Tuesday, 10 June 2014

PROPOSAL OF LIFE

     




Beberapa hari yang lalu, sepertinya Tuhan berencana menegurku melalui pengalaman baru. Pengalaman dimana aku dipertemukan dengan insan-insan hebat yang memaknai hidup dengan cara yang berbeda. Aku sadari, menjadi seorang The New You menjadikan hati kian berdamai dengan masa lalu, mengevaluasi diri, dan merencanakan hidup dengan prinsip yang sejati. 

Selama beberapa tahun, dimana aku berkelut pada eksplorasi diri, sebenarnya aku menemukan titik keambiguan. Titik ambigu yang semu, disaat aku belum betul-betul memahami makna tujuan hidup. Karena keambiguan itulah yang menjadikan visi misi hidup kian berkelok. Niat A seakan menjadi B, niat B seakan menjadi C. Dan dari situlah, aku mulai mempertanyakan makna aktualisasi diri. 

Hirarki kebutuhan sosial yang aku pahami selama ini, menjadikan aktualisasi diri kian menyempit. Untuk apa kita mengejar harga diri jika hanya ingin mencapai titik aktualisasi diri bukan dihadapan Tuhan. 

Bukankah sekecil apapun titik itu, sudah pasti akan kembali kepada sang pencipta. Aktualisasi diri dimaknai bukan semata atas dasar ingin diakui dihadapan manusia, melainkan sebagai wujud persembahan diri kepada Tuhan yang selalu menyebar kasih sayang kepada hambanya.

Tuhan, alangkah sempitnya pemikiran ini. Dan aku mulai sadar, hati akan kian terpuruk bila aku belum benar-benar mengenali dan memahami diri secara utuh. Maka firman Tuhan tak pernah berdusta, barangsiapa mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhanya. 

Keberadaan Tuhan sebagai rahmat bagi seluruh umat apabila manusia menunjukan sisi kemanusiaanya, yang terus mengingatkan kita pada dzat yang lebih tinggi diatas segala-galanya. Yang menyadarkan kita, bahwa tidak ada yang paling tinggi kecuali Allah SWT.

Pengakuan diri ini, mengantarkanku pada proses menghubungkan diri sebagai hamba dengan sang pencipta. Memperbarui visi misi, dan menjadikan diri sebagai manusia yang paling tinggi disisinya, menjadi manusia yang bermanfaat bagi seluruh umat. Muhasabah diri inilah  yang menjadikanku untuk mulai berencana, berencana untuk bertindak sebagaimana mestinya dimana kita telah memiliki visi misi yang jelas sebagai tujuan hidup.

Maka di umur 24 tahun ini, dimana Tuhan mempertemukanku dengan persembahanan terbaiknya untuk mendampingi proses hidupku, ijinkan diri ini berkomitmen dari diri, untuk menjadi pribadi yang lebih baik, dan mencintai sebagai proses mengenali Tuhanku lebih dekat. 

Kusampaikan proposal of Life ini, berdasarkan inspirasi The New You, yang menjadikanku menjadi seorang pemenang. Pemenang yang mengenal dirinya sendiri dengan tuntas dan dapat mengukur batas kemampuan dirinya, untuk mengembangkan potensi-potensi yang aku miliki.
     Bismillahirahmanirrahim, dengan rahmatmu ya Rabbi, jadikanlah hamba menjadi insan yang dapat mencintaimu seutuhnya, dengan cara mencintai lingkungan terdekatku saat ini. Untuk lebih mencintai pendamping hidupku kelak, ijinkan hamba mendampinginya sepenuh hati, hingga dapat menjadikanya menjadi pemimpin yang hebat bagi keluarganya maupun bangsanya. 

Untuk lebih mencintai orang tua dari pendamping hidupku nanti, ijinkan hamba untuk mencintai mereka selayakanya hamba mencintai orang tuaku sendiri, ijinkan hamba menemani beliau untuk ikut berkarya, mendidik anak-anak yang kelak menjadi agen perubahan bagi bangsanya. Untuk lebih mencintai kakak kebanggaanku berserta keluarganya, ijinkan hamba untuk dapat bersinergi dengan pendamping hidupnya. Ijinkan kami turut dapat berkontribusi untuk mencerdaskan anak bangsa, melalui lembaga-lembaga pendidikan yang ingin kami dirikan. 

