Tuesday, 26 July 2016

OJO GAMPANG GUMUNAN LAN PANIKAN (JANGAN MUDAH TERPUKAU DAN PANIK)

“Bu, kita itu ya harus banyak menghindari kata-kata jangan loh...itu loh kata psikolog ini kita harus blaba...”
“Bu tau gak, kita itu harus ngajarin pendidikan seks sama anak sejak dini loh, dijelasin aja gimana ini ini..”
“Ah saya mah milih ngurus anak-anak aja kalik bu, soalnya dulu ibu saya kerja saya jadi kurang kasih sayang, makanya saya gak pengen anak saya kayak saya...”
“Lihat deh anaku sukses 2 tahun full ASI loh bu, sukses toilet training..kok anak ibu belum bisa gak diajarin ya?”
“Udah jangan dititipin anak sama ortu, bikin susah ortu  aja..lagian kok tega juga sih masih kerja aja anak dititipin ke orang lain?”
“eh anaknya bu ini udah hapal 30 juz Al-Quran loh padahal usianya masih 5 tahun. Yuk bu, kita sekolahin tahfidz aja biar kayak anak ibu itu...eh anaknya bu ini juga udah jago maen piano..keren deh...kita lesin juga yuk biar kayak dia..”

Dan masih banyak celotehan para ibu-ibu muda di sosial media mengenai pengasuhan anak yang dianggap terbaik bagi mereka. Seperti biasa saya paling suka mengamati beberapa respon para mamah muda baik dari komentar maupun postingan mereka di beranda. Saya suka sekali ternyata banyak ibu muda yang mulai aware mengenai ilmu parenting untuk mengasuh anak-anak mereka yang lebih baik. Banyak yang sudah menerapkanya lalu mencoba sharing di sosial media, “Alhamdulillah anaku sudah bisa ini itu...Masya Allah soleh/solehah terus ya nak...” Ada juga yang terkesan memasang komentar miring mengenai pola asuh orang lain yang tidak sejalan dengan persepsi mereka, “Eh liat deh gara-gara diasuh pembantunya tuh, nanya kesukaan anak aja gak tau...” atau “situ sama aja ya kuliah tinggi-tinggi toh yang ngasuh cuman tamatan SD, emang rela anak yang kita anggap berlian dititipin ke pedagang kaki lima?” dan paling banyak adalah melalui komentar ibu-ibu satu sama lain menunjukan pola asuh terbaik yang sudah mereka lakukan, “Anakmu baru diajarin nabung? Anaku udah bisa nabung dari umur sekian loh...eh anaku malah udah bisa beli barang sendiri dari hasil tabunganya...anaku ini itu...” dan seterusnya seakan mereka gak mau kalah kalo anak mereka lebih cerdas dari yang lain.


Sosial media merupakan ruang privasi masing-masing individu dimana setiap orang bebas berekspresi di dalamnya. Mau di sharing apapun itu adalah hak dia sepenuhnya karena mereka menuliskanya di ruang milik mereka masing-masing. Berbeda jika mereka update status galau di beranda orang lain tanpa seijin si pemilik, itu baru namanya menggunakan hak milik orang lain. Hehehee... Jadi sah-sah aja sih menurutku jika para ibu-ibu saling sharing dan berkomentar mengenai pola asuh anak.


Mengenai banyaknya artikel mengenai parenting yang ditulis oleh beberapa pakar anak, psikolog, ataupun yang lainya menurut saya pribadi memiliki sisi positif untuk meningkatkan kesadaran orang tua dalam mengasuh anak. Orang tua memang perlu banyak memahami tumbuh kembang anak agar pola asuh mereka sesuai dengan perkembangan zaman, mengingat anak-anak kita merupakan bagian dari generasi Y atau X dimana kita tidak bisa terlepas dari kompleksitas tantangan teknologi dan tantangan lainya. Namun, yang ingin saya garis bawahin disini adalah bagaimana kita sebagai pembaca bisa menanggapi artikel tersebut sebijak mungkin dan disesuaikan juga dengan kondisi masing-masing.


Saya sejujurnya secara pribadi memiliki perubahan sikap dalam menanggapi ilmu –ilmu baru. Dulu waktu masih kuliah, saya juga termasuk orang gumunan atau gampang terpukau. Semisal setelah seminar yang diberikan oleh pembicara ini, lalu saya gumun dengan kesuksesan ibu itu. Lalu saya menganggap kesuksesan ibu itu perlu ditiru oleh ibu-ibu lain dan cenderung mulai menganggap sebelah mata dengan ibu lain yang tidak seprinsip dengan ibu yang saya kagumi itu. Atau setelah saya membaca artikel tentang pengasuhan anak dari pakar ini, saya mulai meyakini bahwa ini loh..parenting yang bener itu. Selama ini kita salah atau orang tua kita salah dalam mendidik kita. Stop untuk melakukan ini, mari kita mendidikan bangsa kita dengan cara dari pakar pak itu, hati ini seolah bergelora dengan semangat jiwa yang membara.


