Thursday, 22 March 2018

NICEHOMEWORK #2 CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN




PENDAHULUAN
Untuk menemukan indikator-indikator yang ditentukan pada tugas ini, saya menanyakan pada suami mengenai indikator istri yang membuat bahagia dan  menanyakan diri sambil mengevaluasi diri untuk menemukan indikator individu yang ingin saya capai. Untuk indikator sebagai ibu, karena anak saya masih berusia 1,5 tahun dengan kemampuan menyampaikan sesuatu yang diinginkan masih bersifat praoperasional, maka saya mencoba mengamati hal-hal yang membuat anak saya bahagia namun sesuai dengan domain perkembanganya. Berikut saya akan mencoba mengulas checklist indikator yang saya buat dengan kata kunci SMART (specifik, measurable, achievable, realistic, dan timebond).
CHECKLIST IBU PROFESIONAL
Untuk cheklist yang saya susun, saya mencoba merealisasikan untuk checklist minggguan yang terdiri dari 7 hari. Setiap indikator saya susun dari 3 sampai 5 item setiap sub indikator karena tujuan utama dari penyusunan ini adalah pelaksanaan yang dapat dilakukan secara konsisten. Jadi saya coba merancang item-item indikator yang mudah dan ringan supaya saya bisa konsisten menjalankanya.
PERAN
INDIKATOR YANG INGIN DICAPAI
HARI KE
EVALUASI
1
2
3
4
5
6
7
Sebagai Individu
Spiritualitas:








Solat Wajib tepat waktu








Melaksanakan solat dhuha dan membaca matsurat








Membaca Al-Qur`an dan terjemahanya min 1 ayat/hari








Life Style:









Membawa botol minum, wadah, dan tas lipat setiap berpergian









Olahraga ringan minimal 7 menit









Minum air putih 8 gelas/hari









Makan sayur dan buah dengan porsi lebih banyak dari karbohidrat









Professionalism:









Membaca jurnal/artikel internasional min 1 minggu sekali









Writing IELTS min 1 minggu sekali









Listening IELTS min 2x/minggu








Sebagai Ibu
Gizi Anak:









Menyediakan sayur dan buah di rumah setiap hari









Meminimalisir Junk Food/ jajananan (min 1 x seminggu)









Memberikan madu dan kurma (min 1x seminggu)









Perkembangan Anak:









Membuat Lesson Plan kegiatan anak perminggu









Meminimalisir tayangan TV (maks 1 jam/hari)









Membaca dongeng dan bacaan surat pendek sebelum tidur









Life Style:









Meminimalisir pengunaan pampers (maks 1 pampers/hari)









Tidak banyak membuang banyak sisa makanan ( ambil makan secukupnya/dihabiskan orang tua)









Menjaga kebersihan dan keasrian rumah setiap hari








Sebagai Istri
Mendukung Kegiatan suami selama positif:









Tidur malam maksimal jam 11 malam, bangun sebelum subuh









Menyediakan cemilan sehat saat suami lembur









Sabar menghadapi suami:









Lakukan pillow talk 2 hari sekali









Berdiskusi sehat (merendahkan suara, tidak membantah)









Tidak membicarakan hal berat saat suami sibuk









Kreatif dan inisiatif:









Mengelola keuangan dengan menulis semua pengeluaran dan tabungan bulanan









Mengajak suami menyusun lesson plan kegiatan anak









Dekat dengan keluarga:









Silaturahmi ke kerabat seminggu sekali









Telpon orang tua di jawa 3 kali seminggu









Memberi hadiah, masakan, dll ke orang tua 2 minggu sekali









Menjaga perkataan dan menuruti keinginan mertua









Sumber Acuan:
Lutfiani, Dinari. (2016). Review Cheklist Indikator Ibu Profesional. Retrieved from: www.rumahbelajardisya.blogspot.co.id











CHECKLIST INDIKATOR IBU PROFESIONAL


Thursday, 15 March 2018

NHW I - ADAB MENUNTUT ILMU



1.    Jika saya diijinkan untuk menentukan satu jurusan di universitas kehidupan ini, maka saya ingin menekuni jurusan psikologi pendidikan dan perkembangan melalui ibu professional.


2.    Bagaimana saya menggambarkan jurusan ibu professional itu? Saya teringat akan kalimat yang pernah ibu Septi sampaikan dalam sebuah seminar: seorang ibu merupakan seorang ahli dari segala bidang. Ia adalah seorang dokter ketika anaknya sakit, menjadi seorang guru bagi anak-anaknya, seorang chef untuk memenuhi kebutuhan perut keluarga, ahli finansial, manajer, dan masih banyak lagi. Mungkin ini menjadi sebuah alasan bahwa untuk menjadi seorang ibu profesional tidak ada jurusan yang tersedia dalam perguruan tinggi formal, melainkan hanya ada dalam universitas kehidupan. Kehidupan nyata, kehidupan yang penuh kompleksitas, kehidupan yang menuntut kita sebagai ibu untuk terus banyak belajar menjadi seorang ibu profesional. Jurusan Ibu profesional menurut saya bukan berarti jurusan yang menuntut kita untuk menjadi ibu yang sempurna, tetapi jurusan ibu profesional adalah jurusan dimana setiap ibu belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik sehingga berpengaruh positif pada anaknya, keluarganya, bahkan bagi bangsa dan negara. Maka tidak heran jika ibu merupakan tiang dari suatu negara. Para pemimpin yang tangguh dan jujur berasal dari para ibu yang hebat. Pendidikan ibulah yang menentukan generasi kita yang akan datang.
3.    Strategi saya untuk menekuni jurusan ibu profesional dan implikasinya dalam kehidupan adalah sebagai berikut:
a.    Menambah wawasan dan ilmu secara teoritis dengan cara membaca beberapa referensi buku dan jurnal yang berkaitan dengan bidang-bidang yang tersedia di jurusan ibu profesional. Misalnya untuk memperdalam materi pada bidang gizi, saya perlu banyak mereview bacaan mengenai pola makan dan gaya hidup yang sehat. Untuk memperdalam materi di bidang parenting, saya banyak mengikuti beberapa seminar atau kajian dan tidak lupa membaca beberapa referensi buku/jurnal untuk memperdalam informasi yang diterima.
b.    Melaksanakan ilmu secara praktis dalam kehidupan sehari-hari. Seperti kata pepatah; ilmu tanpa amal bagaikan pohon tak berbuah. Oleh sebab itu saya harus memiliki plan list agar semua bidang-bidang yang diajarkan di jurusan saya dapat terealisasikan dengan baik. Selain itu perencanaan juga memerlukan evaluasi agar kita dapat menilai hal-hal apa yang perlu diperbaiki dan perlu dipertahankan.
Misalnya saya ingin menggambarkan bagaimana membuat tabel plan list dan evaluasi untuk mengoptimalkan ilmu yang saya amalkan di jurusan ini:

Jurusan : Ibu Profesional
Bulan
Bidang yang ingin ditekuni
Tahap Realisasi
Evaluasi
Januari
Pola hidup Organik
Meminimalisir penggunaan plastik dan pampers
-masih sering lupa bawa wadah
-anak lulus toilet raining (bebas pampers

Setiap hari harus menyediakan sayur dan buah di meja makan


Menanam sendiri bahan2 dapur di pekarangan rumah

Keagamaan
Mengikuti kajian seminggu sekali



Tadarus setelah maghrib dan subuh bersama suami dan anak
Masih belum konsisten, tidak tega membangunkan anak saat subuh

Tabel diatas hanya sekedar contoh bagaimana saya dapat mengoptimalkan ilmu yang saya dapatkan selama menekuni bidang-bidang di jurusan ini. Menurut saya, perencanaaan seperti adalah hal yang sangat penting supaya kita dapat mengevaluasi diri kita dan aktivitas yang sudah kita lakukan selama ini. Selain itu, anggota keluarga seperti suami juga bisa menjadi pengingat ketika kita belum bisa konsisten dalam suatu hal. Seperti sangat menyenangkan jika dalam rumah tangga satu sama lain bisa saling mengingatkan untuk suatu kebaikan.
4.    Bagi saya, perubahan sikap yang harus diperbaiki untuk proses menuntut ilmu adalah:
a.    Sikap religiositas. Sikap religiositas mempengaruhi tujuan seseorang, keputusan, motivasi, dan kepuasan (Johnstone, dalam Alam, 2011). Religiositas atau beragama merupakan landasan yang harus dimiliki seseorang dalam menuntut ilmu, sehingga kita dapat memaknai tujuan kita berilmu adalah semata untuk Allah SWT. Landasan syariat agama mengantarkan seseorang untuk memahami esensi dari menuntut ilmu. Oleh sebab itu, jika berilmu tapi menunjukan sikap sombong, apatis, tidak menghargai pendapat orang lain, bisa dikatakan ilmu tersebut tidak memiliki landasan sikap religiositas. Karena perilaku tersebut tidak mencerminkan moral seseorang beragama.
b.    Istiqomah atau konsisten. Pada kenyataanya mencapai prestasi itu lebih mudah daripada mempertahankanya. Begitu pula dengan mengamalkan ilmu yang ada di jurusan ibu profesional ini. Dibutuhkan adanya sikap konsisten untuk mencapai tujuan yang diharapkan dengan memulainya konsisten terhadap hal-hal terkecil.

Sumber:
Alam, S. S., Bohd, R., & Hisham, B. (2011). Is religiosity an important determinant
on Muslim consumer behaviour in Malaysia?. Journal of Islamic Marketing, 2(1),
83-96. doi: 10.1108/17590831111115268

Thursday, 26 October 2017

DOWNLOAD FREE PDF AKTIVITAS BERMAIN ANAK USIA 0-3 TAHUN DAN KURIKULUM PEMBELAJARAN MONTESSORE

Berikut akan saya bagikan free pdf fun activities to support early childhood development 0-3 years old dan kurikulum montessori nasional oleh Australian Montessori Teacher Education Teacher Foundation Limited (AMTEF). Semoga bermanfaat yaa! :)

downloadfunactivities

downloadmilestoneactivites

downloadmontessorinationalcurriculum

Wednesday, 25 October 2017

CONTOH PERENCANAAN AKTIVITAS KEGIATAN ANAK DAN EVALUASI KELAYAKAN LINGKUNGAN RUMAH ANAK 0-3 TAHUN

Perkembangan pada anak usia 0-6 tahun merupakan komponen penting untuk mengembangkan kemampuan anak dan sangat dibutuhkan dalam tahap perkembangan berikutnya. Berdasarkan tingkat pencapaian perkembangan anak PAUD kurikulum 2013 beberapa tingkat yang perlu dicapai dalam perkembangan anak meliputi nilai agama dan moral, fisik motorik, kogniti, bahasa, sosial emosional, dan seni. Namun beberapa upaya dalam mengoptimalkan tingkat pencapaian tersebut masih menjadi kendala orang tua dalam pelaksanaanya. Banyak orang tua yang masih bingung upaya apa saja yang dapat dilakukan untuk menjangkau semua tingkat pencapaian tersebut.
Adapun beberapa faktor yang dapat menunjang tingkat pencapaian perkembangan anak antara lain adalah faktor eksternal dan internal. Salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi perkembangan anak adalah faktor lingkungan rumah sementara faktor internalnya adalah upaya orang tua dalam merencanakan aktivitas yang menunjang tingkat pencapaian perkembangan anak.


Berikut beberapa contoh instrumen pengukuran kelayakan lingkungan anak dan contoh perencanaan yang dapat dijadikan gambaran bagi para orang tua dalam mengoptimalkan perkembangan anak. Contoh instrumen ini dirancang berdasarkan review dari instrumen yang sudah ada namun penulis tambahkan dengan mengacu pada beberapa referensi lainya: 

Download

Monday, 24 October 2016

A SHORT GUIDANCE FOR A NEW MOM ( PANDUAN SINGKAT UNTUK IBU PEMULA)

KEPANIKAN PARA IBU PEMULA
Bagi para ibu yang memiliki anak pertama, pastinya ngerasa panik menghadapi masalah-masalah baru baik pada masa kehamilan, melahirkan, maupun setelah melahirkan. Mau baca buku yang katanya ngatasi panik kek, nanya orang berpengalaman kek, pastinya tetep aja ngerasa panik. Bagi saya sih boleh-boleh aja asal masih dalam batasan wajar. Untuk mengatasi rasa panik itu, saya banyak membaca buku yang bisa memberikan saya informasi yang akurat. Kakak saya sampai bilang saya itu miss guidance. Apa-apa harus merujuk ke buku. Ya emang, menurut saya gak ada salahnya berikhtiar dengan membaca banyak referensi untuk menjadi ibu yang lebih baik. Tapi saya gak cuman berpedoman sama buku aja, tetep interview ke significant other (ceilah) selalu saya lakukan untuk mengatasi kepanikan saya. Nanya-nanya ke orang itu juga harus bisa memilah milih, makanya saya biasanya nanya lebih dari satu orang. Disisi lain  nanya ke orang bisa menjadi sosial support untuk kita dan juga bisa menjadi perusak mood kita kalo yang ditanya malah ngejudge dan cenderung songong hahahaa..Santai bu-ibu, being a new mom have to be happy even more.