Untuk lebih mencintai kedua orang tua, yang selama ini ikhlas berkorban, ikhlas berjuang, ikhlas membina kami hingga menjadi pribadi yang lebih baik, sungguh ketulusanya tidak bisa ditukar dengan apapun. Tuhan, terus meneruslah kau tebarkan kebahagiaan bagi orang tuaku, terus meneruslah kau tebarkan kasih sayang untuk mereka yang telah bertahun-tahun mendidiku tanpa imbalan apapun. Ijinkan hamba untuk terus membahagiakan mereka, membanggakan mereka, dan mengantarkan mereka pada tempat persinggahanya yang paling tinggi. 

Tuhan, aku mohon engkau terus mengingatkanku, bila aku mulai terlalu mengurusi urusan duniawiku, sehingga aku mulai melalaikan keduanya. Tuhan, tegur aku sesuai ridhamu, bila aku mulai malalikan diri sebagai insan yang harus terus berbakti kepada orang tuaku.

Demikian proposal of Life yang sudah kutulis, semoga hamba selalu memegang teguh komitmen yang telah kupegang teguh. Harapan ridha dan kasih sayangmu semoga terus mengalir dalam kehidupan ini. Amin.

Thursday, 15 May 2014

DAMN, I LOVE INDONESIA

"So lying underneath the stormy skies. She said ooooI know the sun's set to rise. This could be para-para-paradise"- Coldplay

Jika menikmati lirik lagu Paradise Couldplay, rasanya ingin menjangkau seluruh belahan dunia dan seisinya dengan berbagai keajaiban dan teka-teki. Memang benar, traveling bukan hanya sebagai tujuan, melainkan cara untuk menemukan hal yang baru. Nikmatilah setiap perjalanan hidupmu, satukan alam dengan jiwamu, ciptakanlah energi dari kekuatanya.  Yes, find your own path when you come upon it, because you will suddenly have all the energy and imagination you will ever end.

right now, please allow me to show the world paradise  that I already visit it :)








Untuk kelanjutan setiap perjalanan dari foto saya, akan dikupas tuntas dalam postingan selanjutnya. See ya, keburu tutup lab asrama wkwkwk

THE ATMOSPHERE OF LAOS, IT IS SIMILAR TO INDONESIA



       Setelah tercatat sebagai representative dalam event ASEAN Youth Friendship Network, kecintaan saya terhadap budaya dan keindahan alam negara-negara ASEAN semakin mengalir. Keunikan dan keanekaragaman budaya yang sampai saat ini begitu saya nikmati untuk menelusurinya, dan juga menginspirasi untuk menikmati setiap perjalanan ini sebagai barang berharga sepanjang hidup. 

One’s destination is never a place, but a new way of seeing things.” Kali ini, saya terinspirasi oleh perjalanan Tony Wheeler, bapak pendiri Lonely Planet dalam perjalananya selama 3 minggu di Laos. Dari situ saya berhasil menangkap beberapa sisi perjalanan yang serupa ketika saya temui selama ini sebagai seorang pecinta Traveling. 

Ya, atmosfer Laos tidak begitu jauh dengan atsmosfer Indonesia baik dari segi adat maupun budaya. Begitu juga dengan Negara ASEAN yang lain, seperti Thailand, Malaysia, Filipine, dsb, jika ditelusuri kalian akan menemukan beberapa sisi kesamaan seperti rumah adapt, alat musik tradisional, maupun kepercayaan. Dan kali ini saya ingin mengupas beberapa kesamaan Laos dengan beberapa wilayah di Indonesia.

      Laos merupakan satu-satunya Negara yang dikelilingi oleh daratan Asia Tenggara. Seperti Negara ASEAN pada umumnya, Laos merupakan Negara jajahan Prancis yang terisolasi selama 20 tahun dari rezim komunis. Keunikan dan kemisteriusan Laos lah yang seringkali menarik perhatian wisatawan untuk mengunjunginya.

