Friday, 4 May 2018

PILIH PRO VAKSIN ATAU ANTI VAKSIN?


Baiklah, berhubung semua udah pada penasaran mengenai pro kontra vaksinasi saya akan coba mereview dari beberapa referensi buku dan jurnal yang saya baca. Tapi harus tau dulu ya latar belakangnya kenapa saya duper penasaran mencari tau tentang ini, supaya kalian tahu bahwa saya bukanlah seorang dari latar belakang dari sayap kanan maupun sayap kiri.

Saya memposisikan diri saya sebagai kubu netral karena saat ini saya sedang ingin mencari tahu kebenaran diantara keduanya. Saya memang ikut imunisasi sampai saat ini. Baru sekedar ikut karena memang dianjurkan pemerintah tapi belum banyak mencari tahu tentang manfaat dan mudharat vaksin. Namun, muncul beberapa isu terkait bahaya vaksin dan para antivaksin yang mulai merajalela di sosial media. Saya sendiri sangat menghargai pendapat masing-masing orang, baik yang pro vaksin maupun yang anti vaksin. Namun setiap ada informasi yang diperoleh, ada baiknya kita wajib mencari tahu kebenaran dari setiap berita. Apalagi berita yang diterima tidak banyak mencantumkan referensi yang kuat. Bukankah sudah tertera dalam QS. Al-Hujarat ayat 6: “ hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengikuti keadaanya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatan itu.”

Disini saya akan mengutip beberapa statemen dan informasi mengenai kontroversi vaksin dan tanggapan saya mengenai hal tersebut:

1.  Beberapa statemen yang menyatakan anak mereka cenderung lebih sehat tanpa menggunakan vaksin. Anak yang diberi vaksin cenderung rentan terkena sakit dibandingkan anak yang tidak diberi vaksin.

Dari statemen ini, yang wajib kita kritisi adalah apakah penyataan tersebut bukan subjektif dan didukung oleh data-data yang objektif? Seperti layaknya suatu penelitian, kita harus tahu validitas informasi yang diketahui. Semisal jika seorang menyimpulkan hasil penelitianya dengan membandingkan anak pertama dan anak kedua saja tentu saja hal tersebut mempunyai banyak ancaman validitas. Bisa jadi anak pertama dan kedua memiliki riwayat kehamilan yang berbeda meskipun dibesarkan dalam lingkungan yang sama. Belum lagi pengalaman orang tua mendidik anak pertama dan anak kedua, misalnya saat anak pertama orangtua cenderung lebih mawas dan berhati-hati, sehingga merasa sakit sedikit anak segera diobati misalnya. Maka dari itu pentingnya kita mencari tahu data yang akurat seperti jurnal penelitian sehingga kita tahu beberapa sampel yang digunakan dalam penelitian tersebut dan lain-lain.

Selain itu, bisa jadi anak yang tidak divaksin tersebut tidak terkena penyakit karena terlindungi dari sekelompok anak yang divaksin. Jadi analoginya vaksin merupakan payung dalam sekelompok orang/komunitas yang memberi manfaat proteksi bagi sekelompok orang apabila mayoritas kelompok tersebut divaksin. Istilah tersebut dikenal dengan herd immunity (Ismail, 2014).
2.      Kurang lebih 7 orang dari jurusan S1 medis (contoh kedokteran, keperawatan, kesehatan masyarakat, dll) yang saya tanya apakah vaksin dikaji lebih spesifik saat perkuliahan, atau sering dijadikan penelitian skripsi dll? mengingat vaksin merupakan rutinitas yang selalu ada di setiap waktunya. Sayangnya informasi yang saya peroleh masi berupa kajian pengantar. Saya mulai curiga dan penasaran. Jika saya tidak mencari tahu mungkin saya mengasumsikan bahwa vaksin hanya bisa diteliti oleh pihak tertentu dan dirahasiakan.

Daaan ternyata saya baru tahu, bahwa imunologi bukan suatu hal yang mudah dipelajari, bahkan tidak semua dokter mampu menjadi ahli di bidang ini. Itu sebabnya seorang dokter yang gagal mempelajarinya akan menentang vaksin tersebut (Nugraha, 2014). Ingat ya, tidak semua dokter ahli di bidang ini, lalu bagaimana kita bisa mempercayai seseorang yang bahkan bukan dari latar belakang medis dan baru belajar beberapa bulan bahkan hari?

