipula aku akan lebih optimal mengajar meskipun ia tidak banyak rewel. Dan pertimbangan lainnya adalah usia kehamilanku yang sudah berada di minggu ke 37 membuatku terasa letih jika harus pontang-panting membawanya pergi.

Baiklah, selanjutnya aku akan kembali menitipkan nek ine-nya sebentar selama belajar. Alhamdulillah rumah kami berdekatan dengan rumah mertua sehingga kami banyak dibantu ibu mertua selama kami bekerja. Lagipula saya yang berstatus dosen luar biasa tidaklah setiap hari pergi ke kampus, jadi hanya sesekali kami menitipkan Archy ke ibu mertua.
Malamnya, aku mulai sounding Archy saat ia mulai terlelap tidur. Kubisikan di telinganya sambil mengelus kepala Archy,

“Archy, jadi anak yang baik ya nak. Besok mama ke kampus lagi sebentar. Archy di rumah sama nek-ine aja ikut nek-ine ngaji. Kasian kalo Archy ikut mama nanti Archy capek. Jadi anak solehah ya sayang..”

Ucapku lirih di telinganya sambil membacakan doa lalu meniupkanya di ubun-ubun kepala. Bagi saya, membacakan Archy buku cerita, membacakan doa, dan men-soundingnya di malam hari merupakan aktivitas yang seupaya mungkin saya dan suami lakukan untuk membangun kelekatan dengan Archy. Dengan itu kami dapat membangun budaya baik yang dapat kita lakukan sebelum tidur.

Keesokan harinya, seperti rutinitas keseharian saya dan suami membagi tugas di pagi hari. Suami memandikan Archy dan mengajaknya sarapan, semetara saya bertugas mengurusi urusan dapur dan mengupayakan rumah bersih sebelum kami tinggal pergi. Setelah Archy selesai mandi dan makan, suami siap mengantarkanya ke rumah nenek. Kemudian ia berpamitan dengan saya. Saya selalu berupaya memposisikan tubuh saya untuk sejajar disaat berbicara dengan anak sambil melakukan kontak mata.

“Archy, mau ngaji sama nek ine ya..selamat belajar ya nak..salim dulu…”
“iya ma, mikuum (assalamualaikum)..”
“walaikumsalam..”

Alhamdulillah, hari ini ia sudah mulai enjoy saya tinggal pergi. Sekarang saya bisa mempersiapkan diri untuk pergi ke kampus bersamaan dengan suami pergi ke kantor.
Usai mengajar, saya jemput Archy di rumah nek ine. Rupanya ia baru bangun tidur. Saya sudah penasaran cerita Archy selama mengaji.

“ Gimana tadi ngaji sama nenek chy?”
“ Archy pinter ma..tadi sempet gak mau ikut. Tapi ibuk gendong sambil diliatin perosotan di TPA Alhamdulillah langsung lupa nangis. Ada yuk sofi juga jadi dia tadi maen sama yuk sofi..”ujar ibu mertua melaporkan kegiatan Archy saat ngaji.
“Wah Alhamdulillah hebat ya Archy..tadi maen sama yuk sofi ya nak..”
“Iya..sowat (solat)”
“ooo.. paraktek solat ya tadi…pinter”
Pujiku sambil mencium pipinya.

“Tadi diajakin pipis gak mau…baru sambil dipuji anak pinter, anak solehah, yuk ke kamar mandi..eh baru mau..kalo cuman dibilang yuk pipis chy gak mau dia” kata ibu mertua selama melatih Archy toilet training. Alhamduliilah, sudah hampir 2 minggu ini Archy lepas pampers, dan bersyukurnya ibu mertua mendukung proses TT archy selama saya tinggal.
Saat mengajaknya pulang ke rumah, Archy bergegas memakai tas ransel yang masih saya bantu pakaikan dan ingin membantu memakai sepatu.

“Gak usah dibantu ma, tadi udah pinter pake sepatu sendiri kok. Ayo Archy gimana pake sepatunya..ayok duduk dulu..” ujar ibu mertua sambil meminta Archy duduk supaya mudah memakai sepatu. Saya terkadang malu jika masih belum konsisten membiasakanya mandiri. Alhamdulillah begitu bersyukurnya ibu mertua mengingatkan dan mengajarkan banyak hal proses belajar yang baik untuk Archy.
Beberapa detik kemudian Archy sudah bisa memasang sepatunya.

“Alhamdulillah..pinter ya nak. Yuk pamit dulu sama nenek Archy mau pulang. Salim dulu…”
“Mikum (assalamualaikum) nek…” kata Archy ceria.
“walaikumsalam…”

Begitu leganya hari ini melihatnya tetap bahagia dan semakin pintar meski harus saya tinggal pergi sebentar. Memang kekonsistenan dalam membangun budaya berkomunikasi yang baik pada anak merupakan suatu milestone yang menunjang proses perkembangan anak. Saya begitu bersyukur memiliki lingkungan keluarga yang mensupport proses ini terutama ibu mertua saya. Suasana hati seorang ibu yang terkadang masih dikuasai oleh amarah, memaksakan diri kita untuk awas diri supaya tidak terbawa emosi saat berkomunikasi.

Sama halnya ketika malam itu sebelum mensounding Archy, suasana hati saya sedang tidak enak lantaran asisten rumah tangga saya mendadak resign dalam berbagai macam alasan. Berdiskusi dengan suami dan kembali mengadirkan mindset positif merupakan upaya saya supaya tetap menjaga kewarasan dan tidak terlarut lama dalam emosi negatif. Ada kalanya dalam proses ini saya masih terbawa dalam komunikasi yang tidak produktif, namun yang terpenting adalah evaluasi diri dan kembali konsisten dalam membangun komunkasi produktif dengan anak.
#harikedua7sept
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional





Thursday, 6 September 2018

ADA DOSEN CILIK DI HARI PERTAMA KULIAH



Hari ini adalah hari pertamaku kembali mengajar ke kampus setelah liburan semester yang cukup lama. Kondisiku yang tengah hamil tua dan kondisi anaku Archy yang belum mau dititipkan pada hari pertamaku mengajar, membuatku memberanikan diri untuk mengajar sambil membawa Archy selama perkuliahan berlangsung. Memang awalnya cukup berat. Karena takut tidak dapat menyampaikan materi  secara optimal selama pembelajaran berlangsung. Namun ini adalah amanah yang tetap harus dilaksanakan. Khususnya amanah menjaga anak. Ya Allah..semoga Engkau mudahkan jalan bagi kami.