 Laos juga sering disebut sebagai Negara seribu gajah putih. Daerah yang memiliki populasi gajah terbesar yaitu di propinsi Sainyabuli, yang berjumlah hamper 4000. Di setiap tahun di kota Sainyabuli didakan peringatan Festival Gajah, merupakan perayaan besar bagi masyarakat Laos pada umumnya.  

Gajah sudah dianggap menjadi penopang hidup dan kebutuhan bagi masyarakat Laos. Di Laos, gajah meruapakan transportasi utama untuk menyeberangi sungai-sungai terutama di wilayah Laos Utara, yang banyak memiliki sungai-sungai besar.

sainyabuli, elephant festival. http://www.agefotostock.com/en/Stock-Images/Rights-Managed/HMS-HEM566033


        Adapun sungai terpanjang di Laos adalah sungai Mekong. Selain itu terdapat sungai Nong Khiaw yang terletak 15 km dari sungai Nam Ou, perbatasan antara China dan sungai Mekong. Selang perang Vietnam, konon AS menghujani Laos dengan bom untuk memotong rute suplai Vietkong, dan banyak berjatuhan di sungai Nong Khiaw. 

Tidak jauh dari Nong Khiaw, terdapat suku etknik Khamu di Bang Dong Khun, Laos Utara. Suku ini masih menganut kepercayaan animisme. Desa suku Khamu inilah yang menarik perhatian saya karena adanya kemiripan dan Susana yang hamper menyerupai salah satu desa yang ada di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Rumah penduduk suku Khamu adalah rumah pannggung yang sangat mirip dengan rumah panggung di Sumbawa. Luar biasa. Seperti merasakan De Javu. Tak jauh dari desa Khamu, ditemukan goa sejauh 11 km oleh Jerman ketika meneliti kedalaman tanah di daerah tersebut di tahun 2008. 

 
desa kamhu, mirip dengan susana di pulau bungin, pulau terpadat di dunia
     Budaya Khamu secara tradisional diwariskan lewat bercerita dekat api unggun di malam hari diiringi dengan alat musik tradisional, dan sangat mirip, bahkan mungkin sama dengan alat musik tradisional gamelan. Gamelan memang bukan hanya menjadi alat musik tradisional di Indonesia saja, melainkan juga di beberapa Negara di Asia Tenggara,

     Salah satu taman kebanggaan Negara Laos adalah taman nasional Luang Nam Tha. Taman ini merupakan salah satu proyek ekoturisme paling berharga di Laos. Dulunya hancur selama perang Vietnam yang berlangsung pada thaun 1960-1970an. Yang membuat Namha berhasil menjadi projek ekoturism adalah banyaknya peraturan yang berasal dari kesepakatan antara pejabat turisme Laos dengan penduduk desa di wilayah tersrebut.  

Kesepakatan memberi informasi tentang kebiasaan yang mendukung, membentuk kumpulan besar dari pemandu yang terlatih, dan membatasi kunjungan turis ke desa kurang dari 2 minggu. Nah, sekarang di Indonesia da gak ya peraturan seperti di Taman nasional Nmha? Jadi keinget kasusnya bu Risma marah-marah gara-gara taman kebanggaan Surabaya dirusak oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Sungguh, terlalu. Sabar ya bu Risma, I appreciate ur action 
 



      Masih banyak beberapa hal yang serupa dan kemiripan antara Laos dan Indonesia. Hal ini menandakan kesamaan rumpun dan nenek moyang. Untuk lebih jelasnya, kalian bisa menikmati perjalanan Tony wheeler dalam Lonely Planet.Belajar budaya tentunya semakin menambah wawasan dan kecintaan terhadap bangsa. So, tetep bangga donk dengan keistimewaan indonesia. Hanya saja bangsa kita perlu banyak belajar dari negeri lain yang dapat mempertahankan warisan budayanya dengan baik. Traveling is not the destination, but the journey :-) 



Wednesday, 9 April 2014

JODOH ITU IKHLAS


Bernafaslah...raihlah...seraplah...rasakanlah...