Sebenernya ini terlalu lebay kalo disebut sebagai pedoman, karena kayaknya jauh dari kriteria kata pedoman hahaha..gak papa lah biar menarik para pembaca. Yang jelas saya cuman ingin menceritakan beberapa kepanikan saya yang sepertinya menjadi kepanikan umum bagi ibu-ibu yang lain beserta solusinya.
1.     MELAHIRKAN NORMAL ATAU CAESAR?
Yang jelas, semua yang berproses secara alami sudah dibuat sedemikian rupa oleh Allah agar bisa bermanfaat untuk makhluknya. Ada yang ingin melahirkan secara alami, namun terpaksa harus caesar karena beberapa alasan tertentu. Disisi lain, ada juga yang merencanakan caesar lantaran orang tuanya yang menginginkan anaknya lahir pada tanggal yang spesial misalnya. Sengaja dibuat pada tanggal 9 bulan 9. Saya yakin itu yang kepengen bukan anaknya, tapi orang tuanya (ngaku nggak). Tapi terlepas dari itu semua, keinginan ibu untuk melahirkan normal meskipun harus caesar tetaplah menjadi keinginan yang mulia. Jadi saya disini tidak akan menjudge atau meng underestimate mereka yang belum bisa melahirkan normal. Wong saya juga melahirkan pake dipacu. Bagi saya udahlah, yang lalu biarlah berlalu. Yang terpenting kan kedepanya. Jadi sama-sama kita belajar memperbaiki diri untuk masa depan kita nanti.
Berdasarkan cerita teman saya yang kebetulan menjadi guru anak kebutuhan khusus, ada anak yang memiliki delay yaitu keterlambatan perkembangan karena kemampuan sensorinya tidak sesuai dengan usia mentalnya. Orang tua anak tersebut menceritakan bahwa salah satu dampak keterlambatan itu adalah kronologi melahirkan caesar. Saat melahirkan normal, bayi keluar pada tempatnya akan mendapatkan sentuhan sensori secara alami dari jalan keluarnya. Jadi bayi dapat pijatan alami waktu melahirkan dari ujung kepala hingga ujung kaki untuk mestimulus kemampuan sensorinya. Sementara saat melahirkan caesar bayi tidak mendapatkan reflek alami tersebut.  Melahirkan dengan dipacu juga bisa memiliki resiko bayi mengalami trauma karena kondisi saat dipacu bayi merasa dipaksa untuk keluar melalui stimulus induksi. Pada dasarnya bayi lahir membawa naluri kapan ia akan keluar dari perut ibunya. Jadi gak usah dipaksa-paksa keluar. Saya tekankan apa yang ada di cerita tersebut sifatnya kasuistik ya. Saya tidak mengatakan bayi caesar atau induksi secara general akan mengalami itu. Mudah-mudahan saja tidak ada dampak yang serius dari itu semua. Amin. Selain itu melalui persalinan normal kita bisa minta Inisiasi Menyusui Dini kepada perawatnya. Sudah tahu kan manfaat IMD apa, sudah pernah saya tulis ya di tulisan sebelumnya. Yang jelas, semua ibu harus memiliki cita-cita melahirkan normal demi kebaikan sang buah hati, bukan merencanakan untuk melahirkan tidak secara normal demi keinginan orang tuanya, bukan anaknya.

2.    PERSALINAN YANG LANCAR.
Waktu saya melahirkan Archy, ibu saya memuji-muji saya. Nak, kamu hebat ya melahirkan gak nangis, gak kesakitan, gak jerit-jerit. Kata ibu, proses persalinan saya adalah proses yang tercepat karena tidak memakan waktu yang lama, cukup satu kali mengejan si Archy udah keluar (ini versi emak saya loh). Hahahaaa..kibas jilbab sambil ketawa nyengir. Kalo sakit sih jujur emang gak sakit waktu proses mengeluarkanya, tapi waktu diinduksi jangan tanya deh, SAKITTTTTT SEKALI!! tulang punggung rasanya mau copot. Badan keringat dingin rasanya mau pingsan. Bahkan saya sempat minta perawat buat copot infus induksinya. Lambaikan tangan ke jendela wkwkw. Tapi waktu abis dicopot, saya tanya sama perawatnya,
 “Mbak, kalo saya gak mau diinduksi, biasanya dokternya bilang apa?”
“ya paling dokter nawarin cs mbak...”
“ooo....bunder”
Denger mbaknya bilang gitu saya langsung tengah malam telpon Mumun temen saya yang kebetulan punya kondisi yang sama. Gile nih bumil, tengah malah gangguin busui dan anaknya tidur. Gak sopan banget ya gue hahaha. Tapi untung si mumun dengan baik hati mau mendengarkan keluh kesah saya. Singkat cerita, akhirnya saya mau dipasang lagi infus induksinya dan 2 jam kemudian saya sudah di ruang bersalin. Proses persalinanpun hanya memakan kurang lebih 10 menit. Saya mengejan cuman sekali untuk mengeluarkan Archy, mengejan lagi untuk mengeluarkan ari-ari di dalam perut. Beres deh.

Bagi ibu-ibu yang pengen persalinan yang mudah seperti itu, beberapa tipsnya adalah:
a.    Untuk menahan rasa sakit, jangan rasain sakitnya. Alihkan ke hal lain seperti membayangkan yang indah-indah. Bayangin anak kita terlahir lucu-lucunya. Minta suami mendampingi selama proses berlangsung. Kalo inget perjuangan suami saya selama menemani prosesnya, rasanya terharu banget. Ya tanganya sampe pegel lah gara-gara gak berhenti ngelus-elus punggung saya, ya kena muntahan saya lah, dan masih banyak lagi. Ternyata mengelola mindset itu kunci utama saat melahirkan. Pikiran harus tenang, inhale exhale. Atur nafas, buat kondisi emosi kita senormal mungkin. Bahkan untuk bisa membuat emosi saya semakin baik, saya bela-belain manggil temen saya buat di hypnoterapi, biar makin stabil emosinya. Usaha harus totalitas donk sist hehe.
b.    Selalu siap sedia kurma menjelang persalinan. Nutrisi makanan juga berpengaruh loh pada stamina ibu melahirkan. Saya makan kurma sebelum dan setelah bersalin. Setelah bersalin kita mengeluarkan darah yang sangat banyak. Saya sampai mau pingsan waktu berdiri mau ke kamar mandi. Saya minta suami untuk memberi saya kurma dan teh hangat. Alhamdulillah gak jadi pingsan.
c.    Jangan males olahraga bu ibu. semenjak trimester kedua, seminggu sekali saya usahain renang, karena kebetulan keluarga memang rutin renang. Selain itu saya rutin jalan pagi dan yoga. Saya yoga gak perlu ke kelas yoga. Cukup lihat di youtube prenatal yoga. Tubuh terasa bugar, stamina selalu terjaga (iklan buk???)