Sebenarnya mertua saya sudah menawarkan kepada saya untuk menitipkan Archy selama mengajar.  Namun saya bilang kalo Archy akan ikut pada pertemuan pertama saja. Karena setelah itu saya akan cuti melahirkan dan lebih banyak mengajar dengan system e-learning yang akan saya terapkan pada dua mata kuliah yang saya ampu pada semester ini. Selain itu semalam saya mencoba berunding dengan Archy,
“
Archy, besok mama mau ke kampus. Archy ikut ngaji sama nek ine ya..”
“Iya mama..” jawabnya lirih

Keesokan paginya saya berbagi tugas dengan suami untuk menyelesaikan urusan rumah dan anak sebelum beragkat ke kantor. Suami bertugas memandikan Archy dan mengajaknya sarapan. Sementara saya bertugas memasak dan membersihkan rumah selama di tinggal. Keadaan yang cukup rieweh mencobaku untuk tetap berupaya menstabilkan emosi supaya pagi ini saya mendapatkan mood yang bagus. Sambil memakaikan Archy baju, saya kembali bilang sama Archy,

“Archy, mama mau pergi ke kampus. Papa ke kantor. Archy ngaji sama nek ine ya..”

Rupanya jawabnya tidak sesuai dengan kalimat semalam. Ia terdiam sambil memejamkan matanya. Kemudian ibu mertua datang ke rumah untuk menjemput Archy. Tapi Archy tidak mau. Kami tawarkan lagi,

“Archy mau ikut nenek ngaji apa ikut mama papa?”
“mama papa” jawabnya singkat.

Kita memang sudah mempersiapkan opsi kedua jaga-jaga jika Archy memang tidak mau ikut neneknya. Untuk selanjutnya, kami akan berupaya mensounding Archy supaya mau ditinggal bentar sama nenek, dan saya dapat kembali focus menyampaikan materi tanpa harus membawa Archy lagi. Akhirnya kami memutuskan untuk membawa Archy untuk saat ini.
Selama di perjalanan, saya bilang ke Archy sambil memintanya untuk menatap mata saya,

“ Archy, lihat mama. Archy kan hari ini ikut mama ke kam..pus. Archy jadi anak yang baik ya. Bantu mama gak rewel di kelas ya sayang..”,
“Iya mama…” ucapnya lirih. Ia memang masih berusia 2 tahun. Namun saya yakin dia sudah mulai memahami akan kondisi yang mamanya harapkan. Memang belum tentu, tapi saya harus tetap yakin akan hal itu.

Ternyata betul, berkat the power of yakin, Archy masih tetap bisa dikondisikan selama menemani saya belajar. Ia duduk disamping saya sambil sesekali melihat video di laptop dan sesekali mencorat coret buku yang sudah saya sediakan. Saya masih bisa menyampaikan kontrak belajar dengan baik dan dapat diterima oleh mahasiswa saya.
Akan tetapi semakin lama Archy mengalami kebosanan. Ia mulai berteriak dan minta bertemu papanya. Saya bilang ke dia,

“Archy ngantuk ya nak. Sabar ya sayang, habis ini kita ke kantor papa” ucap saya sambil tersenyum. Kondisi tenang rupanya menjadikan saya mampu mengontrol kemarahan Archy dan Alhamdulillah sampai perkuliahan selesai dia tidak banyak rewel.
Kemudian saya dan Archy pulang ke kantor papa terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah.

“Gimana Archy rewel gak ma?”
“Alhamdulillah masih terkondisikan. Makasih ya sayang sudah jadi anak yang baik hari ini” Ujarku sambil mencium pipinya.
"Wah ada dosen cilik tadi ya nemenin mama ngajar" ujar papa sambil tersenyum.
Hari ini sukses jadi dosen cilik menemani mama mengajar ya nak..big hug for my little Angel..Archy.
#haripertama6sept
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
institutibuprofesional



Tuesday, 4 September 2018

NHW #1 bunda sayang: ADAB MENUNTUT ILMU X COC


Bagi saya sebagai seorang ibu, saya memiliki peran yang besar dalam membangun peradaban di dalam keluarga. Ibu merupakan tiang Negara guna membangun generasi penerus yang handal dan berakhlak mulia. Maka sejatinya seorang ibu hendaklah bertanggunng jawab dan wajib untuk mengupgrade diri dan perlunya evaluasi untuk menjadi figure keluarga yang diharapkan.  Oleh sebab itu, menekuni ilmu di kelas BUnda Sayang merupakan upaya saya untuk dapat mengupgrade diri menjadi ibu yang mampu membangun budaya yang baik dalam keluarga. Karena pada dasarnya budaya dalam keluarga muncul dari sikap-sikap orang tua terutama ibu dimana sikap dan perilakunya selalu menjadi contoh bagi anak-anaknya. 

Berbicara tentang strategi menuntut ilmu, ada baiknya kita tetap terfokus pada ilmu atau bidang ilmu yang sedang kita geluti atau tekuni.  Adapun strategi menuntut ilmu yang akan saya rencanakan pada bidang yang saya tekuni adalah antara lain sebagai berikut:

  1. Fokus pada goal atau tujuan kita belajar. Jika kita focus pada tujuan, maka kita akan menikmati proses yang kita jalankan. Pada kelas bunda sayang ini, tujuan saya adalah menjadi figur yang mampu membangun budaya yang baik untuk keluarga saya terutama anak-anak. Maka saya harus konsisten menjalankan proses agar terbentuk sikap yang mendukung pencapaian akan tujuan kita.
  2. Konsisten. Budaya yang berlaku dalam suatu keluarga tidak akan terbentuk tanpa adanya perilaku yang dilakukan terus menerus atau scara konsisten. Contohnya adalah ketika kita membangun budaya disiplin di rumah, maka kita harus membiasakan ontime dalam situasi dan kondisi apapun. Semisal membiasakan disiplin gosok gigi sebelum tidur, maka kita harus melaksanakanya meski anak atau ortu dalam keadaan mengantuk dan enggan beranjak di kamar mandi. Konsisten merupakan kunci utama keberhasilan atas segala tujuan yang ingin kita capai.
  3. Melakukan perencanaan. Perencanaan bagi saya adalah suatu hal yang tidak pernah terlepas dari rutinitas keseharian saya. Setiap hari saya selalu memajang to do list yang saya tulis besar di white board. Hal tersebut semata supaya dapat mengarahkan aktivitas sehari-hari kita menjadi aktivitas yang bermanfaat dan berkualitas. Serta memudahkan kita untuk dapat focus pada tujuan yang dicapai. Dengan menulis perencanaan kita juga dapat melakukan evaluasi diri manakah kegiatan yang sering kita lewatkan, apa saja kendala-kendala yang terjadi selama pelaksanaan, dan lain sebagainya
Berdasarkan pemaparan strategi diatas, maka diharapkan saya mampu memperbaiki sikap untuk menunjang proses mencari ilmu agar berjalan dengan baik. Sejujurnya banyak sekali sikap yang semestinya harus saya perbaiki untuk menjalankan strategi ini. Salah satunya adalah konsistensi. Sebagai seorang ibu yang memiliki (mau) dua anak, dan berprofesi sebagai seorang dosen honor, terkadang saya merasa lelah untuk bisa konsisten dengan perencanaan yang saya buat. Meski waktu dan konsisinya adalah fleksibel, namun saya merasa bahwa saya harus tetap persisten untuk bisa mencapai tujuan yang diinginkan. Asalkan semua dijalankan dengan bahagia dan tidak terpaksa. Maka perlu bagi saya untuk bisa mengatur waktu dengan baik agar saya dapat konsisten menjalankan tujuan yang ingin saya capai. 

RESUME STUDI KASUS WAG DAN PEER GROUP
Sejujurnya saat diskusi di peer group saya cukup tertinggal banyak karena kondisi saya yang belum memungkinkan untuk ikut berdiskusi di dalam grup. Namun saya mencoba mengambil intisari dan menambahkan hasil dskusi dari PG 2. Diantaranya adalah: dalam proses menuntut ilmu di kelas bunda sayang, fasilitator merupakan pembimbing yang patut kita hormati selayaknya guru. Karena fasilitator sudah banyak mengorbankan waktunya demi keberlangsungan kegiatan di kelas. Oleh sebab itu sebagai peserta hendaknya kita dapat menyampaikan argument yang sopan dan baik kepada fasilitator, menjalankan prosedur yang telat disepakati bersama dengan fasilitator, serta menjalin hubungan dan komunikasi yang baik dengan fasiltator. Ada baiknya apabila kita mengalami kendala atau kesulitan kita dapat komunikasikan dengan fasilitator agar fasilitator dapat memaklumi dan memberikan masukan kepada kita selaku perserta. Hal itu juga dapat melatih kita untuk bisa berempati serta menghargai seorang pembimbing, karena pada suatu saat nanti kita akan menjadi seorang pembimbing yang dapat mengarahkan peserta didik kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Tuesday, 7 August 2018

Our First Family Camp bersama KEMAH KELUARGA INDONESIA area SUMSEL


Minggu yang lalu, tepatnya tanggal 14 Juli 2018 kami sekeluarga ikutan kemah di sekolah alam indonesia, bukti siguntang , palembang, yang diselenggarakan oleh komunitas kemah keluarga indonesia (K3I). Ini adalah kopdar pertama untuk wilayah sumsel sekalian peresmian K3I cabang sumatera selatan yang dihadiri langsung oleh komunitas K3I, om Chepy dari jakarta. Saya emang udah kepingin banget bisa kemah sama paksu dan anak-anak. cuman bingung kalo udah berkeluarga gini nentuin waktu dan tempatnya suka gak sinkron. Belum lagi perlengkapan kemahnya kita gak punya sama sekali. Beruntunglah dengan adanya komunitas ini keinginan kami terwujudkan. Kita jadi tau persewaan alat kemah yang bisa di sewa selama kegiatan kemah berlangsung, dan juga waktu dan tempat sudah ditentukan oleh panitia jadinya kita tinggal terima jadi alias langsung daftar aja jadi peserta kemah.

Kalo mamanya archy sejak jaman gadis mah udah rajin ikutan kemah, tapi kalo papanya archy ini adalah yang pertama kalinya. Jadi ngebujuk papanya archy buat ikutan kemah itu butuh usaha ekstra hahahaa...alhamdulillah akhirnya mau juga dan dia jadi ketagihan pengen ikutan lagi...yeahhh mission complete :D.

Ok, berhubung ini kemah perdana, lokasinya masih sebatas di perkotaan dulu. Tepatnya di sekolah alam. Kebetulan beberapa ortu yang ikut kemah memang menyekolahkan anaknya di sekolah alam ini. Jadi untuk perijinan tempat lebih mudah. Semua logistik disiapkan oleh masing-masing anggota keluarga. Untuk kemah perdana sumsel ini, total keluarga yang ikut ada 10 keluarga. Jadi lumayan rame loh, belum mereka bawa anak dan ada juga yang bawa keponakan dan adek. Ada yang datang dari baturaja dimana perjalanan ke palembang memakan waktu kurang lebih 5 jam. Ada juga yang datang dari sembawa, banyuasin. Dan lebih kerenya lagi, ketua komunitas cabang sumselnya, om Muhlis, bekerja di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Jadi kemaren yang datang duluan anak dan istrinya. Om muhlisnya baru datang sore dari NTB. Sampe Palembang langsung ikutan kemah. Wih...perjuangan bener ya. Banyak juga beberapa yang anaknya masih bayi, paling kecil usia 8 bulan. Jadi archy bukan anggota termuda waktu kemah kemaren. Masih ada yang lebih bayi lagi hehehee...