2. Vaksin berbahaya karena pengawetnya terbuat dari mercury. 

Bahkan vaksin menjadi salah satu pemicu anak menjadi autis, karena pemicu autis bukan dari faktor kehamilan saja, bahkan bisa juga dari faktor lingkungan seperti saat kecil teracuni logam berat. Seperti kasus di Jepang yang 1 kampung mengalami gila karena makan ikan dari laut yang sudah tercemari limbah pabrik yang mengandung logam berat dalam konsentrasi yang tinggi.
Jawaban dari statemen diatas sangat mudah kita bantah karena sudah sangat jelas terlampir dalam jurnal yang pernah saya review:
“Beberapa penelitian menunjukan bahwa perkembangan autisme disebabkan oleh beberapa faktor. Ada beberapa indikasi dimana gangguan tersebut disebabkan oleh faktor genetik. Namun, penemuan yang paling banyak bahwa gangguan ini disebabkan oleh faktor kompleks pada masa kehamilan. Beberapa bukti menunjukan bahwa adanya luka atau kerusakan secara genetik pada tahap perkembangan awal kehamilan sehingga menimbulkan perilaku autisme (Pennington, 2002). Pada umumnya, kerusakan pada kehamilan awal disebabkan oleh virus measles-mumps-rubella (MMR). Namun studi empirik menunjukan tidak ada korelasi antara autisme dengan pemberian imunisasi. Penemuan ini menunjukan bahwa timbulnya autisme tidak berkorelasi pada vaksin MMR.”
Jika memang lapisan mercury yang bercampur vaksin berbahaya bagaimana bisa vaksin tersebut teruji secara klinis. Padahal uji klinis vaksin itu bukan hal yang mudah karena harus melewati berbagai fase agar aman atau mempunyai efek samping yang dapat ditoleransi. Selain itu, jika dikorelasikan dengan kasus di Jepang, bisa jadi Jepang sampai sekarang sudah menjadi negara Antivaksin. Sofyan dan Nurwidiya (2014) yang merupakan kepala bidang pelayanan kesehatan FAHIMA di Jepang menyatakan bahwa di Jepang sendiri sebagai negara maju mewajibkan vaksinasi bagi seluruh anak-anak, termasuk warga asing. Wajib tidaknya satu jenis vaksin berdasarkan angka kejadian penyakit di wilayang Jepang. Contohnya di jepang Hepatitis B tidak wajib diberikan, sementara di Indonesia wajib diberikan. Jadi setiap negara berbeda-beda karena disesuaikan dengan angka kejadian di negara tersebut.

3. Vaksin haram hukumnya, vaksin merupakan konspirasi dan senjata yahudi untuk melumpuhkan generasi muslim.

Kita sudah diberikan pedoman Al-Quran untuk mengeksplorasi alam semesta ini seperti dalam QS. Ali Imran 190-191. Hasil eksplorasi alam semesta itulah ditujukan untuk kebaikan umat manusia itu sendiri dan sekaligus untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. Vaksin sebetulnya sudah lama diterapkan pada muslim Turki pada abad 18 yang memiliki kebiasaan menggunakan nanah dari sapi untuk penderita penyakit cacar sapi. Hal tersebut kemudian dibawa ke Inggris, lalu diteliti dan dipublikasikan sehingga vaksin semakin berkembang pesat. Beberapa ulamapun memberikan fatwa bahwa vaksinasi diperbolehkan seperti Syaih Abdul Aziz bi Baz dari Saudi, DR. Yusuf Al-Qaradhawi ulama dari Qatar. Negara di timur tengah yang mayoritas pendudukanya muslimpun mewajibkan imunisasi di negaranya seperti Arab Saudi, Mesir, dll (Yanuarsno, 2014). Jika ada yang menuduh vaksin sebagai konspirasi, hal yang sangat perlu dicermati adalah: bisa jadi hal yang engkau percayai itu justru merupakan konspirasi “mereka” untuk melemahkan generasi kita supaya kita terus merasa ketakutan, menjadikan kita menjadi bodoh, dan malas menuntut ilmu. Itu yang menjadi garis bawah dan perlu kita renungkan