3.    LETS SUPPORT ASIX ( ASI EXCLUSIVE)
Setelah selesai melewati proses persalinan yang begitu dramatis, ternyata perjuangan belum sampai disitu. Perjuangan selanjutnya adalah support baby with ASI Exclusive 0-6 bulan. Kenyataanya gak semua ibu setelah melahirkan asinya selalu melimpah. Termasuk saya juga. Setelah melahirkan, 2 hari ASI saya cuman berupa tetesan. Mau bagaimanapun saya terus upayakan biar ASI saya keluar deras. Saya ikutin masukan orang-orang untuk makan adas, katuk, jagung, jamu. Saya kompres PD saya pake air hangat. Semua saya lakukan. Alhamdulillah setelah itu ASI saya deras sekali (yihaaaa). Tapi saya harus ingat kalo 3 minggu lagi, saya harus kembali kuliah. saya memang tidak cuti, karena memang belum bisa cuti. Kebetulan kuliah saya seminggu cuman 3 hari. Tapi teteplah kita harus stock ASI yang banyak. Akhirnya setelah nanya sana sini, ketemulah link yang bisa dijadiin refrensi yang tepat dari teman saya si Nunu. Mulailah saya rajin pumping saat itu. Semakin rajin pumping semakin banyak pula ASI yang diproduksi. Minimal 2 jam sekali kita pumping dengan durasi pumping 15 menit.  
Tapi masalah kembali datang ketika saya awal menstruasi setelah nifas. PD saya tiba-tiba kerasa kempes banget kayak gak ada isinya. Saya mulai panik banget. Padahal sebelum menstruasi ASI saya berlimpah ruah. Cari informasi di internet tetep aja rasanya gak puas. Apalagi di internet bilang menstruasi lebih awal itu terjadi karena bayi tidak disusui ASI sehingga lebih mempermudah terjadinya menstruasi. Aduh saya takutnya setelah menstruasi ASI tidak berproduksi lagi. Akhirnya saya tanya ke Asosiasi ibu menyusui AIMI Solo mengenai kekhawatiran saya. Berikut jawabanya:
“ Bunda, produksi ASI dipengaruhi oleh 2 hormon, yakni prolaktin dan oksitosin. Hormon prolaktin berfungsi untuk memproduksi ASI dan kerjanya dirangsang dengan mengosongkan PD baik dihisap langsung oleh bayi maupun dipompa. Sementara hormon oksitosin berfungsi untuk mengalirkan ASI keluar dan kerjanya dipengaruhi oleh faktor psikologis yang senang, santai, dan rileks. Pada beberapa ibu haid memang dapat mempengaruhi ASInya, tapi bukan berarti akan menghentikan produksi ASI. Insya Allah akan kembali normal setelah rutin memompa.”
Duh lega banget rasanya. Jadi meskipun MENSTRUASI BUKAN BERARTI ASI BERHENTI BERPRODUKSI. Note it. Then, tips agar ASI melimpah antara lain:
a.       Rajin-rajinlah mengosongkan PD dengan rutin memompa atau menyusui 2 jam sekali. Bagi yang ingin memompa teruslah rutin melakukanya meski hasilnya cuman setetes dua tetes. Karena nantinya setelah rutin ASI akan deras kembali.
b.      Pikiran harus rileks saat menyusui dan memompa. Sekali lagi pengelolaan mindset adalah faktor utama suksesnya ASI. Selalu berfikir positif dan meyakinkan diri bahwa ASI kita melimpah walau bagaimanapun kondisinya. Jangan memompa dengan keadaan marah dan kondisi mood yang tidak baik. Percaya kan air yang didoakan sama air yang diberi kata kasar mempunyai kualitas yang berbeda?
c.       Selain mengkonsumsi ASI booster, seperti sayur-sayuran dan suplemen yang lain, air putih tetap menjadi faktor utama lancarnya ASI. Sebelum pumping usahakan minum air putih yang banyak. Jangan sampai dehidrasi kekurangan air karena berpengaruh pada produksi ASI kita.
d.      Jika kita dalam keadaan menyusui dan pumping, setiap pumping kita cukup memerlukan waktu 15 menit. Hal tersebut agar tidak semua ASI dikeluarkan tapi tetap menyimpan untuk kebutuhan si bayi. Tapi kalo saya sedang kuliah biasanya sekali pumping bisa 20 menit atau lebih.

4.    ASIP (air susu perasan)
Menurut saya sih, ASIP gak cuman harus dilakukan bagi mereka yang beraktivitas diluar saja, seperti yang bekerja maupun yang kuliah seperti saya, tapi dianjurkan bagi semua ibu menyusui. Ya daripada kalo ASI kita berlebih kebuang sia-sia kan sayang. Selain itu produksi ASI kita makin lama akan semakin berkurang. Jadi kalo mau sukses lolos S3 sampai 2 tahun ada baiknya stok ASI sedini mungkin. Sebelum kembali beraktivitas, Alhamdulillah saya dapat informasi bermanfaat dari temen saya Citra mengenai apa yang harus dipersiapkan ketika mulai beraktivitas di luar.
Tips persiapan ASIP bagi ibu yang bekerja atau beraktivitas di luar:
a.    Persiapkan alat berperang ASIP. Jadi prioritas utama kebutuhan baby kita adalah peralatan ASIP. Ibarat kata lebih baik kita investasi peralatan ASIP yang bagus daripada beli peralatan yang masih belum penting buat anak kita. Alat berperangnya antara lain adalah Breast pumping atau pompa ASI, coolar bag untuk menyimpan ASI agar tahan lama, dan botol kaca atau plastik bag khusus untuk menyimpan ASI.
b.    Sempatkan pumping kapanpun dimanapun. Meski harus bekerja, waktu terpotong karena perjalanan, sebisa mungkin rutinitas pumping harus terus dijalankan. Hal ini untuk menghindari PD kita mampet karena kelamaan gak dikeluarkan. Lagian kalo udah lama PD rasanya kencang dan itu membuat kita gak nyaman. Kalo di stasiun Jogja ada ruang laktasi yang bisa kita gunakan. Tapi ada juga stasiun yang gak menyediakan ruang laktasi seperti stasiun Purwosari. Sebut merk ajalah, biar sadar bahwa pelayanan publik itu penting hehehe. Kalo gitu minta saja sama petugas untuk ditunjukan ruang yang bisa kita gunakan, pasti ada. Kalo di kampus, ada ruang laktasi tapi di lantai satu, sementara saya kuliah di lantai 4. Saya memanfaatkan rest areanya difabel untuk pumping karena jarang dipakai dan bersih banget. Namanya juga berjuang, semua harus diusahakan J
c.    Bayi bingung puting? Pernah gak denger kasus seperti itu. Sudah ada dua buku yang saya baca menganjurkan untuk menggunakan cup atau sendok dan tidak menggunakan dot susu saat memberikan ASI. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari bayi tidak bisa membedakan mana puting ibunya dan mana dot susu. Ternyata setelah saya lakukan observasi, teori itu cenderung kasuistik. Lebih dari 3 anak yang saya temukan minum ASI dengan dot dan tidak mengalami bingung puting selama si ibu juga tetap menyusui anaknya melalui PD. Jadi, setiap bayi punya karakter yang berbeda-beda dalam menanggapinya. Selain itu, menurut refrensi di buku, bayi yang minum ASI dengan dot nantinya akan merusak pertumbuhan gigi bayi. Saat di lapangan, saya menemukan 2 anak yang saat bayi minum ASI pake dot dan giginya tumbuh bagus sekali, rata, putih, dan tidak ada yang gigis (kecoklatan). Ternyata itu semua karena faktor ibunya yang rajin mengajak anak-anaknya untuk rutin sikat gigi sebelum tidur dan membatasi mengkonsumsi permen. Jadi, faktor utamanya bukan karena dot kan, tapi karena menjaga kebersihan gigi bayi sedini mungkin.  
d.    Selalu sedia tisyu dan hand cleaner. Ketika pumping usahakan tangan kita harus bersih. Cuci tangan dulu, bila perlu gunakan lagi hand cleaner. Kalo posisi gak ada air, bisa gunakan hand cleaner untuk alternatif lain.