Untuk perlengkapan tenda, kami pinjam dari sekolah tempat kami kemah. Kebetulan mereka ada tenda dome dan disewakan dengan harga seikhlasnya, karena memang pasaknya banyak yang bengkok hahaa..jadinya kita gak bisa kalo mau dirikan tenda sendiri. Harus didirikan sama guru disana hehe..gapapa lah yang penting masih nyaman di pakai dan enak buat tidur. Matrasnya kita sewa di Edelweiss Store, toko perlengkapan outdoor di Palembang. Cuman kita nitip temen jadi langsung dibawakan ke lokasi. Kukira matrasnya yang matra empuk itu, gak taunya matras kayak kita pakai buat yoga. Pantes murah seharinya satu matras disewakan dengan kisaran 3 ribu rupiah hh..tau gitu mamak bawa efamatnya Archy aja yang ada di rumah.

Berhubung kita kemah di kota yang cenderung udaranya panas, jadi kita gak ada yang bawa sleeping bag buat tidur. Saya cuman bawa badcover buat alas tidur. Itupun saran dari anggota keluarga yang sudah biasa ikutan kemah baik di udara dingin dan panas. Jadi alhamdulillah, segala macam logistik dan konsumsi selama kami kemah tercukupi. Ada kantin juga di sekolah, dan masih bisa order go food bagi yang pengen makan makanan luar hahaha.. kalo saya mah sengaja masak dari rumah biar ngirit dan kalo laper tinggal makan aja.

Untuk acara kegiatan selama kemah, dimulai dari hari sabtu jam 12 siang. Jam 12 masih banyak keluarga yang datang buat dirikan tenda. Malah ada yang baru datang sore juga. Sorenya setelah solat Ashar, ada Fun game yang dipimpin oleh om Chepy sebagai fasilitator game. Game ini bertujuan untuk saling mengenal satu sama lain dan mempererat persaudaraan antar anggota keluarga. Game pertama ditujukan untuk para orang tua, game selanjutnya khusus untuk anak-anak. Seru banget dan anak-anak happy ketemu teman baru dan bisa bermain outdoor sesuka hati. Selepas game, acara bebas. Ada yang mandi, masak untuk persiapan makan malam, dan anak-anak sebagian bermain pasir di area permainan sekolah. Jelas Archy juga gak mau ketinggalan kalo temen-temenya pada maen kotor-kotor, pasti ikutan nimbrung juga maenan pasir. Semua orang tua disini sangat demokratis dalam memberikan kebebasan anaknya bermain. Saya yang baru saja kenal mereka juga merasa nyaman karena kami semua memiliki beberapa kesamaan persepsi dalam mendidik anak.

Usai solat maghrib, acara selanjutnya adalah makan malam ala liwetan. Jadi makanya diatas daun pisang bersama-sama. Para ibu-ibu yang banyak turun tangan untuk menata nasi, lauk, dan sayur untuk disajikan diatas daun pisang. Makan terasa nikmat dan hangat karena kekeluargaan kami semakin terjalin erat. Tapi sayangnya kalo sudah liwetan, banyak nasi yang terbuang karena kebanyakan. Untunglah sekolah punya binatang ternak supaya sisa makananya bisa dimanfaatkan dan tidak terbuang sia-sia di TPA. Duh lain kali mendingan liwetan itu nasi lauknya pada ambil sendiri-sendiri aja ya biar gak mubadzir.

Lanjut setelah makan, kita bersih-bersih lokasi makan kemudian dilanjutkan dengan solat isya berjamaah. Usai solat isya, kegiatan selanjutnya adalah malam keakrabaan sambil ditemani oleh api unggun. Kita saling mengenal lebih dekat dengan anggota keluarga lain. Banyak orang tua yang senang bisa berkemah dengan anak-anaknya karena mereka bisa membangun kelekatan dengan anak, selain itu sebagai upaya ortu untuk mengistirahatkan anak dari gadget. Nah, ini banyak ortu yang menyadari kalo gadget sudah banyak menyita waktu bersama mereka dengan anak. Dengan kegiatan seperti ini anak lebih excited dengan permainan2 alam dibandingkan dengan gadget. Saya salut sama para ortu disini yang mengupayakan kegiatan supaya anak-anaknya tidak teradiksi dengan gadget. Anak sehat secara mental karena mereka bermain bebas, bersosialisasi, dan belajar mencintai alam sekitar yang sangat perlu kita lestarikan. Usai makrab, acara selanjutnya adalah tidur malam. Meski ada yang melanjutkan dengan pesta duren, tapi kami sekeluarga memutuskan untuk segera tidur. Maklum, Archy saking senenganya dari pagi sampai malam lupa ngantuk lupa tidur. Jadi saatnya dia harus tidur supaya paginya tetap fresh dan bisa bermain lagi.

Minggu pagi, kegiatan diiisi dengan senam pagi lalu dilanjutkan dengan sarapan. Setelah sarapan kita operasi semut dan persiapan untuk pulang. Rasanya 2 hari begitu cepat bagi kami terutama bagi anak-anak. Mereka mendapatkan banyak hal yang jarang mereka dapatkan ketika di rumah, khususnya yang tinggal di perumahan kayak saya. Archy bebas bereksplorasi, bermain messy play, maen sensory langsung dengan rerumputan dan pasir-pasiran. Gak perlu maen pasir kinetik lagi yang harus lari ke mall. Jadi bolehlah kalo mengagendakan kemah bersama keluarga seenggaknya setahun sekali. Tunggu adek Archy launching dan udah gede baru kita ikutan kemah lagi hehe..

Ini dia beberapa dokumen foto Family Camp yang kita ikuti. Kalo ada yang berminat, silahkan join atau search d google komunitas kemah keluarga indonesia ya..nanti ada grup per regional untuk agenda bulannanya..semoga bermanfaat :)









Sunday, 29 July 2018

MENGULAS POLA MAKAN SEHAT ALA “EATING CLEAN”: DARI DR.TAN SAMPAI INGE TUMIWA


Sebenarnya saya sudah mengenal buku eating clean karya mbak inge sejak tahun 2016. waktu itu temen saya posting di ig kalo bukunya rekomen banget untuk pola makan sehat. Tapi kebetulan di rumah abah ibu, kami sedang menerapkan pola hidup ala dokter tan. Ditambah lagi masih banyak majalan bertebaran di rumah tentang food combining dari andang gunawan. Jadinya saya masih urung buat kepo bukunya mbak inge. Secara, yang terpenting dalam mengatur pola makan sehat itu bukan teorinya, tapi penerapanya yang dilakukan secara konsisten. Percuma juga sih cuman dilakukan sepekan dua pekan habis itu kembali ke pola hidup sebelumnya. Tapi akhirnya saya jadi excited sama eating clean karena sudah banyak menegur dan mengingatkan saya pada banyak hal.