Namun, semakin bertambahnya usia dan ilmu, semakin banyak pula kita dengan pengalaman dan hal-hal baru yang kita miliki. Semakin bijak pulalah kita menyikapi hal-hal tersebut yang disesuaikan dengan konteks dan situasi yang ada. Dari situ saya ingin berargumentasi pada fenomena yang sudah saya tulis diawal pembukaan. Argumen ini adalah asumsi saya pribadi berdasarkan pengalaman pribadi. Jadi yang tidak setuju atau mungkin menyetujui itu silahkan..hak kalian masing-masing. Tapi saya akan suka sekali jika tulisan ini dikomentari dengan argumen yang membangun dan positif, karena saya haus ilmu dan masukan dari teman-teman yang lain. Silahkan...


Menurut saya sih, ilmu perilaku adalah ilmu yang sangat kompleks dimana setiap individu satu dengan yang lainya memiliki perbedaan atau sering kita sebut dengan induvidual differences. Selain itu perbedaan perilaku bukan hanya ditentukan oleh nature atau gen semata, namun nurture juga berperan andil didalamnya seperti konteks budaya, ras, agama, dan lain sebagainya. Meskipun saya setuju jika nature mendominasi lebih banyak dalam pembentukan pribadi seseorang ( argumen saya didukung oleh proses pengamatan saya terhadap anak-anak di sekitar saya, maka I do agree with that theory hehe). Bahkan teori-teori dasar psikologipun dikemukakan oleh tokoh dengan asumsi yang berbeda-beda. Contohnya aja si Piaget dan si Vygotsky punya pandangan berbeda mengenai proses pengolahan informasi. Dari semua tokoh psikoanalisis yang ada, Jung lah yang banyak membahas transpersonal dalam sisi psikologi manusia. eh ternyata emang dia banyak melakukan penelitian di daerah timur dimana masyarakatnya percaya akan hal mistis. So, para tokoh tersebut memunculkan teori berdasarkan akan eksperimen yang mereka lakukan. Jadi semestinya kalo kita mau bijak yang kita bisa ambil yang sesuai dengan budaya dan kondisi kita masing-masing to?


Maka dari itu setiap ibu memiliki kondisi yang berbeda-beda. Ada yang dia ditakdirkan mendapatkan suami seorang konglomerat dimana dia bisa sepenuhnya menjalankan tugasnya sebagai seorang ibu rumah tangga full time tanpa harus bekerja di kantor. Adapula dia yang hidup dengan suami dimana keduanya saling berkomitmen untuk saling mendukung karir mereka masing-masing, sehingga keduanya memilih untuk bekerja. Ada yang walaupun gaji suami mencukupi (pas) tetap tidak mengijinkan istrinya untuk bekerja dan meminta istrinya fokus untuk mengurus rumah tangga. Lalu, mana kondisi terbaik bagi mereka untuk mengasuh anak? Jawabannya adalah tergantung kepada kualitas mereka masing-masing dalam mengasuh anak. So please gak usah yang namanya menjudge satu sama lain mengenai kondisi Ibu yang tidak sesuai dengan kondisi kita. Belajarlah untuk saling menghargai keputusan masing-masing. Jika memang seorang pakar ini itu mengungkapkan bahwa idealnya orang tua itu seperti ini itu, ambilah yang bisa kita lakukan dimana sesuai dengan kondisi kita saat ini, jangan langsung mentah-mentah memutuskan sesuatu hal lantaran takut jika tidak sesuai dengan yang diungkapkan pakar itu, kita akan gagal mengasuh anak kita. Jika ada suatu hal yang baru, jangan cepat menggebu-gebu untuk mempraktekanya secara keseluruhan. Kan bisa diskusi sama suami, sama orang tua, kira-kira bagaimana jika seperti ini jika seperti itu.


Selain itu juga jangan mudah panik menerima sesuatu yang baru. Aduh, saya nyesel selama ini bilang jangan sama anak. Saya malah marahin anak saya, padahal itu akan mematikan kepercayaan dirinya. Memang betul jika sebaiknya kita memberikan terbaik untuk anak-anak. Tapi ada kalanya anak harus difahamkan dengan konsekuensi, dimana segala sesuatu yang dilakukan memiliki dampak dari apa yang dilakukan. Maka bolehlah sesekali tegas atau marah dengan anak agar anak belajar menghargai dan memahami. Sesuaikan juga konteksnya dengan agama kita. Saya sebagai muslim contohnya mengajarkan anak tentang kewajiban menjalankan solat lima waktu. Apabila sudah pada usia baligh anak tidak menjalankan kewajiban tersebut, saya berhak mengajarkan konsekuensi tentang panasnya api neraka tidak seberapa dengan pukulan (yang sesuai dengan kriteria Rasul) yang diberikan orang tua saat anak tidak salat. Apakah anak trauma setelah itu?apakah digolongkan kepada kekerasan pada anak? Kalo mau lebih jelas, anda bisa membaca buku-buku karya Psikolog Muslim ternama yaitu Prof.Malik Badri agar kita lebih bijak mengambil ilmu psikologi dari Barat. Biar pada penasaran hehehee...selain itu, kita banyak menemukan beberapa perintah dan larangan dalam Al-Qur`an lantas kenapa juga kata-kata jangan itu harus dihindari? Saya pernah MOU dengan Psikologi IIUM Malaysia. Saat itu saya bertanya mengenai apakah kata-kata jangan itu benar-benar harus dihindari saat menegur anak? Pertanyaan saya itu dijawab bijak oleh salah satu mahasiswa IIUM. Setiap anak memiliki karakter yang berbeda-beda. Maka ada anak yang termotivasi melalui larangan, ada juga anak yang termotivasi melalui kata seruan. Semua ada porsinya. Jawaban yang cerdas, saya jadi semangat mempelajari psikologi Islam saat itu...