Sudah kubilang...dia akan datang disaat waktu yang tepat. saat kamu benar-benar membutuhkanya dan kamu ingin mengabdikan diri kepadanya.  Sungguh, betapa aku mencintai proses, betapa aku menikmatinya.

Jika saat itu aku terus menerus meberontak mungkin kau tak dapat menemukanku saat ini. Hidup itu perjalanan.bernafaslah, nikmatilah, dan rasakan apapun yang terjadi.

Kegagalan itu mendewasakan. Kegagalan itu pelajaran berharga. Jika tidak pernah merasakanya, tidak akan pernah memahami arti ikhtiar. Jika tidak pula menghadapi cobaan, tidak akan pernah pula memahami arti kesabaran. Jangan takut untuk dicaci, jangan takut untuk dimaki. Makian itu pujian, dan cacian itu jalan untuk selalu bersyukur.

Memang kedengaranya begitu kompleks. Justru bukan hidup namanya jika tidak komples. Dulu aku pernah dimaki dulu aku pernah direndahkan. Disaat harta yang ikut berbicara. llmuku seakan  tidak ada apa-apanya.

Dulu aku pernah difitnah. Dulu aku pernah diadu domba. Disaat hawa nafsu yang diandalkan. Kepercayaan diriku mulai menghilang. Hati mulai bergetar hebat. Jika  dulu mata dipaksa untuk tertutup rapat-rapat, mata hati akan terus melekat  pada kenyataan yang semakin terus menerus akan disadarkan.

Jangan menyesal dipertemukan dengan orang yang salah. Dari situlah kamu belajar kesalahan. Jika tidak, bisa saja akan terus dilakukan berulang-ulang. kesalahan itu benturan, karena terkadang jiwa kita begitu manja. Jika tidak dibenturkan, ia akan terus menerus  tenggelam dalam kenikmatan yang menipu.

Suatu hal yang wajar jika saat itu ada rasa sakit hati, ada rasa benci, ada rasa mendendam. Selalu muncul pertanyaan “kenapa harus aku”. Suatu indikasi kecil yang menunjukan ketidak ikhlasan. Ketidak ikhlasan itu adalah kesombongan. Manusia yang sombong adalah manusia yang paling rendah dihadapan tuhanya.

 Semakin lama mulai tersadar bahwa Tuhanku terlalu sangat mencintai. Aku tidak mau jadi orang yang tak tahu diri. Bangkit, bangkit, dan bangkit. Saatnya memperbaiki diri, saatnya mengevaluasi. Aku butuh lingkungan yang membesarkan hatiku. Dimana aku dapat mengembalikan keoptimisanku. Karena hidayah itu bukan untuk ditunggu, tapi untuk dicari. Karena bahagia juga tidak untuk ditunggu,tapi untuk diciptakan. Siapa sangka, setelah itu potensiku semakin melejit. Aku mulai berkarya, dan memandang indah dunia.

Udara bumi kian menyejukan hati, disaat aku belajar berempati. Disaat aku dipertemukan kalangan muda yang memilki semangat juang tinggi, untuk peduli dan berkontribusi bagi bangsanya. Disaat itulah aku mengenal prinsip hidup.

Khairunnas anfauhum linnas. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.Pupus sudah rasa benci dan dendam yang dulu pernah menggerogoti. Karena rasa itu sudah mulai teralihkan. Aku sudah mulai mengenal hidup. Ya ini hidup. Hidup itu berjuang.

Masih enggan rasanya untuk mencoba membuka hati kembali. Sungguh, karena saat ini aku hanya ingin fokus utuk berkontribusi. Berbagai macam kegiatan kian aku geluti. Begitu nikmat rasanya tertawa lepas,menemukan keceriaan di segala sisi. Dan aku mulai yakin. Alam itu akan senantiasa menyatu dengan jiwa. bersahabatlah dengan mereka. Maka alam akan mampu untuk dikuasai (low of attraction).