5.    BAYI SAKIT? TIDAAAKKK
Semua ibu akan menjawab iya, merasa panik saat anak sakit. Apalagi bayi ya, rasanya gak tega banget lihatnya. Waktu archy usia 3 minggu, tiba-tiba badanya panas hingga 37 derajat. Rasanya gak tenang, apalagi anak pertama. Saya langsung browsing cari cara ampuh menurunkan panas untuk bayi dibawah 6 bulan. Keesokan harinya, panasnya naik turun antara 36 dan 37 derajat. Saya memutuskan untuk pergi ke dokter spesialis anak pagi itu juga. Dokter cuman periksa, kasih resep, udah gitu aja. Saya langsung melongo. Kenapa semudah itu ya langsung diberikan obat. Saya kira beliau akan memberikan alternatif lain lantaran kondisi bayi masih belum genap satu bulan. Setelah saya tembus obatnya, ternyata obatnya termasuk dalam kategori dosis tinggi. Akhirnya saya tetap memutuskan untuk tidak meminumkan Archy obat. Saya susui Archy sejam sekali meskipun kondisinya lemas dan malas untuk menyusu. Saya paksa terus untuk minum. Alhamdulillah, siang hari panasnya menurun 35-36 derajat.
Sakit adalah cara tubuh melawan virus yang akan menyerang ketahanan tubuh kita. Jadi jangan mudah diberikan obat karena obat hanya mematikan symptom bukan menyembuhkanya. Terutama untuk bayi ASIX. ASI adalah suplemen terbaik untuk menyerang penyakit yang masuk ke dalam tubuh. Saat bayi terkena batpil (batuk pilek) juga begitu. Solusinya adalah terus memberikan banyak minum kepada baby kita. Itu menurut refrensi yang saya baca. Bagi yang tidak setuju, silahkan saja hehe.

Tips saat anak mengalami panas, batuk, dan pilek:
a.    Jika anak panas, susuilah sesering mungkin. Cairan ASI dapat berfungsi untuk menurunkan panas bayi. Selain itu, tempelkan bayi ke dada si ibu. Selama anak panas, ibu bisa menggendongnya agar ibu bisa memantau panas tubuh sambil menurunkan suhu panasnya melalui dekapan.
b.    Gunakan ramuan tradisional seperti bawang merah dan kencur. Caranya bawang merah dibakar sebentar, lalu ditumbuk kasar dengan kencur. Balurkan ke tubuh bayi terutama di bagian punggung dengan pijatan lembut. Insya allah ingusnya akan keluar dan tubuh bayi akan terasa hangat.

6.    STIMULASI UNTUK PERKEMBANGAN BAYI 0-6 BULAN
Sekarang ini, banyak sekali kasus anak mengalami delay atau keterlambatan perkembangan dimana usia kronologis tidak sesuai dengan usia mental. Ada anak usia satu tahun yang seharusnya sudah mulai belajar merangkak atau berdiri, ternyata baru saja bisa tengkurep karena si anak selalu digendong oleh pembantunya dan tidak distumulus juga oleh orang tuanya. Selain itu ada juga anak yang didiagnosa mengalami autis ringan bukan karena riwayat ibu saat hamil, namun akibat kurangnya stimulus orang tua pada tumbuh kembangnya. Ternyata si ibu sudah memperkenalkan gadget pada anaknya sejak usia yang sangat dini bahkan saat masih bayi. Miris gak sih, semua akibat kurangnya kepekaan orang tua terhadap tumbuh kembangnya baik secara fisik maupun psikis. Ini PR untuk semua ibu, terutama bagi ibu yang bekerja (karena kasusnya banyak dari ibu yang bekerja). Sesibuk apapun kita, anak tetaplah menjadi prioritas utama. Lantaran banyak pekerjaan menumpuk kita sampai lalai dengan tugas utama kita sebagai sekolah pertama bagi anak kita (naudzubillahimindzalik).  