Waktu tinggal di rumah abah ibu sambil S2, saya merasa cukup termotivasi buat ngerubah bad habit ke pola hidup sehat karena orang tua saya juga sedang menerapkanya. Ya meskipun gak 100 persen juga, hehee.. misalnya abah gak membiasakan make AC di mobil kalo gak kepepet banget dan sengaja gak pake pewangi buatan di mobil karena alasanya segala sesuatu yang terbaik untuk tubuh adalah segala hal yang alami, bukan dari buatan pabrik. 

Udara yang kita hirup alami, Wangi yang diciptakanpun seharusnya alami bukan dari pengharum ruangan buatan pabrik. Kata abah banyak orang arab yang usianya pendek salah satunya karena dampak AC hii..Sebenarnya agak menyiksa juga antara nuduh abah perhitungan biar bisa ngirit bensin mobil dan gak perlu ganti pengarum mobil wkwkw (sadis ya gue). 

Untuk makan, ibu yang paling setiti masalah pola makan. Sejak dulu ibu selalu nerapin makan sayur setengah porsi piring dan selebihnya diiisi lauk dan sangat sedikit nasi. Di rumahpun sejak saya SMA, kami sudah mengkonsumsi nasi merah meski kadang dicampur nasi putih biar gak enek banget. Abah gak pernah konsumsi gula juga, jadi hampir gak ada gula di rumah kecuali disediakan kalo ada tamu. Di rumah gak ada yang namanya makanan pake olahan santan. Buah lokalpun selalu wajib tersedia di meja makan.

Kadang saya juga heran, 20 tahun lebih abah hidup di luar negeri, tapi abah gak doyan makanan ala-ala barat. Meski kadang bikin sendiri sesekali. Abah gak pernah makan sejenis pizza, hot dog, teriyaki, dsb. Yang abah paling doyan adalah makanan apapun yang dimasak ibu terutama makanan khas Sumbawa. Udah deh, berasa lupa daratan kalo udah makan singang dan sepat eww..dan kadang dengan sadisnya saya suka nyindir kalo abah terlalu kolot. Masak diajakin ke resto makanan western aja nolak, malah milihnya nasi padang . Ya seperti biasa beliau berdalih,” loh kamu ni kayak bukan orang muslim aja. 

Kalo kata ibnu khaldun, makanlah makanan pakai bahan makanan yang ada di sekitarmu. Karena proses metabolismenya lebih bagus dari pada bahan makanan impor. Gak usah kemakan tren makan ini itu. Udah sarapan pake gudangan saja sama ayam. Yang penting jangan makan tempe terus. Makan daging itu ada ayam, ikan...” yayaya bah..langsung mingkem lah anakmu kalo udah skak mat gini. 

Tapi disisi lain, saya amat sangat bersyukur dilahirkan di keluarga yang sadar akan pola hidup sehat. Bukan hanya pola makan saja, tapi juga pola hidup zerowaste. Ibu udah biasa memilah sampah organik dan anorganik sejak dulu. Kita juga ada hewan ternak buat habisin sisa makanan yang gak kemakan, ada ayam dan lele. Mungkin juga karena kita tinggal di kota kecil alias ndeso jadi lingkungan juga mendukung. Entah gimana jadinya kalo saya hidup di perkotaan besar sejak kecil, mungkin lain cerita hehehee..

Ok, kita kembali ke pembahasan awal tentang eating clean. Setelah selesai studi, saya kembali ke Palembang hidup d rumah sendiri bersama suami dan anak. Nah, ini jadi tantangan saya untuk bisa konsisten terhadap pola makan sebelumnya. Secara pola makan saya dan suami sangat berbeda. Suami sebenarnya doyan dengan semua makanan. Tapi sukanya ngajak jajan yang “enak-enak” dan suka request dibikinin yang manis-manis. Jadilah saya mulai tergoda dengan kebiasaan makan baru. Sering masak bersantan, banyak gorengan, jajan yang manis-manis, beli makanan dan minuman kemasan yang ternyata kandungan fluktosanya tinggi, lengkapp sudaahh... 

Belum lagi panasnya palembang menjadikan kita ketergantungan sama AC. Kalo di boyolali rumah pake AC itu dibilang rumah aneh. Orang tinggal di kaki gunung masak pake AC. Panas darimana cobak. Nah kalo disini, hampir semua rumah ada AC nya. Karena kalo gak, gerahnya luarr biasa. Belum lagi hamil kedua ini saya dibantu nyuci dan setrika sama asisten rumah tangga. Pantes aja, tiap kontrol kehamilah dokter kandunganya kaget. Normalnya bumil naek Bbnya per bulan 2-3 kg...nah ini saya pernah naek drastis sampe 5 kg lebih! akkkkk...dosa apakah saya... saya kayaknya selama ini pingsan. Makan semua berlemak, jarang olahraga..bener-bener merasa serba salah. 

Sampai pada akhirnya badan saya mulai begah dan merasa ada yang gak beres dari pola makan saya. Ya, meski rajin jalan setiap hari tapi asupan karbohidrat dan gulanya gak terkontrol tetep aja rasanya gak bugar. Kemudian saya mulai ubah sedikit demi sedikit. Makan pepaya tiap pagi pakai jeruk nipis dan madu. Segernya luar biasah. Tapi di rumah stok cokelat pasca lebaran masih berkedip manja. Ulala...sedikit demi sedikitnya seberapa...kumatnya seberapa. Baru akhirnya mulai bangkit dari pingsan lagi setelah ikut bedah buku eating clean mbak inge di gramedia world minggu yang lalu. Saya kayaknya gak boleh pingsan lagi. Harus melek betul buat kembali memperbaiki pola makan saya yang amburadul.

So, saya ingin sedikit mereview pembahasan tentang eating clean bersama mbak inge kemaren. Jadi, eating clean itu adalah bagaimana cara kita mengkonsumsi makanan sealami mungkin sehingga kandungan nutrisi dari makanan gak banyak kebuang. Ya, kurang lebih sama sih dengan filosofinya dr. Tan. Hiduplah sealami mungkin karena Tuhan sudah menciptakan sedemikian rupa untuk kebutuhan manusia, tanpa perlu diotak atik kembali. Pada dasarnya cara memasak makanan alami itu memang tidak perlu ribet. 