Kepanikan lainya adalah ketika seorang pakar mengajurkan untuk tidak menitipkan anak pada orang lain. Anak-anak adalah tanggung jawab orang tuanya sendiri. Ibu masih bisa kok bekerja jika anak sudah berusia 8 tahun. La kalo semisal anak pertama sudah 8 tahun, sementara anak kedua ketiga keempat belum 8 tahun gimana? Toh jika ada negara yang menganjurkan seperti itu kita lihat juga apakah kondisi negara tersebut sesuai dengan negara kita. Negara kita adalah negara yang berkembang tidak bisa disamakan dengan negara maju yang mungkin sudah menjamin kehidupan bangsanya dengan memberikan fasitlitas terbaik yang diberikan gratis oleh pemerintah, seperti sekolah gratis, rumah gratis, dll. Itu hanya gambaran besarnya saja, selanjutnya bisa anda amati sendiri. Terus kalo memang orang tua kita atau nenek kakeknya si cucu sangat ingin mengasuh anak kita daripada harus dititipkan oleh pembantu misal, karena si Ibu harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan si anak? Si Ibu ini kan juga bagian dari ikhtiar untuk memnuhi kebutuhan anak? Salahkah? Kembali ke pribadi dan kondisi masing-masing. Sebetulanya membangun bonding atau ikatan pada anak itu gak bisa ditentukan dengan kondisi ibu bekerja atau tidak. Karena apa? Karena bonding terbentuk dari kualitas ibu memberikan perhatian sepenuhnya pada anak. Contoh walau si ibu bekerja, tapi ibu tetap punya quality time sama anak untuk saling sharing, ibu walau kerja tidak pernah melewatkan untuk memasak makanan untuk anak-anaknya. Tuh, dengan hal terkecil aja seperti memasak, ibu bekerja masih bisa membangun kelekatan dengan anak, karena nantinya anak jadi selalu dekat dengan ibu agar bisa merasakan masakan ibu. Terlebih ibu rumah tangga tentunya akan banyak bisa memberikan quality time dengan anak. Nah, kalo gini semua profesi ibu baik full house mom atau carrier mom masing-masing bisa sukses kan membangun bonding pada anak?


Lalu ada lagi fenomena nggumunan ketika Musa hafidz cilik bisa hafal Al-Qur`an, si Joey si pianist cilik yang masuk Grammy award. Lantas semua ibu menggebu-nggebu ingin anaknya seperti mereka. Setau saya para orang tuanya pun sangat konsisten menstimulus anaknya untuk bisa seperti itu bahkan sejak dalam kandungan. Percuma saja jika menggebu-gebu diawal lalu berakhir dengan panas-panas tai ayam. Tenangkan diri, kenali potensi si anak, kira-kira kemampuan ingatanya kuat gak untuk menghafal. Toh kata dosen saya anak tidak harus dipaksa jadi hafidz Quran, yang terpenting adalah bagaimana akhlaknya bisa sesuai dengan ayat-ayat Al-Quran. Bukan hafal semata namun juga memahami kandungan yang ada sehingga bisa diterapkan dalam perilakunya. Iya kan?



Sudahlah ya, kita berakhir kesimpulan. Terlalu panjang nih argumenya, maafkan hihihi... intinya adalah kita harus bijak menerima sesuatu yang baru. Pertimbangkan diskusikan. Jangan pula menjduge orang tua kita sendiri memiliki pola asuh yang salah kepada kita. Everything happen for a reason. Kita bersyukur sudah dibesarkan sedemikian ini dan berterimakasihlah kepada orang tua sebaik dan seburuk apapun yang mereka berikan kepada kita, karena merekalah kita ada disini. Ambil baiknya dan Fokus pada diri kita masing-masing.  Zaman yang serba banyak tantangan ini orang tuanya akan sukses mendidik anak jika dilakukan dengan basis komunitas atau kelompok. Kalo egois pengenya bener sendiri,paling oke sendiri, ke laut aja deh . sudah gak zaman. Waktunya kita adalah saling mensupport satu sama lain. Saling memberikan masukan positif, bukan malah menjatuhkan atau memicingkan sebelah mata kepada mereka yang diberikan kondisi yang berbeda dengan kita. Mari bersama-sama mendidik generasi penerus bangsa dengan kebersamaan dan keihklasan. Amin......