Lalu bagaimana upaya orang tua dalam memperhatikan tumbuh kembang anak dan apa saja stimulasi yang dapat dilakukan untuk perkembangan bayi 0-6 bulan?
a.    Buatalah daily journal. Orang tua harus tau kapan anak mulai bisa mengangkat kepala, kapan mulai bisa mengenggam barang, dan lain sebagainya. Setelah itu sesuaikan dengan grafik perkembangan anak yang bisa kita dapat di buku, kartu posyandu, maupun di internet dari link yang terpercaya. Memang pada dasarnya setiap anak memiliki tahap perkembangan yang berbeda-beda. Tapi ada pentingnya kita mengobservasi perkembangan anak kita dari hari ke hari. Apabila terjadi sesuatu dengan anak kita lalu kita mengkonsultasikan ke dokter, sudah pasti dokter akan menanyakan kronologi perkembangan anak kita. Dokter itu gak langsung tau si anak ini kena apa sakit apa. Karena yang paling tau persis tahap tumbh kembangnya bukan dokter, tapi orang tua. So be aware please. Sama-sama saling mengingatkan. Kadang saya juga males bawaanya, tapi jangan lah nanti menyesal di kemudian hari. Ya gak sih.
b.    Lakukan small talk, yaitu melakukan percakapan bersama-sama atau komunikasi dua arah yang biasa dikenal dengan conversation turns. Small talk disini adalah bercakap dengan anak, bukan berbicara saja. Mengapa? Karena melatih otak anak bukan sekedar kata-kata yang di dengar, tapi apa yang ia pahami melalui cakap timbal balik. Jika berbicara saja, media televisi, radio, juga bisa menggantikan posisi orang tua dalam berbicara. Namun bercakap, orang tua terlibat langsung di dalamnya. Lakukan percakapan dengan ritme yang tidak cepat serta jelas. Selain itu orang tua harus ekspresif dalam berbicara sambil mengenalkan anak berekspresi.
c.    Lakukan daily baby spa. Sejauh ini, menginjak Archy usia 2 bulan baru sekali saya pijit ke tukang pijit bayi. Selebihnya saya lakukan sendiri setiap pagi dan sore sebelum mandi. Baby spa disini meliputi massage dan take a shower. Manfaatnya adalah untuk melancarkan peredaran darah dan meningkatkan daya tahan tubuh. Secara psikologis manfaat baby spa adalah memperkuat bonding antara ibu dan anak melalui sentuhan. Salah satu efeknya di kemudian hari adalah disaat anak beranjak remaja dimana banyak menghabiskan waktu dengan teman, ia tetap merasa home sick atau kembali kepada kenyamanan ibu kapanpun dimanapun. Karena kebanyakan gape dengan orang tua muncul saat menginjak remaja. Selain itu melalui baby spa, orang tua bisa menstimulus rangsangan yang tepat untuk membantu perkembangan sistem saraf yang kelak mendukung proses belajar anak.
d. Libatkan ayah dalam mendidik anak. cukuplah sudah negara kita dinobatkan sebagai a father less country. bagi yang masih LDM seperti saya, anda bisa berkomunikasi dengan anak dengan menceritakan tentang ayah setiap saat. dan saat bertemu dengan ayahnya, ayah bisa membuat quality time dengan anak. usahakan fokus pada kualitas.
e.    Bagi yang muslim, lantunkan ayat suci Al-Quran sambil membisikan doa di telinganya sebelum tidur. Bacakan juga anak dongeng sebelum tidur sambil menyelipkan hadits sebagai pesan moral yang terkandung dalam dongeng tersebut. It doesnt take much time, but very impactful in creating strong bonds and wonderful memories.
Jadi, ada 6 pengalaman saya sebagai ibu pemula yang semoga bisa menjadi inspirasi bagi para ibu pemula yang lain. Saya harap semua ibu memahami bahwa kitalah yang memilki andil besar terhadap kemajuan bangsa dan negara. Di negara maju, anak adalah tanggung jawab negara sehingga negara amat sangat mensejahterakan para ibu agar mereka bisa optimal dalam mendidik anak. Jadi bagi ibu yang bekerja, mereka diberi cuti berbulan-bulan bahkan ada yang bertahun-tahun. Perusaaan maupun lembagapun akan tetap menerima kembali jika si ibu akan kembali bekerja (uenakee). Tapi, kita tidak perlu menunggu negara kita maju dulu, semua berawal dari diri sendiri sambil berharap semoga negara memberi kebijakan yang mensuport kesejahteraan keluarga.

Sepertinya negara kita sedang ada pembodohan masal dengan membuat kebijakan yang tidak mensejahterakan kebutuhan ibu. bayangin aja pegawai perempuan yang punya anak bahkan bayi sekalipun punya jam kerja yang sama. Gimana yang tinggal di ibu kota, seperti di jakarta. Saat berangkat anaknya masih tidur, pulang kerja anaknya sudah tidur malam. Kapan ketemunya ya (hiks). Jadi jika ingin jadi aktifis feminis kesetaraan gender, perjuangkanlah hal yang rasional. Saat jusuf Kala memberi kebijakan jam kerja yang lebih sedikit untuk para buruh pabrik perempuan, tiba-tiba muncul aksi protes para aktivis feminis yang meminta hak yang sama antara laki-laki dan perempuan. Mereka takut jika waktu bekerja mereka sedikit, gaji mereka juga akan diturunkan. Padahal tujuanya adalah agar perempuan lebih optimal dalam mendampingi anak. Sebenarnya ini yang bodoh siapa gitu. Ah sudahlah. Kita tutup saja short guidance ini dengan bacaan hamdalah. Alhamdulillahirabbil alamin. Selamat membaca dan semoga bermanfaat J


Tuesday, 26 July 2016

OJO GAMPANG GUMUNAN LAN PANIKAN (JANGAN MUDAH TERPUKAU DAN PANIK)

“Bu, kita itu ya harus banyak menghindari kata-kata jangan loh...itu loh kata psikolog ini kita harus blaba...”
“Bu tau gak, kita itu harus ngajarin pendidikan seks sama anak sejak dini loh, dijelasin aja gimana ini ini..”
“Ah saya mah milih ngurus anak-anak aja kalik bu, soalnya dulu ibu saya kerja saya jadi kurang kasih sayang, makanya saya gak pengen anak saya kayak saya...”
“Lihat deh anaku sukses 2 tahun full ASI loh bu, sukses toilet training..kok anak ibu belum bisa gak diajarin ya?”
“Udah jangan dititipin anak sama ortu, bikin susah ortu  aja..lagian kok tega juga sih masih kerja aja anak dititipin ke orang lain?”
“eh anaknya bu ini udah hapal 30 juz Al-Quran loh padahal usianya masih 5 tahun. Yuk bu, kita sekolahin tahfidz aja biar kayak anak ibu itu...eh anaknya bu ini juga udah jago maen piano..keren deh...kita lesin juga yuk biar kayak dia..”