Mungkin disaat itu aku mulai membangun aura. Aura dari sesatu yang mutlak. Ya, cantik itu relatif, cerdas itu mutlak. Dikatakan mutlak karena sifatnya objektif. Cerdas dari hati, ilmu dan perilaku. Disaat itulah aku mulai mendeklarasikan diri “ masa muda itu dimanfaatkan untuk mentuntaskan eksplorasi ilmu, gagasan, dan pengalaman. Totalitas, berkontribusi untuk lingkungan terdekat, berprestasi, hingga sampai pada titik dimana kita mengabdikan diri pada yang membimbing .Stay single. yang muda, yang bersinergi.



Ungkapan yang cukup menimbulkan kontrovesri. Karena tidak semua dapat menangkap titiknya, sehingga menjadikan kesalahan persepsi. Dikatakan terlalu mengejar dunia, sehingga aku sengaja melupakan sunnah rasulnya. Dikatakan keras kepala, dikatakan trauma. Sudahlah, dengarkan saja, silahkan kembali berkarya. Hidup dikatakan pilihan karena semua terjadi dari memilih. Memilih untuk maju atau memilih untuk mundur, memilih untuk terpuruk atau memilih untuk bahagia. Simple.

Karena dari proses yang kian dinikmati, kutemukan inspirasi. Bahwa jodoh itu ibarat kaca. Pantulanya adalah refleksi dari pasangan kita. Jika kaca keruh maka refleksinya akan keruh. Jika kaca jernih maka pantulanya juga akan jernih. Jernih tidaknya itu berasal dari perilaku. Perilaku dan kepribadian yang baik akan mengindikasikan jodoh yang baik. Begitu pula sebaliknya.

Perilaku dan kepribadian yang buruk  akan mengindikasikan jodoh yang buruk. Ini adalah bukti kekuasaan Allah melalui ayat- ayat sucinya. At tayyibina litayyibat. Lelaki yang baik akan mendapatan perempuan yang baik pula.sekali laagi. Hukum ketertarikan J


Maka disaat itu sesungguhnya aku sedang ingin memantaskan diri. Pengalaman selama ini cukup untuk dijadikan pelajaran, dan tidak untuk terulang kembali. Terus meneruslah memperbaiki diri. Musuh terbesarnya dalah bosan. Bosan menjadi orang baik. Untuk itu perlu adanya perencanaan, evaluasi diri untuk terus menerus diperbarui. Seperti software yang juga perlu di uprade. Hatipun juga begitu. Tidak juga lupa untuk berikhtiar. Berdoa dengan rasa ikhlas. Bukan hanya untuk mengeluh dan minta segera dikabulkan doanya.

Jika keinginan belum dikabulkan, faktor utamanya karena kita masih berdoa dengan kondisi keterpaksaan. Sehingga kita meminta hanya disaat tertentu saja. Ketika senang bisa jadi lupa, namun ketika dilanda cobaan, doa dilaksanakan bertubi-tubi namun sifatnya sementara. Barangkali itulah yang dinamakan berdoa tanpa diiringi rasa ikhlas. Jika hati sudah mencapai kepada keikhlasan, kenikmatanya tidak bisa ditawar dengan apapun.

Seperti saat ini. Aku sudah mulai ikhlas untuk memilih. Dimata Allah aq begitu yakin saat ini aku menemukan pantulan kacaku yang terbaik, tanpa harus melewati proses perkenalan yang terlalu panjang, dan pastinya diri semakin tejaga. Itulah yang dinamakan ikhlas. jodoh itu ikhlas. ikhlas itu ikhtiar. Ikhtiar itu menghargai proses. Maka berdoalah dengan rasa ikhlas.  

Sunday, 5 January 2014

Anak Jalanan, Calon Pemimpin Masa Depan (ditulis ulang dari kompasiana)


Anak jalanan pada umumnya selalu digambarkan sebagai anak-anak agresif, susah diatur, dan berbagai pandangan negative masyarakat  tertuju pada perilaku anak-anak jalanan. Kehidupan  mereka  seolah membentuk perilaku yang keras dan sangat kontras jika dibandingkan dengan anak-anak seusia mereka yang hidup di perkotaan dan lingkungan yang terdidik. Namun, pandangan tersebut seketika sirna ketika saya membuktikanya secara langsung saat mengajar mereka di kampung anak jalanan, yang  berada di daerah Solo tersebut.