Monday, 4 April 2016

THE HOLE IN THE WALL -Technology Classroom

Ceritanya tadi sore saya dapet cerita dari dosen tentang salah satu projectnya warga negara India, Sugatra Mitra. Beliau salah satu profesor di bidang education technology, New Castle University. Nama projectnya adalah “The Hole in the Wall project”.Jadi dia bikin project di suatu daerah terpencil di India, dimana mayoritas masayarakatnya berada dibawah garis kemiskinan. Bahkan banyak dari anak-anaknya gak tau apa itu Micky mouse (masih mendingan anak-anak Indonesia ya, hehehe). Dia bikin semacam dinding (kayak wartel terbuka) yang diisi dengan media komputer untuk anak-anak belajar. Komputernya bisa diakses secara online dan diisi dengan program edukatif yang bisa digunakan. Tapi Uniknya TIDAK ADA INSTRUKSI yang diberikan dalam penggunaanya. Eksperimenya dilakukan selama 6 bulan. Dan apa yang terjadi?

Anak-anak yang awalnya gak ngerti gimana cara memakainya, kini udah bisa eksplore sendiri dan mampu mengoperasikan komputer. Bahkan mereka bikin aplikasi game dan mampu belajar mandiri. Malah ada yang bilang gini “prof, aplikasinya minta diupgrade lagi ya, biar kita bisa bikin game tikus (micky mouse) yang lebih challenging. Dari project tersebut Mitra mencoba mengajarkan the power of Self Organized Learning di classroom technology (kelas yang menggunakan media teknologi dalam pembelajaran).

Dulu, awalnya saya masih kurang menyetujui jika gadget diajadikan sebagai media belajar anak karena saya kira hal tersebut menjadikan anak menjadi lost control dan cenderung addicted dengan gadget. Namun ternyata, walau bagaimanapun suatu saat nanti kita akan hidup dimana pembelajaran di sekolah sudah tidak menggunakan kertas lagi (paper less) guna menjaga stabilitas alam dari penebangan pohon, dan disitulah teknologi gadget berperan penting dalam media pembelajaran.

Kita lihat sudah begitu banyak sekolah di negara maju menggunakan technology classroom dalam proses belajar mengajar. Tapi yang kadang terlihat berbeda antara murid di singapore dan Indonesia dalam media yang sama adalah murid Singapore cenderung memiliki self regulated learning yang lebih baik dibandingkan murid Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana mereka mampu menciptakan aplikasi begitu variatif dengan teknologi dibandingkan murid Indonesia. Sebetulnya, kenapa ya kok bisa berbeda, padahal mereka menggunakan media teknologi, bahkan aplikasi di gadgetnya juga sama?

Ini berdasarkan pemaparan dosen saya yang kebetulan concern di bidang digital literacy mengenai hambatan dalam pembelajaran di Indonesia adalah: anak kurang memiliki self regulated learning( regulasi dan kesadaran meregulasi diri dalam belajar) dan tidak terjadinya meaningful learning (pembelajaran yang bermakna) sehingga anak hanya menganggap belajar di sekolah sebagai formalitas semata. Jadinya anak corioussity nya masih kurang dalam belajar sehingga mereka cenderung lebih suka nge game atau menggunakan aplikasi lain yang tidak ada kaitanya dalam pembelajaran. Tapi sebenarnya hal tersebut mampu diminimalisir apabila kita perlu memperhatikan secara detail dalam hal berikut:

1. Guru perlu menciptakan STUDENT CENTER agar anak dapat berfikir kritis dalam belajar.
Saya baru sadar ternyata model kurikulum pendidikan di Indonesia ini sudah banyak mengkikis jiwa kritis dan kreativitas anak dalam belajar. Bayangin dulu pas SD kayaknya takut banget nanya, takut dikira gak ngerti. Emang sebenarnya gak ngerti, tapi kalo nanya bakal dimarahin “kamu gak ngerti karena gak merhatiin ya?: Nah loh.. serba salah haha. Walaupun sekarang sudah banyak guru yang mulai aware dalam merespon pertanyaan anak, namun beberapa hal yang perlu menjadi stimulus agar anak mampu meningkatkan jiwa kritisnya. Salah satunya belajar secara konstruktif. Dalam pembelajaran konstruktif murid menjadi center dalam pembelajaran, bukan guru. Jadi mereka mampu belajar melalui belajar mandiri (independent learning), diskusi, belajar kooperatif maupun kolaboratif dalam sebuah kelompok.

2. BELAJAR KONSTRUKTIF pada dasarnya memandang bahwa masing-masing individu membentuk atau membangun sebagian besar dari apa yang mereka pelajari dan fahami.  Jadi sebetulnya technology classroom itu cocok banget diaplikasikan dengan model belajar konstruktif. Karena menurut teori Peaget, anak bisa melakukan tugas perkembangan secara mandiri sesuai dengan proses perkembangan kognitifnya. Kita gak perlu repot-repot memaksa anak untuk memahami teori yang kita ajarkan karena anak mampu memahami sendiri secara konstruktif. Contohnya mereka bisa belajar secara mandiri atau kelompok melalui informasi website di internet.