Dan masih banyak celotehan para ibu-ibu muda di sosial media mengenai pengasuhan anak yang dianggap terbaik bagi mereka. Seperti biasa saya paling suka mengamati beberapa respon para mamah muda baik dari komentar maupun postingan mereka di beranda. Saya suka sekali ternyata banyak ibu muda yang mulai aware mengenai ilmu parenting untuk mengasuh anak-anak mereka yang lebih baik. Banyak yang sudah menerapkanya lalu mencoba sharing di sosial media, “Alhamdulillah anaku sudah bisa ini itu...Masya Allah soleh/solehah terus ya nak...” Ada juga yang terkesan memasang komentar miring mengenai pola asuh orang lain yang tidak sejalan dengan persepsi mereka, “Eh liat deh gara-gara diasuh pembantunya tuh, nanya kesukaan anak aja gak tau...” atau “situ sama aja ya kuliah tinggi-tinggi toh yang ngasuh cuman tamatan SD, emang rela anak yang kita anggap berlian dititipin ke pedagang kaki lima?” dan paling banyak adalah melalui komentar ibu-ibu satu sama lain menunjukan pola asuh terbaik yang sudah mereka lakukan, “Anakmu baru diajarin nabung? Anaku udah bisa nabung dari umur sekian loh...eh anaku malah udah bisa beli barang sendiri dari hasil tabunganya...anaku ini itu...” dan seterusnya seakan mereka gak mau kalah kalo anak mereka lebih cerdas dari yang lain.


Sosial media merupakan ruang privasi masing-masing individu dimana setiap orang bebas berekspresi di dalamnya. Mau di sharing apapun itu adalah hak dia sepenuhnya karena mereka menuliskanya di ruang milik mereka masing-masing. Berbeda jika mereka update status galau di beranda orang lain tanpa seijin si pemilik, itu baru namanya menggunakan hak milik orang lain. Hehehee... Jadi sah-sah aja sih menurutku jika para ibu-ibu saling sharing dan berkomentar mengenai pola asuh anak.


Mengenai banyaknya artikel mengenai parenting yang ditulis oleh beberapa pakar anak, psikolog, ataupun yang lainya menurut saya pribadi memiliki sisi positif untuk meningkatkan kesadaran orang tua dalam mengasuh anak. Orang tua memang perlu banyak memahami tumbuh kembang anak agar pola asuh mereka sesuai dengan perkembangan zaman, mengingat anak-anak kita merupakan bagian dari generasi Y atau X dimana kita tidak bisa terlepas dari kompleksitas tantangan teknologi dan tantangan lainya. Namun, yang ingin saya garis bawahin disini adalah bagaimana kita sebagai pembaca bisa menanggapi artikel tersebut sebijak mungkin dan disesuaikan juga dengan kondisi masing-masing.


Saya sejujurnya secara pribadi memiliki perubahan sikap dalam menanggapi ilmu –ilmu baru. Dulu waktu masih kuliah, saya juga termasuk orang gumunan atau gampang terpukau. Semisal setelah seminar yang diberikan oleh pembicara ini, lalu saya gumun dengan kesuksesan ibu itu. Lalu saya menganggap kesuksesan ibu itu perlu ditiru oleh ibu-ibu lain dan cenderung mulai menganggap sebelah mata dengan ibu lain yang tidak seprinsip dengan ibu yang saya kagumi itu. Atau setelah saya membaca artikel tentang pengasuhan anak dari pakar ini, saya mulai meyakini bahwa ini loh..parenting yang bener itu. Selama ini kita salah atau orang tua kita salah dalam mendidik kita. Stop untuk melakukan ini, mari kita mendidikan bangsa kita dengan cara dari pakar pak itu, hati ini seolah bergelora dengan semangat jiwa yang membara.


Namun, semakin bertambahnya usia dan ilmu, semakin banyak pula kita dengan pengalaman dan hal-hal baru yang kita miliki. Semakin bijak pulalah kita menyikapi hal-hal tersebut yang disesuaikan dengan konteks dan situasi yang ada. Dari situ saya ingin berargumentasi pada fenomena yang sudah saya tulis diawal pembukaan. Argumen ini adalah asumsi saya pribadi berdasarkan pengalaman pribadi. Jadi yang tidak setuju atau mungkin menyetujui itu silahkan..hak kalian masing-masing. Tapi saya akan suka sekali jika tulisan ini dikomentari dengan argumen yang membangun dan positif, karena saya haus ilmu dan masukan dari teman-teman yang lain. Silahkan...


Menurut saya sih, ilmu perilaku adalah ilmu yang sangat kompleks dimana setiap individu satu dengan yang lainya memiliki perbedaan atau sering kita sebut dengan induvidual differences. Selain itu perbedaan perilaku bukan hanya ditentukan oleh nature atau gen semata, namun nurture juga berperan andil didalamnya seperti konteks budaya, ras, agama, dan lain sebagainya. Meskipun saya setuju jika nature mendominasi lebih banyak dalam pembentukan pribadi seseorang ( argumen saya didukung oleh proses pengamatan saya terhadap anak-anak di sekitar saya, maka I do agree with that theory hehe). Bahkan teori-teori dasar psikologipun dikemukakan oleh tokoh dengan asumsi yang berbeda-beda. Contohnya aja si Piaget dan si Vygotsky punya pandangan berbeda mengenai proses pengolahan informasi. Dari semua tokoh psikoanalisis yang ada, Jung lah yang banyak membahas transpersonal dalam sisi psikologi manusia. eh ternyata emang dia banyak melakukan penelitian di daerah timur dimana masyarakatnya percaya akan hal mistis. So, para tokoh tersebut memunculkan teori berdasarkan akan eksperimen yang mereka lakukan. Jadi semestinya kalo kita mau bijak yang kita bisa ambil yang sesuai dengan budaya dan kondisi kita masing-masing to?


Maka dari itu setiap ibu memiliki kondisi yang berbeda-beda. Ada yang dia ditakdirkan mendapatkan suami seorang konglomerat dimana dia bisa sepenuhnya menjalankan tugasnya sebagai seorang ibu rumah tangga full time tanpa harus bekerja di kantor. Adapula dia yang hidup dengan suami dimana keduanya saling berkomitmen untuk saling mendukung karir mereka masing-masing, sehingga keduanya memilih untuk bekerja. Ada yang walaupun gaji suami mencukupi (pas) tetap tidak mengijinkan istrinya untuk bekerja dan meminta istrinya fokus untuk mengurus rumah tangga. Lalu, mana kondisi terbaik bagi mereka untuk mengasuh anak? Jawabannya adalah tergantung kepada kualitas mereka masing-masing dalam mengasuh anak. So please gak usah yang namanya menjudge satu sama lain mengenai kondisi Ibu yang tidak sesuai dengan kondisi kita. Belajarlah untuk saling menghargai keputusan masing-masing. Jika memang seorang pakar ini itu mengungkapkan bahwa idealnya orang tua itu seperti ini itu, ambilah yang bisa kita lakukan dimana sesuai dengan kondisi kita saat ini, jangan langsung mentah-mentah memutuskan sesuatu hal lantaran takut jika tidak sesuai dengan yang diungkapkan pakar itu, kita akan gagal mengasuh anak kita. Jika ada suatu hal yang baru, jangan cepat menggebu-gebu untuk mempraktekanya secara keseluruhan. Kan bisa diskusi sama suami, sama orang tua, kira-kira bagaimana jika seperti ini jika seperti itu.