Jadi kesimpulanya setelah saya mencari jawaban dari rasa keingintahuan saya adalah apakah saya kemudian menjadi pro vaksin atau anti vaksin? Jawabanya itu merupakan keyakinan saya dan orang lain tidak perlu ingin tahu pilihan saya. Kenapa seperti itu? karena saya sadar, saya hidup dalam masyarakat kolektif, dimana kita paling suka ngikut yang paling banyak pengikutnya dan ngikut yang lagi ngetren. Kemudian itu menjerumuskan kita untuk malas cari tahu hal yang sebenarnya. Seperti QS. Al-Alaq; iqra` bacalah, cari tahulah, jangan berpangku tangan pada satu orang. Setiap orang mempunyai kesadaran untuk meluruskan berita dari orang fasiq, bukan ikut terjerumus pada kefasiqan. Apa yang saya ditulis diataspun bahkan belum tentu benar 100 persen. Maka masing-masing dari kita diwajibkan untuk banyak mencari tahu dan belajar seluas-luasnya. Usiikum Waiyaya.

Ditulis oleh:
Tsurayya Syarif Zain (bukan ahli medis. Cuman ibu rumah tangga biasa yang mereview refrensi yang diperoleh).

Daftar Pustaka;
Eric A. Zillmer, Mary V. Spiers, William C. Culbertson (2008). Principles of Neuropsychology, Second Edition. Thomson Higher Education: Belmont, USA
Jeste, Shafali (2011). The Neurology of Autism Spectrum Disorders. NIH Public Access. Published in final edited form as: Curr Opin Neurol. 2011 April ; 24(2): 132–139. doi:10.1097/WCO.0b013e3283446450.
Ismail, dkk (2014). Kontroversi Imunisasi; Kumpulan Tulisan 33 Ahli; Dokter, Pakar kesehatan, dan Pakar Syariah. Jakarta: Pustaka Al Kautsar

SILATURAHMI KOMUNITAS HOMESCHOOLING PALEMBANG


Salah satu upaya saya untuk mengatasi kestressan tinggal di lingkungan baru adalah bersosialisasi dan mengikuti kegiatan positif di daerah setempat. Setelah 2 tahun menjalani masa LDR dengan suami (saya di jawa suami di sumatera), saya kembali tinggal bersama-sama suami di kota Palembang meskipun kami sudah pindah di komplek baru, sudah tidak di komplek pertama kali kita menikah. Beberapa upaya saya untuk bersosialisasi dan ikut kegiatan positif adalah dengan cara ikut arisan RT, nemenin anak ke TPA ( meskipun nggak ngaji cuman maen aja hehe), dan mengikuti komunitas parenting yang ada di palembang. Awalnya saya sudah cari-cari info dulu sebelum pindah untuk tahu komintas apa yang sesuai dengan passion dan misi hidup saya. Akhirnya saya memutuskan untuk gabung di komunitas homeschooling, IIP Palembang, dan komunitas Playdate Palembang.



Well, saya ingin sedikit (banyak kalik haha) bercerita tentang kegiatan yang sudah mulai saya ikuti di komunitas yang saya pilih. Pertama adalah dengan gagah beraninya saya mengusulkan diri untuk menjadi tuan rumah forum silaturahmi komunitas HS palembang yang saya ikutin. Habisnya grupnya kok sepi amat yaa..gak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Gak seperti komunitas HS di Jawa ( seperti semarang dan salatiga) yang punya aktivitas yang super duper keren. Ah sudahlah gak usah banding-bandingin. Saatnya mulai dari diri sendiri hahay...

Yatsudahlah...setelah rembukan kurang lebih dua bulan lamanya, akhirnya rencana saya menjadi tuan rumahpun terlaksana. Meskipun...yang datang cuman 3 keluarga dari 15 keluarga hahahaa..gapapalah, yang penting sudah diniatkan untuk berkontribusi dan silaturahmi biar nambah temen seprinsip. Selain itu ada manfaat lain juga yaitu memfasilitasi archy untuk menambah relasi teman hehee..dan justru dari melihat anak-anak bermain itulah saya menjadi banyak belajar mengamalkan ilmu saya sebagai orang tua.