3. GURU HARUS MELAKUKAN EKUILIBRASI DALAM PEMBELAJARAN.  Ekuilibrasi itu merupakan proses pemulihan keseimbangan antara pemahaman sekarang dan pengalaman-pengalaman baru. Saya baru tahu loh ternyata kita bisa belajar Matematika melalui proses pembuatan film animasi. Coba cek di websitenya KHAN-PIXAR ACADEMIC. Jadi belajar kurva dari proses pembuatan animasi rumput dan lain sebagainya. Nah anak-anak pasti seneng tuh kalo pelajaranya dikaitin sama animasi yang menarik. Jadi mereka juga kepengen belajar juga deh bikin animasi dengan dasar matematika. Terus, gimana donk, ntar takutnya murid malah kebablasan dan gak ngerti tujuan pembelajaran yang akan dicapai?Itulah mengapa guru perlu mengevaluasi hasil belajar siswa, agar anak masih bisa mengkaitkan apa yang mereka peroleh dengan materi yang diajarkan.

4. MENCITPTAKAN MEANINGFUL LEARNING DALAM BELAJAR. Apa yang sering terjadi saat ada yang tanya tentang mata pelajaran SD, SMP, SMA? Kebanyakan banyak yang sudah lupa atau bisa jadi lupa-lupa inget saat menjawabnya. Padahal belajarnya kan 12 tahun? Kok bisa lupa ya? Hmm.. ini ngejawabnya agak kompleks juga hahahaa... mungkin mayoritas disebabkan oleh COGNITIVE OVERLOAD pemirsah...ya iya lah...aturan siswa Indonesia itu seharusnya menjadi anak paling pintar di dunia. Kenapa? Karena kita diwajibkan mengenyam segala macam mata pelajaran wajib yang ada di sekolah, mulai dari IPA, IPS, fisika, kimia, ah entahlah ampe lupa apa lagi saking buanyaaknyaaa. Sementara kurikulum di negara maju pendidikan contohnya Firlandia, mereka cenderung costumize curriculum. Kita boleh memilih mata pelajaran yang kita minati atau kita sukai. Gak perlu ambil semua seabreeeg kayak gituuuh...Tapi alhamdulillah, berkat ada KURTILAS dengan pendekatan tematik sehangga kita jadi bisa mengurangi Cognitive Overload dalam pembelajaran. Terus apa kaitanya sama Meaningful Learning? Jadi belajar itu bisa jadi bermakna apabila kita mampu memproses informasi yang kita terima dalam working memory di otak apabila kita bisa mengintegrasikan dengan pemahaman yang kita peroleh sebelumnya, sehingga informasi dapat bertahan dalam Long Term Memory. Pemahaman itu diperlukan pengalaman-pengalaman dan pengamatan kita secara detail tentang informasi yang kita peroleh agar menciptakan pembelajaran bermakna.

CONTOH saat belajar literatur bahasa, guru meminta anak untuk membaca tentang kisah dalam sebuah legenda. Maka anak diharapkan mampu mengambil kesimpulan atau pesan moral yang ada dalam cerita tersebut. Atau bagaimana mereka mampu menjelaskan rumus matematika dalam kehidupanya sehari-hari. Nah, di technology classroom ini sangat penting untuk bisa menciptakan meaningful learning dalam belajar. Karena apa? PEMBELAJARAN YANG BERMAKA TERNYATA MAMPU MENCIPTAKAN REGULASI DIRI DALAM KESADARAN BELAJAR. Jadi anak bisa tau mengapa dia lebih suka membuka gadget untuk hal edukatif dibandingkan dengan gadget yang tidak ada kaitanya dengan pembelajaran. Jadi ibu-ibu gak perlu khawatir kalo anak malah cenderung nge game terus daripada belajar. Bahkan anak jadi suka diajak diskusi karena apa yang mereka pelajari bukan sekedar formalitas, tetapi menjadi suatu hal yang menyenangkan.
Begitulah hasil informasi dari dosen saya yang kebetulan disertasi digital literasinya di Amerika, yang udah lama menerapkan technology classroom. So i really exited to this topic. Yang sudah berpengalaman mengajar di technology classroom, boleh donk minta saran, kritikan dan pendapatnya. Yang abis ikutan seminar tentang gadget, mau juga donk sharingnya. Semoga bisa bermanfaat satu sama lain hehehee