Pakai bumbu seadanya dan hanya menggunakan tiga metode yaitu: tumis, kukus, rebus.  Masak sehat itu yang caranya sederhana, resepnya sederhana. bahanya bahan lokal sesuai dengan kemampuan, kata mbak Inge begitu. Jadi gak perlu ribet ala-ala master chef numplekin bumbu ini itu karena yang terpenting adalah kandungan dari asupan makanan kita tetap utuh gaes.

Mbak inge juga support banget produk lokal. Makan itu gak usah cari bahan riweh dan merepotkan. Ngapain konsumsi makanan impor jauh-jauh kalo disekitar kita juga banyak makanan yang gak kalah kandungan gizinya. Contohnya aja beli ikan dori yang super mehong di supermarket. Helau, ikan dori itu ikan ternak, diciptakan oleh org vietnam buat diekspore di inggris. 

Sebenarnya ikanya banyak di palembang yaitu ikan patin yang berenang di sungai. Cuman kalo namanya patin dan ditunjukin moncongnya gitu orang luar kagak jadi beli. Makanya dibikin fillet lalu diekspor keluar. Kalo orang palembang yang punya sungai banyak lebih sering konsumsi ikan dori itu namanya lucu. Dori banyak dikasih antibiotik dan suplemen lainya. Sementara patin sungai hidup alami di sungai tanpa dikasih apa-apa. Tapi masalahanya yang dijual di pasar palembang juga banyakan ikan patin ternak lo mbak hahaa..miris ya.

Makan gak usah ribet, pake aja kearifan lokal yang ada. Lemak sehat yang paling murah di indonesia namanya alpukat. Mending pake minyak kelapa karena banyak olive oil yang dijual di indonesia itu palsu. makanlah segala macam makanan yang sudah dikrodatkan untuk dirimu. Ikan salmon itu  banyak di alaska karena mengandung lemak tinggi sehingga dapat menghangatkan tubuh, lah kita mau gaya2an tiap hari makan salmon tapi salju gak turun turun. 

Ikan perairan kita tidak kalah sehat omega 3nya dengan ikan salmon. Kayak ikan kerapu dan ikan gabus. Nah kalo ini saya sudah tau dari dr Tan juga. Justru malah ikan salmon yang masuk ke Indo itu udah gak fresh lagi. Mendingan makan ikan yang fresh aja langsung bisa dikonsumsi. Gimana buk ibuk, masih tergiur ngasih anaknya ikan momon? atau mulai memilih ikan kerapu? hehehee

Selain itu, yang paling ditekankan sama mbak Inge adalah hindari mengkonsumsi Gula berlebih . Gula dalam jenis apapun terutama gula buatan yang sering dikenal dengan Fluktosa. Ah, di rumah udah gak ada gula kok, aman ya berarti. Eh tapi tiap hari konsumsi susu kental manis, Jus kotak siap saji yang sering beredar di supermarket. Sarapan pake keju chee...r. Diet pake ngemil granola soyjoy dan mengganti minuman UHT biasa pake UHT yang low fat. Ternyata oh ternyata...susu UHT low fat itu kandungan fluktosanya lebih tinggi dibandingkan UHT biasa...Belum jus kemasan kotak itu, keju itu, dan granola ala-ala dietpun gulanya juga lumayan 10 gram. 


Jadinya mbak inge kasih simulasi gambaran konsumsi gula kita tiap hari kalo makan makanan yang gulanya gak nampak itu. Luar biasa...sehari bisa konsumsi 100 gram setara dengan 1 gelas loh jeng...e gileee yee...gak kerasa. Kandungan lainya dalam produk sih bisa bagus-bagus aja. Tapi kalo di iklan kagak pernah kan nyinggung kadar fluktosanya berapa. Oh my God...saya jadi kepikiran Archy yang kalo lagi mogok makan malah saya siapin stok roti dan susu UHT biar kenyang. Huhuhu... kata mbak Inge cemilan terbaik itu buah. Jadi sebisa mungkin stok banyak buah buat cemilan di rumah, bukan nyetok roti berfluktosa tinggi mak..


Mbak inge juga menjelaskan kenapa fluktosa itu berbahaya untuk tubuh. Fluktosa yang masuk ke tubuh kita pada dasarnya tidak dirubah jadi energi tapi dikirim ke liver, menumpuk lemak di liver. fluktosa lemak dibawah perut bisa menekan arteri dan bisa menyebabkan serangan jantung. ini akan ilang dengan cara menjauhkan fluktosa dan merubah pola makan. Tapi masalahnya menghilangkan fluktosa dalam pola makan kita itu gak gampang, karena kandunganya bikin orang jadi brain addiction. Saat brain addiction, hormon dopamin dalam otak bereaksi dan memmbuat seseorang menjadi ketagihan, sama kayak orang ketagihan narkoba. 

Makanya, memutuskan brain addiction itu butuh proses, susah. Perlu konsistensi dalam menjalankanya. Dan yang terpenting kata mbak Inge adalah bagaimana kita menjalankan pola hidup sehat, bukan hanya mengatur pola makan saja. Tapi secara keseluruhan. Perbanyak olahraga dan beraktivitas, sering-sering berjemur di pagi hari karena sinar matahari pagi bagus untuk menyerap vitamin E, tidur yang cukup, hindari stress, dan terkhusus bagi para ibu-ibu adalah memberikan teladan yang baik untuk anaknya. 

Jangan nyuruh anak makan sayur kalo kitanya gak makan sayur. Percuma ngelesin anak olaharaga ini itu kalo ortunya juga males olahraga. Sia-sia jadinya kan.. makanya membangun budaya yang baik dalam keluarga itu penting banget untuk kepribadian anak (next,,saya bakal bahas tentang membangun budaya dalam keluarga).