Selain itu juga jangan mudah panik menerima sesuatu yang baru. Aduh, saya nyesel selama ini bilang jangan sama anak. Saya malah marahin anak saya, padahal itu akan mematikan kepercayaan dirinya. Memang betul jika sebaiknya kita memberikan terbaik untuk anak-anak. Tapi ada kalanya anak harus difahamkan dengan konsekuensi, dimana segala sesuatu yang dilakukan memiliki dampak dari apa yang dilakukan. Maka bolehlah sesekali tegas atau marah dengan anak agar anak belajar menghargai dan memahami. Sesuaikan juga konteksnya dengan agama kita. Saya sebagai muslim contohnya mengajarkan anak tentang kewajiban menjalankan solat lima waktu. Apabila sudah pada usia baligh anak tidak menjalankan kewajiban tersebut, saya berhak mengajarkan konsekuensi tentang panasnya api neraka tidak seberapa dengan pukulan (yang sesuai dengan kriteria Rasul) yang diberikan orang tua saat anak tidak salat. Apakah anak trauma setelah itu?apakah digolongkan kepada kekerasan pada anak? Kalo mau lebih jelas, anda bisa membaca buku-buku karya Psikolog Muslim ternama yaitu Prof.Malik Badri agar kita lebih bijak mengambil ilmu psikologi dari Barat. Biar pada penasaran hehehee...selain itu, kita banyak menemukan beberapa perintah dan larangan dalam Al-Qur`an lantas kenapa juga kata-kata jangan itu harus dihindari? Saya pernah MOU dengan Psikologi IIUM Malaysia. Saat itu saya bertanya mengenai apakah kata-kata jangan itu benar-benar harus dihindari saat menegur anak? Pertanyaan saya itu dijawab bijak oleh salah satu mahasiswa IIUM. Setiap anak memiliki karakter yang berbeda-beda. Maka ada anak yang termotivasi melalui larangan, ada juga anak yang termotivasi melalui kata seruan. Semua ada porsinya. Jawaban yang cerdas, saya jadi semangat mempelajari psikologi Islam saat itu...


Kepanikan lainya adalah ketika seorang pakar mengajurkan untuk tidak menitipkan anak pada orang lain. Anak-anak adalah tanggung jawab orang tuanya sendiri. Ibu masih bisa kok bekerja jika anak sudah berusia 8 tahun. La kalo semisal anak pertama sudah 8 tahun, sementara anak kedua ketiga keempat belum 8 tahun gimana? Toh jika ada negara yang menganjurkan seperti itu kita lihat juga apakah kondisi negara tersebut sesuai dengan negara kita. Negara kita adalah negara yang berkembang tidak bisa disamakan dengan negara maju yang mungkin sudah menjamin kehidupan bangsanya dengan memberikan fasitlitas terbaik yang diberikan gratis oleh pemerintah, seperti sekolah gratis, rumah gratis, dll. Itu hanya gambaran besarnya saja, selanjutnya bisa anda amati sendiri. Terus kalo memang orang tua kita atau nenek kakeknya si cucu sangat ingin mengasuh anak kita daripada harus dititipkan oleh pembantu misal, karena si Ibu harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan si anak? Si Ibu ini kan juga bagian dari ikhtiar untuk memnuhi kebutuhan anak? Salahkah? Kembali ke pribadi dan kondisi masing-masing. Sebetulanya membangun bonding atau ikatan pada anak itu gak bisa ditentukan dengan kondisi ibu bekerja atau tidak. Karena apa? Karena bonding terbentuk dari kualitas ibu memberikan perhatian sepenuhnya pada anak. Contoh walau si ibu bekerja, tapi ibu tetap punya quality time sama anak untuk saling sharing, ibu walau kerja tidak pernah melewatkan untuk memasak makanan untuk anak-anaknya. Tuh, dengan hal terkecil aja seperti memasak, ibu bekerja masih bisa membangun kelekatan dengan anak, karena nantinya anak jadi selalu dekat dengan ibu agar bisa merasakan masakan ibu. Terlebih ibu rumah tangga tentunya akan banyak bisa memberikan quality time dengan anak. Nah, kalo gini semua profesi ibu baik full house mom atau carrier mom masing-masing bisa sukses kan membangun bonding pada anak?


Lalu ada lagi fenomena nggumunan ketika Musa hafidz cilik bisa hafal Al-Qur`an, si Joey si pianist cilik yang masuk Grammy award. Lantas semua ibu menggebu-nggebu ingin anaknya seperti mereka. Setau saya para orang tuanya pun sangat konsisten menstimulus anaknya untuk bisa seperti itu bahkan sejak dalam kandungan. Percuma saja jika menggebu-gebu diawal lalu berakhir dengan panas-panas tai ayam. Tenangkan diri, kenali potensi si anak, kira-kira kemampuan ingatanya kuat gak untuk menghafal. Toh kata dosen saya anak tidak harus dipaksa jadi hafidz Quran, yang terpenting adalah bagaimana akhlaknya bisa sesuai dengan ayat-ayat Al-Quran. Bukan hafal semata namun juga memahami kandungan yang ada sehingga bisa diterapkan dalam perilakunya. Iya kan?



Sudahlah ya, kita berakhir kesimpulan. Terlalu panjang nih argumenya, maafkan hihihi... intinya adalah kita harus bijak menerima sesuatu yang baru. Pertimbangkan diskusikan. Jangan pula menjduge orang tua kita sendiri memiliki pola asuh yang salah kepada kita. Everything happen for a reason. Kita bersyukur sudah dibesarkan sedemikian ini dan berterimakasihlah kepada orang tua sebaik dan seburuk apapun yang mereka berikan kepada kita, karena merekalah kita ada disini. Ambil baiknya dan Fokus pada diri kita masing-masing.  Zaman yang serba banyak tantangan ini orang tuanya akan sukses mendidik anak jika dilakukan dengan basis komunitas atau kelompok. Kalo egois pengenya bener sendiri,paling oke sendiri, ke laut aja deh . sudah gak zaman. Waktunya kita adalah saling mensupport satu sama lain. Saling memberikan masukan positif, bukan malah menjatuhkan atau memicingkan sebelah mata kepada mereka yang diberikan kondisi yang berbeda dengan kita. Mari bersama-sama mendidik generasi penerus bangsa dengan kebersamaan dan keihklasan. Amin......