Saturday, 12 March 2016

BIG CHALLENGE, BIG DREAM

PURSUIT OF DREAMS
Banyak orang tidak menyangka, bahwa jalan hidupnya terpaksa harus membuat impian besarnya terkubur dalam-dalam. Banyak orang bahkan harus banting setir pada kehidupan yang lebih nyata, karena menganggap bahwa impian besarnya tidak lebih dari bunga tidur semata, dan ia harus cepat terbangun dari mimpinya. Tapi bisakah kita mampu untuk mempertahankan impian besar ini walau dengan keadaan terseok-seok, terbentur fisik dan psikis dan harus tetap mampu untuk bangkit kembali?
Entah sejak usia berapa tahun, saya mendambakan untuk bercita-cita sebagai seorang pendidik. Entah spesifiknya pada profesi apa, yang penting passion saya selalu kembali untuk mengajar. Namun ketika di bangku kuliah, saya mulai memantapkan diri untuk bercita-cita sebagai seorang dosen. Namun, pada saat itu saya belum mendapatkan esensi yang sangat mendalam mengapa saya harus menjadi seorang dosen? Apa memang itu adalah minat saya, bakat saya, faktor lingkungan, atau faktor konformitas yang hanya sekedar terbawa arus dari lingkungan teman yang sebagian besar berorientasi untuk menjadi seorang ilmuwan?
Usai mendapatkan gelar sarjana pada tahun 2012, banyak yang menyarankan saya untuk segera melanjutkan di jenjang S2. Namun posisi saya saat itu masih belum lulus sarjana untuk jurusan yang satunya (kebetulan ambil double degree). Akhirnya saya tetap fokus untuk menyelesaikanya, dan mencoba kegiatan luar yang awalnya untuk bekal prestige saya sebagai mahasiswa perguruan tinggi swasta. Kenapa harus prestige? Apa yang harus diperjuangkan dari sebuah prestige?
Pada saat itu kebetulan saya terlibat dalam komunitas nasional dimana mayoritas dari mereka berasal dari mahasiswa PTN. Dan pembahasan yang selalu muncul dari benak mereka adalah, udah pernah exchange belum? Udah pernah ikutan penelitian? Pernah ikutan kompetisi apa? Udah pernah kontribusi apa slama ini? Sebetulnya pertanyaan tersebut memacu diri saya untuk menunjukan bahwa mahasiswa PTS juga mampu bersaing dengan mereka yang berada di PTN. Hingga akhirnya saya menemukan titik dimana ini semua bukan sekedar prestige semata, namun semua ini ada sisi positif dari lingkungan saya dimana mereka memacu kita untuk mampu berkontribusi dan menjadi agen perubahan bagi bangsa dan negara, dimulai dari pemudanya, yaitu kita.
Perubahan mindset saya saat itu menjadikan konsep saya dalam bercita-cita menjadi semakin matang. Saya melihat kembali apa potensi terbesar saya, dan mengapa saya memilih untuk menjadi dosen, bukan guru, bukan psikolog, atau yang lain. Dari situlah saya mulai bangkit kembali untuk melanjutkan cita-cita saya untuk melanjutkan jenjang S2, dan sebagai syarat mutlak untuk menjadi seorang dosen. Namun, meletakan target pertama belum menjadikan saya untuk mampu menyusun plannning secara matang. Dan ini berdampak pada ketidakfokusan saya untuk mencapai target yang diinginkan. Mau lanjut ke luar negeri, tapi saya malah ambil kursus writing dan translation di Pare. Baru setelah sadar kalo yang saya perlukan adalah IELTS dan TOEFL, saya baru mulai mengambil dan terpaksa tidak saya lakukan dengan optimal. Kenapa tidak bisa optimal? Karena saat itu saya sedang dapat rejeki yang luar biasa lebih indah dari pengejaran itu semua. Ya, rejeki itu adalah Jodoh.
 
NIKAH ATAU S2?