Ya, seperti yang kita ketahui bahwa setiap anak bermain selalu tidak terlepas dari keributan, berantakan, teriakan, rebutan mainan, dan pastinya adalah kebahagiaan yang selalu terpancar. Memang, pada dasarnya bermain merupakan cara terbaik anak untuk bereksplorasi, mengekspresikan emosi, sehingga anak-anak akan lebih sehat baik secara fisik maupun mental.
Okey, dari mengamati anak-anak asik kruwelan bermain itu saya dapat mengambil pembelajaran manfaat bermain dengan anak lintas usia, budaya, dan orang tua. Diantaranya adalah melatih responsibility, sense of belonging, dan social skill anak. Baiklah, kita coba deskripsikan satu persatu yaakk...
  1. Melatih responsibility. Saat anak bermain, hal yang tentunya akan selalu kita temui adalah menemukan mainan mereka berantakan dan berserakan dimana-mana. Mau itu mainanya sendiri maupun mainan milik temanya. Mari kita latih anak untuk membereskan barang yang sudah mereka mainkan supaya anak terlatih untuk bertanggung jawab merapikan kembali mainan-mainan tersebut. Baik di rumah sendiri atau di rumah orang lain, biasakan orang tua untuk ikut terlibat dalam membereskan mainanya, supaya anak-anak selalu terbiasa tidak asal nyelonong pergi dan pamit tanpa membereskan mainanya terlebih dahulu. Selain mengajarkan anak adab bertamu. meski pada dasarnya dunia anak adalah bermain, namun kita harus tetap mengajarkanya adab sopan santun dengan penuh kasih sayang
  2. Melatih sense of belonging anak. Sudah dipastikan kalo udah mainan itu selalu ada adegan rebutan maenan. Kadang ortu juga bingung mau ngebelain anaknya atau disuruh ngalah terus. Kalau saya pribadi, saya mencoba melatih Archy untuk kenal ini maenan milik siapa. Kalo bukan milik archy, archy harus ijin dulu sama yang punya. Kalo dibolehin pinjam, saya ingatkan kalo habis maen harus dikembalikan ke pemiliknya kalo diminta. Kalo gak dibolehin, saya coba alihkan dia ke hal yang lain supaya dia bisa menerima. Sebaliknya, kalo maenan Archy mau direbut temenya, saya beri ruang waktu sebentar untuk berdamai. Saya kasih arahan ke temenya yang merebut mainanya kalo ini maenan archy maka harus ijin dulu. Kalo udah dikasihkan ke Archy, saya bilang ke Archy kalo maenanya gak boleh dipinjemin saya suruh simpen maenanya ke dalam kamar atau ke dalam tas mamanya. Ada kalanya anak juga harus mempertahankan apa yang dia miliki dan ada kalanya dia bisa sharing dengan apa yang dia punya. Kelak hal terebut dapat melatih anak untuk tidak mudah terkena bully. Kalo orang tua selalu membiasakan anak buat disuruh ngalah terus menerus, maka anak akan belajar mengalah dalam segala macam hal, bahkan dalam situasi yang mengancam. Dia juga harus punya self defense untuk mempertahankan hak yang ia miliki. Maka kita sebagai orang tua harus banyak-banyak melatih diri untuk mengarahkan sense of belonging pada anak.
  3. Melatih social skill. Ada suatu cerita tentang seorang ibu yang marah ketika si anak memanggil namanya dengan sebutan kau. Si ibu bilang itu tidak sopan. “Ini nih gara-gara dia tinggal di lingkungan gak baik jadi ikut-ikutan ngomong kasar kayak temenya” Namun tiba-tiba saya mendengar bahwa justru teman anak si ibu juga selalu bilang kata “kau” ke siapapun yang ia sapa. Ternyata ibu dari anak ini memang orang asli sumatera jadi biasa saja kalo anaknya berkata seperti itu, sementara ibu yang marah saat anaknya bilang kau itu berasal dari jawa dimana kata tersebut tidak sopan untuk disampaikan. Saya mengambil pelajaran dari hal tersebut adalah orang tua semestinya tidak perlu reflek marah dengan perilaku anak yang tidak pernah ia harapkan dan bahkan tidak ia ajarkan. Orang tua mencari tau kenapa anak bisa berperilaku seperti itu. Kemudian ortu bisa menasehati kalo hal tersebut adalah budaya (termasuk bahasa) temen kakak, kalo orang tua kakak berasal dari budaya yang berbeda, jadi kakak juga harus tau kalo ibu gak suka kalo kakak bilang gitu ke ibu. Dari situ anak akan belajar makna toleransi. Jika kita saklek mengatakan salah pada anak, maka anak pun merasa bingung dimana titik kesalahanya. Belajar menjadi orang tua yang bijak, tenang, dan komunikatif merupakan kunci untuk melatih anak memecahkan masalah dan menghadapi situasi-situasi baru dalam lingkunganya.