Dan yang terahir, adalah kesimpulan. Kesimpulan saya setelah mengikuti bedah buku eating clean-nya mbak Inge adalah saya merasa berterimakasih sudah diingatkan kembali untuk mengatur pola makan saya yang amburadul. Sejauh ini, menurut saya pribadi esensi pola makan sehat ala mbak inge tidak jauh beda dengan Dr. Tan dan juga ada beberapa kesamaan dengan food combiningnya bu Andang Gunawan. Secara mereka semua sama-sama keturunan Chinesse. 

Jadi kurang lebih sama lah gimana cara nenek moyang mereka mengajarkan. Hidup dan makan sealami mungkin, makan apapun jangan berlebihan, yah kurang lebih seperti itu. Jadi yang terpenting itu prakteknya bukan teorinya kan (ngomong sama kaca) hahahaa. Kalo disuruh milih mau ikutin pola makan ala siapa? saya jawab pola makan ala abah dan ibu. Keduanya adalah figur saya buat hidup sehat. Banyakin sayur, buah, banyakin beraktifitas, konsumsi segala sesuatu gak boleh berlebihan.

Apalagi kalau sudah jadi orang tua motivasi besarnya hidup sehat itu anak. Jadi jangan bilang kalo saya orangnya latah karena ini itu diikutin. Nggak ya, saya cuman ingin membangun budaya baik di rumah, mulai dari pola makan, zerowaste, bebenah ala shyoku method,  semua saya ikutin karena motivasi saya ingin menjadi teladan buat anak-anak. Sekian sudah review eating clean dari saya. Yuk kita merubah pola makan sehat bersama-sama J



Saturday, 28 July 2018

HOMESCHOOLING ANAK USIA DINI (HSUD)


Beberapa waktu lalu, saya mengikuti webinar homeschooling yang diselenggarakan rumah inspirasi. Kebetulan saya punya banyak teman praktisi HS. Saya penasaran banget, kenapa sih mereka memutuskan untuk menyekolahkan anak mereka sama orang tuanya? bahkan ada yang mengorbankan pekerjaanya yang terbilang mapan dan menjadi dambaan banyak orang. Segitu besarnya HS menjadi influencer bagi para orang tua masa kini yang memaknai value pendidikan yang begitu dalam. Okelah, akhirnya saya mencoba ngubek2 materi HS di rumah inspirasi.

Btw, webinar HS rumah inspirasi terdiri dari dua kategori, yaitu kategori anak usia dini dan kategori sekolah dasar. Saya memilih kategori anak usia dini karena anak saya saat ini berusia mau dua tahun. Pada kategori HSUD, materi terdiri dari 4 sesi. Sesi pertama mengenai prinsip, tujuam, dan cara memulai HSUD. Sesi kedua terdiri dari kurikulum, materi belajar, dan resource HSUD. Sesi ketiga terdiri dari pola dan ide kegiatan HSUD. Serta poin keempat mengenai tips praktis menjalani HSUD. meski materinya hanya terdiri dari 4 sesi, tapi pembahasan tiap sesi dikupas secara tuuntas beserta Q dan A dari perserta. Jadi lumayan gempor kalo mau dihabiskan dalam sehari. Saya cerna dikit2 supaya bisa saya implementasikan di rumah dengan anak. saya benar2 mengapresiasi kerja keras mas aar dan mbak lala dalam mempersiapkan materi sebanyak dan sedetail ini. Jadi saya gak mau bocorin bahkan menjiplak semuanya disini. Saya hanya mereview sedikit dan memberikan tanggapan saya usai mengikuti webinar HSUD rumah inspirasi.

Well, sejauh ini yang saya fikirkan bahwa menjalankan HS adalah suatu hal yang rumit. Perlu kerja keras karena semua pelaksanaanya di handle sama orang tua, sementara kalo di sekolah enak segala urusan dihandle oleh guru dalam satu tim. Saya membayangkan itu akan menjadi sulit dan saya pasti gak bakalan mampu melaksanakanya. Apalagi cita-cita saya tetap ingin bekerja di ranah publik suatu saat nanti. Namun ternyata setelah mengikuti webinar, rupanya yang ada di fikiran saya itu masih terpaku pada kontenya saja, bukan proses pelaksanaanya. Pada dasarnya HSUD adalah proses orang tua membangun hubungan dengan anak dan menikmati kegiatan bersama dengan anak. Kita bisa menggunakan materi yang ada disekitar kita tanpa harus terpaku untuk membeli mainan yang mahal. Yang terpenting adalah bagaimana kita menikmati kegiatan bersama anak. Slow down, connect, dan enjoy.

Saya pernah menjadikan diri saya menjadi seorang ibu yang ribet. Menyusun lesson plan yang sepertinya bukan hanya memberatkan anak saja, tapi juga saya sendiri. Saat itu saya begitu menyadari bahwa saya terlalu terpaku pada lesson planya, bukan menikmati kegiatanya. Namun setelah mengikuti webinar, saya cukup menyajikan materi yang ada disekitar saya. Cukup menyampaikan hal yang mindfulness pada anak selama 30 menit dan dilakukan secara konsisten. Contonya adalah melakukan kegiatan membaca bersama, jalan sore bersama, dan memasak. Kita bisa mengajarkan banyak hal pada 3 kegiatan tersebut. Lakukanlah kegiatan sesedarhana dan senatural mungkin supaya anak dapat menikmati prosesnya.

Yang terpenting dalam menjalankan HSUD adalah tiga hal yaitu WAKTU, KOMITMEN, dan MINDSET mengenai belajar. Pada hakikatnya belajar merupakan proses untuk mempersiapkan anak dalam menghadapi kehidupan yang akan datang, bukan untuk mempersiapkan memperoleh nilai dan peringkat semata. Jadi biarkan anak berkembang sesuai dengan kepribadianya yang unik. jangan hanya semata terpaku pada hal-hal yang sifatnya akademis, tapi melupakan moment terpenting yang sangat dibutuhkan anak pada usia keemasanya, yaitu BONDING. Anak gak butuh ortu sepintar apapun dalam mengajar, yang anak butuhkan adalah orang tua yang memberikan perhatian penuh pada anak terutama pada tahap perkembangan emasnya (developmental milestone).