Alangkah bahagianya menemukan pasangan yang sangat mendukung impian kita. Bagi sebagia wanita, itu merupakan salah satu harapan terbesar kepada pasangan mereka. Banyak teman yang mengelung, pasangan mereka cenderung melarang ini dan itu. Entah alasanya seperti apa. Yang jelas, saya menyampaikan dengan suami tentunya dengan komunikasi yang baik, agar mudah untuk saling difahami seperti apa visi misi hidup kita. Sebelum menikah saya sudah utarakan keinginan saya untuk bisa segera melanjutkan S2. Ayah saya juga menyampaikan apa cita-cita saya ketika suami melamar saya. Hal itu dilakukan agar kedua pihak keluarga saling memahami tujuan kita yang kelak akan dicapai bersama-sama.
             Rencana awal, setelah nikah saya ingin segera langsung melanjutkan jenjang S2. Namun saya masih belum diberi peluang untuk mendapatkan beasiswa saat itu. Kebetulan jurusan yang saya ambil baru ada di jawa, sementara pekerjaan suami di Palembang, Sumatara. Selain itu, saya mengalami gejolak batin jika harus berpisah lagi dengan suami. Bayangkan, sebelum menikah saya hanya bertemu dengan suami saya sekali saja. Kami tidak sempat berpacaran dan melakukan kontak langsung secara mendalam. Walaupun saat itu komunikasi via telpon kami terbilang sayang intens. Akhirnya saya harus merubah haluan. Saya ingin membangun attachment dengan suami saya terlebih dahulu, paling tidak satu tahun. Baru setelah itu saya akan berjuang lagi untuk lanjut kuliah.
Satu tahun sudah kita menjalani bahtera rumah tangga. Keresahan mulai datang ketika ingin melaksanakan apa yang sudah kita rencanakan. Ya, seperti janji saya dulu. Kembali pada rencana panjang untuk mencapai impian itu. Suami dengan begitu ikhlasnya, suatu ketika beliau pernah bilang sama saya,
“ Sayang, kamu tahu kenapa aku begitu mensupport cita-citamu itu, karena pada akhirnya aku memaknai bahwa itu bukan sekedar cita-citamu saja, melainkan harapan bersama, untuk mencapai tujuan hidup kita dalam membangun keluarga sakinah mawaddah warahmah”
           Masya Allah, seketika saya melebur dalam dekapanya sambil menyeka tetesan air mata yang penuh haru itu. Kita akan berjuang bersama sayang untuk tujuan bersama kita. Setelah itu, suami berusaha mencari peluang kerja perusahaan yang bonafit di Jawa. Alasanya ia tidak mau gegabah sekedar keluar dari kerjaan di Palembang, karena dunia kerja di Jawa adalah dunia yang penuh persaingan. Makanya dia hanya apply pada perusahaan yang besar saja, tidak sekedar abal-abal. Namun, atas ridho Allah, belum ada perusahaan yang memberi kesempatan itu. Saya begitu tahu bagaimana etos kerja suami, semua itu hanya pada permasalahan Ijin Allah. Tapi mengapa Allah belum meridhoi rencana kami? Kadang terbenak dalam hati untuk kecewa dan sedih.  Apa memang ternyata Allah masih meridhoi cita-cita ini?
          Belum lagi orang tua dari kedua belah pihak sangat memberatkan. Saya faham betul posisi saya. Saya adalah seorang istri. Dan sayalah yang akan meninggalkan suami saya. Walaupun berkantong izin dan support suami, tidak serta merta perizinan dari orang tua berjalan mulus. Namun saya tetap menghormati mereka, mendengarkan petuah mereka. Bahwa cita-cita tidak harus secepatnya diwujudkan, masih banyak waktu sampai tidak harus membuat kita jadi terpisah. Pada dasarnya profesi saya kelak tidak dijadikan prioritas utama untuk mencari nafkah. Karena sejatinya mencari nafkah adalah tugas utama suami. Sementara mendidik anak dan mengurus rumah tangga adalah tugas utama istri. Saya tertunduk malu. Ada apa dengan diri saya sehingga segitu berjuangnya mempertahankan prinsip ini? Salahkah dengan impian ini? Terlalu abstrakah atau terlalu muluk-mulukah tujuan mulia ini?
              Mungkin memang sayalah yang terlalu muluk-muluk bermimpi, tanpa memahami situasi dan kondisi. Yang ada dalam benak saya, saya ingin menjadi dosen sekaligus ilmuwan di bidang ilmu saya. Saya mampu menemukan konsep dan penemuan baru dalam penelitian saya, yang kelak suatu saat nanti selain mengajar, konsep tersebut akan saya transformasikan ke anak-anak dan suami saya untuk membangun lembaga bersama. Lembaga tersebut gunanya untuk bisa bermanfaat bagi masyarakat luas. Jadi ibaratnya saya harus punya bekal untuk menciptakan impian besar tersebut. Ah, mungkin saya terlalu banyak disuntik kisah-kisah heroik dari reality show Kick Andy, yang menjadikan diri saya akhirnya harus kembali untuk menginjak bumi dan meninggalkan langit yang penuh dengan angan-angan. Saat hati mulai pasrah untuk melepasnya, entah mengapa manusia malaikat yang bernama suami itu terus menerus meyakinkan keputusan saya. Berusahalah hingga titik akhir, dimana Allah benar-benar memutuskan bahwa saat ini memang bukan jalanmu!
            Bismilllahirrahmanirrahim, kata-kata itu kembali membius keputusan saya. Saya bulatkan tekat pulang ke Boyolali untuk menjalani proses pendaftaran mahasiswa S2 di UGM. Setelah menunggu giliran tes TOEFL dan TPA, 3 minggu kemudian saya kembali lagi ke Palembang karena pengumuman hasil tes administrasi masih 2 bulan lagi. Sepulang kesana, saya dibanjiri berbagai macam pertanyaan dari orang-orang sekitar, baik yang psoitif maupun negatif. Tapi saya sudah berjanji dalam diri untuk selalu berpositif thinking dan tidak mau mengotori hati saya ketika diberi pertanyaan yang mungkin cukup membuat saya tidak nyaman. Whatever it takes, do everything like the winds blow.

THANKS GOD, IM PREGNANT!

            Sebulan sudah waktu penantian pengumuman kini terlewati. Tinggal satu bulan lagi untuk menunggu pengumuman untuk lanjut ke seleksi wawancara dan tes tertulis dari jurusan. Ternyata, Allah memberikan kejutan rizki yang tidak disangka-sangka dan yang selama ini sangat kami dambakan. Alhamdulillah, diberikan kesempatan kedua kali ini hamil untuk anak pertama kami. Subhanallah walhamdulillah Allahukabar.  Terimakasih ya Allah, setahun sudah kami menantikannya. Dan saya tidak mau gagal untuk kedua kalinya. Saya harus benar-benar menjaga titipan Allah ini. Sayang, sehat terus ya nak di perut bunda. Ya Allah, fabiayyi aalaa irabbikuma tukadzibaan.