     Well, rupanya jika kita selalu berpikiran positif, akan banyak hal yang dapat kita jadikan pembelajaran dan terus berupaya mengupgrade diri kita untuk menjadi orang tua yang lebih baik. Semoga kadepanya bisa makin bersinergi dalam kegiatan-kegiatan positif lainya.  Ditunggu tulisan kegiatan #bundaproduktif selanjutnya yaa.. yang jelas makin seru dan bermanfaat. Salam bunda produktif J

Saturday, 14 April 2018

REVIEW DAN TIPS MEMILIH KULWAP UNTUK PARA IBU JAMAN NOW

Diera serba digital seperti sekarang ini, kemudahan akses internet dan sosial media sangat membantu para ibu untuk mengakses informasi seputar parenting maupun stimulasi kegiatan anak. Bahkan informasi tersebut semakin kaya dengan maraknya kulwap (kuliah whatsApp) yang didakan oleh instansi, komunitas, dan perorangan yang pandai meliat peluang dari antusias para ibu-ibu jaman now yang begitu haus akan informasi parenting terkini. Saking buanyaknya topik kekinian yang dipromosikan, sampai-sampai banyak para ibu-ibu ini kebanjiran grup baru yang memenuhi beranda wa..ting tang ting tung..suaranya berdering tiada henti, bahkan bukan hanya hapenya saja yang ikut memanas tapi otaknya juga ikutan panas karena overload hehe.


Btw, Saya juga pernah lo jadi korban kulwap overload hahahaa (ngaku deh). Pandangan saya saat itu, belajar hal yang baru bagi saya memberikan manfaat besar untuk bekal saya mendidik anak. Namun kenyataanya, informasi yang terlalu banyak diterima justru membuat diri kita kehilangan arah dan garis awal untuk memulainya. Dan agak keselnya lagi, beberapa sesi kulwap rupanya berujung pada ajang promosi, sharing yang dari beberapa anggota lain yang kadang asal bunyi, atau ajang buat buka lapak pribadi. Hiaaa...suka-suka mereka sih, siapa suruh juga ikutan? hahaa
Namun, semakin berkutik didunia perkulwapan, saya mulai menyadari untuk menyusun skala prioritas untuk menentukan kulwap yang dibutuhkan (bukan yang diinginkan) dan selektif memilih kulwap yang kredibel, dan tentunya bukan sekedar sharing tanya jawab juga melainkan juga building character. So far, saya akan melampirkan kulwap yang pernah saya ikuti dan memenuhi kriteria tersebut. Ok, lets check this out!

- Kulwap Institut Ibu Profesional
Institut Ibu Profesional (IIP) merupakan forum belajar para ibu dan calon ibu yang ingin meningkatkan kualitas diri sebagai seorang perempuan, istri, dan ibu. Kegiatan IIP cukup beragam, salah satunya adalah kelas pembinaan online dan offline yang terdiri dari beberapa program bertahap. Program tahap awal adalah program matrikulasi yang bertujuan untuk membuka wawasan, menyamakan frekuensi para calon ibu dan ibu pembelajar (sumber: www.ibuprofesional.com) . Nah, kebetulan saya baru ikut kelas online untuk program matrikulasi IIP ini. Jadi kegiatanya bukah hanya sekedar sharing ilmu saja, tapi kita juga diberikan Nice Homework (NHW) selama 9 kali setiap pekan dalam program kelas matrikulasi. Warrr biasyaak kan maak. Berasa sekolah lagi tiap minggu disuguhi Pe er hahaa... Anyway berkat NHW inilah yang bikin kita merasa dibina dan diarahkan untuk menjadi emak yang super kecee. Berawal dari NHW bagaimana kita menentukan passion kita, menyusun checklist indikator sebagai ibu profesional, menentukan bakat kita hingga kita mampu menyusun kuadran aktivitas dan menyusun misi spesifik hidup kita agar menjadi perempuan yang kontributif, cerdas, dan menginspirasi. Hiyaa puanjangnyaaaaah...gapapa lah yaa biar pada penisirin mau ikutan kelasnya :D. Setelah melampaui 9 kali NHW itulah kita ditentukan lulus tidaknya untuk bisa mengikuti kelas di program selanjutnya. Jadi kita gak bisa main-main asal dapet info langsung pergi ke tetangga sebelah gitu saja, tapi benar-benar dididik dan diarahkan sesuai dengan visi misi IIP yaitu meningkatkan kualitas para ibu dan calon ibu. Untuk bisa ikut kelasnya memang kita perlu invest 100.000, tapi harga segitu menurut saya sebanding lah dengan apa yang kita dapatkan setelah ikut kelas MIIP. Untuk saat ini kelas matrikulasi sudah sampai batch 5 dan untuk pendaftaran batch selanjutnya masih belum dibuka. For more information silahkan pantau terus webnya www.ibuprofesional.com supaya tidak ketinggalan berita ya mak :D