Selain itu, kurikulum HSUD juga sangat beragam. kita dibebaskan memilih kurikulum apa saja sesuai dengan kemampuan orang tua. Yang perlu digarisbawahi adalah kurikulum hanyalah sebuah panduan atau perencanaan agar anak belajar secara tertruktur. Tapi bukan berarti kita mau disetir kurikulum dalam pelaksanaanya. Kita harus mengikuti perkembangan anak yang berbeda-beda sehingga tidak menjadikan kurikulum sebagai subjek pendidikan, karena anaklah yang menjadi subjek kita dalam belajar.

Satu quote menarik yang saya dapatkan dalam webinar adalah”anak-anak memiliki potensi keingintahuan yang sifatnya alamiah. orang tua berperan sebagai fasilitator yang mewadahi rasa keingintahuan mereka, bukan secara khusus mengajarkan materi langsung ke anak”. Jadi biarkanlah anak mengembangkan kemampuan alamiah sebagai self initiative learner. jangan sampai kita mendekte, bahkan mempush anak untuk mencapai yang orang tua inginkan bukan yang anak butuhkan.

Mungkin itulah beberapa tanggapan saya mengenai webinar HSUD di rumah inspirasi. Gak nyesel ikutan webinarnya karena semua dikupas secara detail dan totalitas. Saya bukanya promosi ya, toh mas aar dan mbak lala juga gak kenal saya hahaa..saya cuman mau bilang kalo webinarnya recomended banget, bahasa mudah dicerna, semua sesi pertanyaan dikupas tutas satu persatu. Jadi bagi yang ingin atau sudah memulai HS, tetap knowledge is important. Jangan lelah mengupgrade diri dan mengupgrade ilmu-ilmu baru. Jangan lelah mencari tahu dan bertanya kepada sesama praktisi, bukanya malah mengunggul-unggulkan diri sendiri tanpa dibekali ilmu yang pasti. Oia lebih enak lagi jika menjalankan HS bersama dengan komunitas. Karena komunitas merupakan infrastruktur berjalanya HS. Biar ngerasa gak sendiri juga kan, ntar melow lagi hehhe...Pokoknya salut banget bagi para orangtua yang sudah menjalankan HS bersama anak-anaknya. Semoga berhasil hingga ke jenjang selanjutnya J


Wednesday, 25 July 2018

TALKING ABOUT UNSCHOOLING

Setelah menyelami beberapa materi hs, saya baru menemukan ternyata pendidikan preschool itu memilki pilihan kurikulum yang beragam. Mulai Dari kurikulum berbasis pemikiran tokoh (Montessori, Charlotte Mason, Waldorf, shichida) hingga kurikulum yg dirancang oleh suatu instansi pendidikan seperti highscope, Calvert, sonlight, Dan masih banyak lagi. Namun satu Hal yg menarik perhatian adalah bagaimana anak belajar tanpa adanya curriculum setting, krn pada dasarnya anak memilki kemampuan self initiative learning untuk belajar berbagai macam Hal disekitarnya. Dalam berbagai jurnal sering dikenal dengan "unschooling". .
.
Unschooling pda dasarnya lebih mengedepankan lifestyle dibandingkan filosofi Dr pendidikan it sendiri. Ortu cenderung memfasilitasi regulasi diri,self understanding, dn motivasi anak untuk belajar dibandingkan langkah bagaimana anak harus belajar(Sandra dood, 2013). Kira2 Cara belajar seperti ini apa anak mampu menghadapi tantangan perkembangan zaman yg begitu pesat? .
.
Dalam perspektif psikologi, Kita mengenal kedua tokoh psikologi perkembangan kognitif piaget Dan vygotsky dmn keduanya memiliki pandangan berbeda dalam proses belajar. Piaget yg cenderung mngarah ke self initiative learning smntara vygotsky lbh mngarah pada pengarahan org tua sepeti scaffolding, dll. Sejauh ini tidak bs dikatakan Mana perspektif yg terbaik diantara keduanya, krn menurut saya keduanya penting dibutuhkan dalam proses anak belajar Hal baru.







Saya bukanlah seorang unschooler tapi seorang home educator. Meski beberapa jurnal mengatakan bahwa unschooling merupakan branch Dari homeschooling. Saya merasa perlu melakukan mix method antara pembelajaran berbasis lesson plan Dan unschooling krn keduanya jika dipadu padankan nampak saling berkaitan dlm proses pembelajaran.
So, in my opinion as a mom with a 2 yo daughter, us itu perlu sebagai fondasi awal untuk anak yg kelak akan memasuki dunia sekolah (baik formal ato homeschooling) yang sebenarnya. Dan juga ini memberi tantangan supaya ortu menanamkan a good lifestyle dan attitude selama anak unschooling.
Saat ortu terlalu fokus pada setting kurikulum, terkadang hal2 terkecil dalam keseharian terlupakan. Seperti dluar pembelajaran, saya masih suka menunjukan bad habit ke anak, masih suka marah2, males malesan, jajan sembarangan, makan seenaknya, dll. Tp ketika berfokus pada keseluruhan, saya menjadikan hidup sebagai waktu yg mindfulness dg anak. Menyeimbangkan mental health anak maupun orang tua sehingga ke2nya berkesinambungan. Melakukan kegiatan bersama dimana bukan anak saja yg belajar tp jg saya ikut belajar memahami setiap kejadian yg kami alami bersama seperti Ada proses recharging dmn Kita sama2 belajar pada apa yg Kita temukan saat ini
Unschooling cenderung pada freedom to learn tanpa terikat jadwal maupun lesson plan yg biasa dirancang ortu saat hs. Anggaplah aktivitas keseharian Kita merupakan bagian Dr pembelajaran si anak, mulai Dari bangun tidur, ke pasar, memasak, jalan2 sore keliling komplek merupakan bagian Dari meaningful learnings dmn ortu hanya perlu menstimulasi critical thinking dan curiousity pada hal2 yg mereka hadapi.
Yang perlu menjadi bekal dlm menjalankan unschooling adlh bagaimana perjalanan hidup kami yg menyenangkan merupakan bagian dari pembelajaran baru bagi si anak. Kalo kata mbak cinta aadc mah "it's about journey, not destination".
berkemah bersama di Alam bebas, melakukan perjalanan udara, darat, dn laut ke daerah tujuan yang mereka kunjungi. Semua terjadi secara natural, bebas, tanpa Ada rancangan apapun namun tetap bisa menyampaikan learning value dalam setiap prosesnya (CMIIW)