Saya bersama teman-teman komunitas yang tergabung dalam Save Street Child Solo, yaitu komunitas peduli anak jalanan mengadakan program mengajar setiap sabtu dan minggu di perkampungan anak jalanan, Pasar Klitian, Solo. Program mengajar ini bertujuan untuk memberikan bekal dan membantu anak-anak jalanan terutama di bidang pendidikan dan tentunya soft skill agar secara perlahan-lahan mereka dapat meninggalkan pekerjaan utama mereka “mengamen” dan semakin percaya diri dengan berbagai skill yang mereka miliki.

Pertemuan pertama adalah pertemuan dimana kita mencoba membangun raport yang baik dengan anak-anak yang terbiasa menggunakan bahasa yang keras dan berperilaku yang sulit terkendali. Rasa cemas itu ada, ketika kami takut jika tidak mampu mengendalikan mereka dan justru tidak tertarik dengan kegiatan yang kami laksanakan. Namun, seusai perkenalan, kehangatan dan rasa keakraban semakin muncul dengan gelak tawa dan celetohan anak-anak yang lucu. Kodrat anak-anak sebagai anak yang menyenangkan dan polos ternyata berlaku bagi semua anak-anak di seluruh dunia tanpa terkecuali anak-anak jalanan seperti mereka.

Suasana semakin akrab disaat kami meminta mereka untuk menuliskan dan menggambarkan cita-cita mereka kelak. Rasa haru, senang, dan bangga ketika melihat hasil karya mereka yang menggambarkan cita-cita dan harapan mereka. Walaupun terlahir dalam lingkungan jalanan yang keras, tidak ada satupun yang bercita-cita sebagai anak jalanan. Mereka juga punya harapan suatu saat nanti mereka dapat bermanfaat bagi masyarakat. Ada yang ingin menjadi perawat, polwan, pesepak bola, guru, dan bahkan menjadi pelukis.

Hal yang menggetarkan hati adalah ketika mereka berebutan meminta pensil yang dibagikan oleh rekan-rekan kami, semua tampak kisruh dan sulit terkendali. Tapi apakah selamanya mereka tidak dapat dikendalikan? Jawabanya tidak selamanya benar. Hanya dalam hitungan detik ketika kami menyerukan untuk bersikap tertib dan membudayakan antri, seketika anak-anak tersusun rapi dalam barisan panjang dan melengkung. Namun, ada saja yang berperilaku kurang jujur dengan meminta pensil lebih dari satu. Saya biarkan saja dan saya amati dari kejauhan. Namun tiba-tiba anak yang tidak jujur itu mengembalikan pensil tersebut sambil berkata “mbak, aku wes etuk. Iki tak baleke” mbak saya sudah dapat, ini saya kembalikan pensilnya. Luar biasa. Tidak ada yang menegur, tapi tergerak dari hati anak itu. Dan selanjutnya anak-anak lain yang berperilaku curang juga mengembailkan pensilnya kepada kami. Hati siapa yang tidak terenyuh melihatnya.

Dibalik perkataan dan perilaku mereka yang kasar, ternyata masih ada hati nurani mereka yang masih berjalan. Jujur dan tertib jika kita bisa mengarahkanya. Ini baru pertemuan pertama, bagaimana jika kita terus tanamkan hingga pertemuan seminggu, sebulan, hingga seterusnya? Dan anak jalananpun kelak juga mampu menjadi pemimpin masa depan, berbekal sikap jujur dan disiplin. Saya berharap bagi para tokoh pendidkan yang selalu menggembor-gemborkan pendidikan karakter, akan lebih baiknya tidak hanya disampaikan di forum besar agar terlihat elegan dan power saja.

Terapkan pada lingkungan kecil yang justru memberi potensi besar sebagai gerakan perubahan bangsa. Saya mewakili komunitas SSC Solo berharap semoga masyarakat semakin sadar diri dan peduli akan masa depan anak-anak pribumi, terutama mereka yang merasa tersisihkan anak-anak jalanan. Mari ulurkan tangan kita untuk mereka, sisihkan waktu untuk sesekali menyapa dan memotivasi mereka untuk terus maju agar kelak menjadi para pemuda pemudi yang mengharumkan nama bangsa Indonesia.