- Kulwap Rumah Inspirasi
Rumah inspirasi merupakan forum untuk belajar mengenai homeschooling, parenting, pendidikan, dan manajemen rumah tangga. Rumah Inspirasi seringkali mengadakan webinar mengenai homeschooling. Meski mamak-mamak tidak berkeinginan untuk menerapkan homeschooling, namun bagi saya prinsip2 homeschooling sangatlah bagus untuk diterapkan dalam mendidik anak-anak kita. Terlebih mengarahkan kita sebagai ortu untuk banyak memberikan cinta, waktu, dan perhatian kepada anak. Adapun Webinar yang pernah saya ikuti di Rumah Inspirasi ini adalah Webinar tentang Homeschooling anak Usia Dini (HSUD) dan 10 Ketrampilan Dasar yang penting dipelajari setiap anak. Untuk webinar HSUD terdiri dari 4 sesi yang nantinya kita juga akan diinvite ke Kulwap HSUD sebagai forum sharing bagi para ortu sesama praktisi dan pembelajar HSUD. Setiap sesi kita diberikan beberapa video seminar dan tanya jawab, ebook tentang materi, dan juga postcast yaitu sharing dari para praktisi HSUD dari berbagai daerah dan negara. Materinya sangat sistematis sehingga kita bisa belajar dari awal tentang apa itu HS, kenapa memilih HSUD, bagaimana kurikulum, hingga pada tahap pelaksanaan.
Untuk Webinar 10 ketrampilan, saya masih ongoing ikut webinarnya. Insyallah saya akan tulis lebih detail mengenai review materi webinar supaya para mamak-mamak punya gambaran untuk memutuskan mengikuti kulwapnya.


Ok, jadi baru ada dua itu kulwap yang bisa saya rekomendasikan. Sejujurnya saya bukan promosi bahkan endorse dari keduanya, karena saya juga cuman pembelajar yang haus ilmu dan bekal dalam mendidik anak-anak. Saran saya, saat mengikuti kulwap jangan lupa tips-tips berikut:

TIPS MEMILIH KULWAP:
- Tentukan skala prioritas kita. Kira-kira urgent gak untuk dipelajari. Misal kita lagi sibuk mengurus anak kita yang 1 tahun, tapi kita mau ikutan kulwap tentang cara mendidik anak usia remaja. Nah, okelah kalo kita cuman kepengen menimba ilmu. Tapi bukankah esensi dari berilmu itu adalah beramal. Jadi menurut saya lebih baik kita fokus pada hal yang bisa langsung kita terapkan ilmunya.
- Jangan sampai kita kena sindrom FOMO (fear of missing out), yaitu sindrom dimana seorang takut akan ketinggalan informasi terkini. Duh sekarang jamanya lagi tren model belajar ini, gaya MPASI ini, itu, yayaya.Silahkan kembalikan pada prinsip kalian sebagai orang tua. Diskusikan dengan pasangan, pilih mana yang terbaik dan sesuai dengan karakter anak kita. Tidak semua yang menjadi tren itu cocok dengan karakter anak kita, jadi sebaiknya pelajari dan telurusi baik-baik tentang segala hal yang sedang tren.
- Berjanjilah untuk mempraktekan usai mengkuti kulWap. Jangan cuman sekedar masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Harus ada action-nya dan konsisten. Ini lo mak tantangan besarnya. Dan saya pun masih terus belajaarr terus untuk bisa konsisten. Yuk, sama-sama saling mengingatkan.


Jadi, kurang lebih seperti itu review dan tips yang saya berikan. Saya tekankan lagi, semua yang saya tulis berdasarkan pengalaman saya, jadi semisal ada yang punya rekomendasi dan tips lain yang lebih kece boleh banget sharing infonya. Yang jelas, saya niatkan semoga info ini bermanfaat untuk para mamak-mamak sekalian. Ambil yang bagusnya aja ya mak hehe..deuu campur-campur ya manggilnya mamak lah, ibu lah bunda lah, maksudnya supaya ditunjukan pada seluruh ibu dari berbagai macam panggilanya gitu hahaa..Sudahlah ya kita akhiri dulu.. silahkan kasih komen dan masukan bagi yang ingin memberi masukan, Terimakasih 

Thursday, 22 March 2018

MISI SPESIFIK HIDUP DAN PRODUKTIFITAS – NHW 8



Bunda, setelah di materi sesi #8 kita belajar tentang bagaimana pentingnya menemukan misi hidup untuk menunjang produktivitas keluarga. Maka saat ini kita akan lebih menggali bagaimana menerapkannya secara teknis sbb :
a.    Ambil salah satu dari ranah aktivitas yang sudah teman-teman tulis di kuadran SUKA dan BISA (lihat NHW#7)
b.    Setelah ketemu satu hal, jawablah pertanyaan “BE DO HAVE” di bawah ini :
1.    Kita ingin menjadi apa ? (BE)
2.    Kita ingin melakukan apa ? (DO)
3.    Kita ingin memiliki apa? (HAVE)
c.    Perhatikan 3 aspek dimensi waktu di bawah ini dan isilah:
1.    Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)
2.    Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan ( strategic plan)
3.    Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun ( new year resolution)
Mulailah dengan PERUBAHAN, karena pilihannya hanya satu BERUBAH atau KALAH
Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulsi IIP/


Jawaban NHW #8
A.    Kuadran 1: URGENT (Do: manage)
1.    mengajar
2.    menulis jurnal
3.    memanajemen kelas
4.    practice English skill
B.    (1) Kita ingin menjadi apa?
1.    Dosen
2.    Pakar Parenting
3.    Penulis buku
(2) Kita ingin melakukan apa?
1.    Lanjut S3 ke luar negeri
2.    terlibat dan memimpin komunitas parenting
3.    menulis 1 day 1 paper
(3)Kita ingin memiliki apa?
1.    Gelar Ph.D
2.    Buku Parenting
3.    Sekolah / Daycare
4.    Jaringan dan ilmu yang luas
C.   Aspek dimensi waktu:
1.    Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu kehidupan kita (lifetime purpose)!
-       saya ingin memiliki sekolah/TK yang sangat berpedoman pada psikologi pendidikan dan perkembangan serta Al-Qur`an dan Al-Hadits dalam pelaksanaanya
2.    Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan ( strategic plan)
-       melanjutkan S3 ke luar negeri
-       menerbitkan buku parenting
-       memiliki komunitas parenting


3.    Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun ( new year resolution)
-       mengikuti kursus IELTS
-       mengikuti pelatihan homeschooling dan montessori Islam
-       aktif menulis blog tentang parenting ( minimal 1 minggu 3 tulisan)


NICE HOMEWORK #7 – TAHAPAN MENUJU BUNDA PRODUKTIF



Pada tanggal 7 Maret 2018, saya mencoba menganalisis kekuatan diri saya melalui pencarian bakat diri di www.temubakat.com. Hasil dari analisa yang saya peroleh adalah sebagai berikut:



 
\
Hasil analisis menunjukan bahwa saya memiliki 7 potensi kekuatan yang semestinya harus saya optimalkan dalam kehidupan sehari-hari. Potensi kekuatan yang saya rasa sangat cocok dengan kondisi saya saat ini adalah sebagai berikut:
1.       Educator. Saya memang suka mengajar. Dari SMP saya sudah mengajar. Usai lulus SMA saya mengajar sebagai pengabdian. Hingga saat ini saya bekerja di ranah pendidikan yaitu sebagai seorang dosen. Jadi alhamdulilah kekuatan ini sudah berusaha saya optimalkan sebaik mungkin
2.       Explorer. Saya suka berpetualang, menjadi seorang delegasi dalam suatu kegiatan, mencoba hal-hal baru, dan belajar mengamati dari apa yang saya eksplorasi
3.       Journalist. Saya suka menulis diary, meneliti, blogging, menulis artikel, jurnal, dan saat ini saya sangat menyukai penulisan yang berkaitan dengan karya ilmiah
Melalui hasil yang saya peroleh, saya mencoba untuk membuat kuadran aktivitas saya. Kuadran aktivitas ini terbagi menjadi 4 kuadran yaitu :
Kuadran 1 : Aktivitas yang anda SUKA dan anda BISA
Kuadran 2 : Aktivitas yang anda SUKA tetapi andaTIDAK BISA
Kuadran 3 : Aktivitas yang anda TIDAK SUKA tetapi anda BISA
Kuadran 4: Aktivitas yang anda TIDAK SUKA dan anda TIDAK BISA


Kuadran 1: URGENT (Do: manage)
-          mengajar
-          menulis jurnal
-          memanajemen kelas
-          practice English skill


Kuadran 2: NOT URGENT (Decide: Focus)
-          berkebun
-          memasak
-          design interior
-          renang
Kuadran 3 : DELEGATE ( to avoid, try to delegate)
-          blogging
-          food combining
-          membaca international journal
-          BLW
Kuadran 4: DELEGATE (to avoid, take most time, interrupt routines)
-          mudah tertarik dengan kulwap terkini
-          online window shopping
-          update instastory



BELAJAR MENJADI MANAJER KELUARGA HANDAL #NICEHOMEWORK 6



1.       Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting yang biasa saya lakukan!
3 aktivitas penting:
a.       Beribadah
b.      Mendidik anak
c.       Menjadi dosen
3 aktivitas tidak penting:
a.       Membuka sosial media yang tidak bermanfaat
b.      Window shopping online selama bermenit-menit
c.       Terlalu lama nonton TV sama anak
2.       Waktu anda habis selama ini untuk kegiatan mana?
Mendidik anak seperti membuat diy untuk kegiatan anak, berjalan-jalan sekitar komplek dengan anak, menemani anak menonton TV, mengurus rumah tangga di rumah, memasak, berlama-lama membuka hp dan laptop saat anak tidur siang.
3.       Jadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup anda!
-          Aktivitas menemani kegiatan anak sehari –hari bagi saya merupakan aktivitas penting karena sangat menunjang untuk menjadi ahli di bidang yang saya tempuh selama ini yaitu bidang psikologi pendidikan dan perkembangan.
-          Aktivitas saya mengajar sebagai dosen merupakan aktivitas penting bagi saya untuk bekerja di ranah publik. Meskipun saat ini saya masih mengajar sedikit mata kuliah dan hanya menghabiskan 1 hari saja untuk mengajar, bagi saya ini kesempatan besar saya untuk bisa menguasai materi yang saya ajarkan.
-          Aktivitas gaya hidup sehat, seperti bercocok tanam, memasak sehat, toilet training, berolahraga, pergi ke pasar
4.       Kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, dan patuhi cut off time yang sudah kita tentukan!
Aktivitas rutin:
Bangun tidur                                                                      : 03.30-04.00
Nyuci piring, membersihkan rumah                         : 05.00-06.00
Masak Sarapan                                                                 : 06.00
Pergi ke TPA bersama anak                                         : 08.10
Tidur                                                                                      : maksimal jam 10.00











5.       Setelah tahap diatas selesai ditentukan, buatlah jadwal harian yang paling mudah anda kerjakan!
Waktu
Jenis Aktivitas
Kegiatan
Evaluasi
03.30-04.00
Aktivitas rutin
Bangun tidur

04.00-05.00
Solat subuh, ngaji

05.00-06.00
Bersih-bersih, cuci pring

06.00- selesai
Masak

07.30
Mandikan Archy, mandi

08.10
Ke TPA sama Archy

09.00-18.00
Aktivitas Dinamis
Menemani Archy bermain


Mengajak berjalan-jalan sekitar komplek sambil belajar besosialisasi


Membaca Jurnal Internasional dan referensi buku mengajar


Berkebun

18.00-Tidur
Mempersiapkan kegiatan bermain anak (browsing dan membuat diy)


Cek Google Classroom (menambah materi, membaca, dll)