Tuesday, 11 December 2012

JALIN PERSAHABATAN MELALUI BUDAYA



Budaya merupakan sebuah warisan sosial dari hasil cipta rasa dan karsa yang perlu dilestarikan. Melalui budaya, kita dapat berinteraksi dengan masyarakat bahkan membentuk  suatu jaringan persaudaraan.Terlebih dengan berbagai macam budaya yang berbeda-beda tersebut memberikan ciri khas tersendiri kepada setiap masyarakat disetiap negara. 
            Asean Youth Friendship Network (AYFN) merupakan suatu organisasi yang mengakomodasi para pemuda ASEAN untuk membentuk jaringan persahabatan internasional melalui budaya. Dengan membentuk jaringan tersebut, pemahaman terhadap budaya negara lain dapat menjadikan dunia jauh lebih baik dan memiliki toleransi antar sesama.
            Salah satu program yang diselenggarakan oleh AYFN adalah Inter Cultural Learning and Friendship Program  (ILFRIP) yang diselenggarakan di Bangkok, Thailand. Kegiatan ini diselanggarakan pada tanggal 5-11 November di Universitas Chulalongkorn, adalah universitas ternama di Thailand. Pada acara ILFRIP yang ke 5 ini, saya diberikan kesempatan untuk menjadi salah satu peserta bersama ke-25 mahasiswa diseluruh indonesia. Mereka sebagaian besar berasal dari Universitas Gajah Mada, Universitas Brawijawa, Universitas Diponegoro, Univeritas Indonesia, Universitas Trisakti, UPN Jogja, Institut Teknologi Surabaya, dan saya sendiri dari Universitas Muhamadiyah Surakarta.
            Selama kegiatan berlangsung, kami diberikan beberapa materi tentang kebudayaan Thailand, seperti sejarah, musik, bahkan kursus memasak makanan khas Thailand. Sejarah Thailand memiliki latar belakang yang sama dengan Indonesia, yaitu pernah dalam kekuasaan kerajaan Sriwijaya. Warisan kerajaan Sriwijaya telah mendominasi beberapa kebudayaan Thailand dan Indonesia. Maka tak heran apabila kedua negara ini memiliki bahasa dan alat musik yang tidak jauh berbeda. 

            Selain itu kami juga diberikan materi tentang sustainable of tourism. Seminar ini mengupas tuntas tentang kepariwisataan di Thailand, dan beberapa upaya pemerintah Thailand untuk mempromosikan budaya dan kunjungan wisata kepada wisatawan asing. Mereka memiliki situs internet resmi melalui 7 Green Tourism of Thailand. Sebenarnya, Indonesia memiliki potensi yang lebih besar dibandingkan Thailand. Namun sayang, dari segi packaging maupun promosi, kita masih jauh dibandingkan dengan negeri gajah putih itu.



            Acara yang sangat dinantikan adalah pertunjukan cultural performance dari mahasiswa Indonesia. Pertunjukan yang kami tampilkan anatara lain adalah pertunjukan angklung, tari jaipong, tari irian jaya, dan medley lagu dari berbagai macam daerah di Indonesia. Penampilan terakhir adalah menyanyikan lagu “We are the World” yang dinyanyikan bersama-sama seluruh peserta ILFrip #5 sebagai acara penutup.
            Begitu cepat rasanya mengikuti program ini selama satu minggu. Masih banyak yang harus kita pelajari melalui program pertukaran budaya ini. Setidaknya, dengan mengunjungi negara lain kita dapat memberikan kaca perbandingan kepada negara kita baik dari segi ekonomi, sosial, maupun budaya. Lebih dari itu, kita semakin memahami akan pentingnya “cross cultural understanding”, pemahaman budaya yang dapat menjalin persahabatan yang baik antar negara. Dalam penerapanya, kita dapat menjalin persahabatan dengan baik  kepada para mahasiswa asing yang berada di kampus ini.