              Uforia kebahagiaan ini masih menghiasi rumah tangga kami. Ini menjadi kabar bahagia bagi orang tua, terutama mertua kami sebagai cucu pertama. Suami begitu perhatianya menjaga demi anak pertama kami. Sayapun sekarang lebih berhati-hati, dan mengerem segala aktivitas sosialita saya yang suka kumpul sama teman-teman. I totally stay at home currently. Semua demi dan demi babyku tersayang. Lalu gimana ya kabar S2nya? Jadi? Jadinya kami berdiskusi kembali dalam rutinitas pillow talk sebelum tidur. Kini giliran suami yang bimbang, “sayang, gimana kalo diundur lagi aja ya. Masak kamu nanti hamil sendirian gitu kamu siap?” saya tidak mampu menjawab apa-apa. Solusi terbaiknya adalah salat istikharah. Mencari solusi terbaik yang diridhai oleh Allah. Kenapa sih apa-apa harus ridho Allah? Ya, karena Allahlah yang paling tahu kemampuan hambanya kan. La yukallifullahu nafsan illa wus`aha.
             Alhamdulillah, waktu pengumuman tiba. Saya dinyatakan lolos untuk lanjut ke tahap seleksi tes tertulis dan wawancara dari jurusan. Akhirnya jawaban dari Allah datang dari prasangka hambanya. Awalnya saya utarakan dengan suami. Lalu saya menyampaikan kepada ibu mertua saya, “ Bu, karena tahap seleksinya tinggal sekali lagi, saya selesaikan semuanya dulu gih. Urusan diterima tidak, saya insya allah ikhlas. Kalo memang diterima berarti ini sudah kehendak AllaH, tapi kalo gak keterima berarti saya memang harus fokus sama kehamilan saya.” Ibu mertua saya merestui dan bahkan mendukung saya untuk tetap lanjut. Terima kasih bu atas restunya.
             Dan pada akhirnya, setelah menjalani proses yang berlika-liku, jalan Allah adalah meridhoi saya untuk lanjut S2 dengan kondisi hamil dan jauh dari suami dan orang tua. Saya ingat betul cerita dari temen yang baru tahu hamil setelah keterima beasiswa LPDP untuk lanjut kuliah di UK. Kebetulan suaminya juga melanjutkan di Eropa tapi berbeda kota yang jaraknya bisa satu jam. Dia jauh dari suami dan bahkan sangat jauh dari orang tua. Tidak ada teman lama disana. Tapi ia tetap melanjutkan studinya sampai akhirnya bayinya lahir pada saat kuliah di UK. Masya Allah. Tegar banget ya. Berarti saya juga bisa kayak dia. Paling tidak orang tua tidak begitu jauh, dan suami masih bisa menjenguk sebulan sekali. Saya selalu yakin, Allah tidak memberatkan hambanya kecuali sesuai dengan kemampuannya. Udah itu saja prinsip yang saya pegang. Bismillahirrahmanirrahim
           Sekarang sudah 2 bulan saya menjadi mahasiswa  sekaligus bumil. Doa saya semoga Allah melancarkan kehamilan saya, Allah melancarkan kuliah saya, diberi lingkungan, teman, dan dosen yang baik. Begitu luar biasa baiknya Allah, selama ini teman-teman sangat peduli sama saya, suami semakin perhatian walaupun jarak jauh, orang tua tetap terus mensupport. Sampai ada temen yang ingin menjadikan kehidupan saya sebagai bahan penelitian. Daya juang mahasiswa dengan kondisi hamil dan mandiri kali ya .. Hehee.. intinya saya harus nikmatin semua ini. Saya harus terus bahagia, jauhi berprasangka buruk, tetap hormati orang tua, ambil baik-baiknya, jangan terlalu sensitif dan selalu berprasangka baik, itu kuncinya. Saya bahkan lebih fokus dari studi S1 saya dulu karena karena sekarang saya lebih banyak fokus untuk belajar dan menjaga kesehatan si buah hati. Si baby sekarang usianya udah 5 bulan di kandungan. Sehat terus ya sayang, semoga terlahir secara sempurna, sehat jasmani rohani, menjadi qurrata a`yun bagi semuanya. Aminn.

             Walaupun cita-cita study abroad belum terealisasikan, setidaknya bisa melanjutkan di kampus terbaik di negeri ini. Bukan maksut saya  hanya mengejar title kampusnya. Tapi saya akui atmosfer keilmuwanya sangat terpelihara dengan baik bila kita merasakan kuliah disini. Semoga kelak akan terealisasikan study abroad saat S3 nanti. Tentunya dengan full scholarship dan bisa membawa anak dan suami. Bukan untuk gaya-gayan tentunya. Percayalah, kalo kita sungguh-sungguh menuntut ilmu, maka kita akan merasakan kenikmatan belajar yang sebenarnya. Tentunya, semua ilmu itu bisa bermanfaat agar kelak menjadi amal jariyah. Aminn ya rabb. Jadi, masih takut untuk bermimpi? 

Tuesday, 24 November 2015

PENDIDKAN AKHLAK MELALUI MANASIK HAJI



“Labaikallah humma labaik..labaikalaa syariikala kalabbaik....”
 Bacaan talbiah berkumandang khusyu` menggema di setiap sudut ruangan masjidil haram diiringi  para jemaah haji yang melantunkan untaian doa saat mengelilingi ka`bah. Suasana tersebut tak terlepas dari ritual ibadah haji yang dilaksanakan setiap tahunya di tanah suci Makkah.
Pada tanggal 22 September 2015, Sekolah Islam Al-Azhar Palembang mengadakan pelatihan manasik haji mulai dari level TK hingga SMP. Hal ini bertujuan agar murid dapat mempelajari pelaksanaan ibadah haji dari awal hingga akhir. Selain itu, murid dapat belajar hikmah kebersamaan, pengorbanan, dan keikhlasan dalam berbibadah.
Keagungan Allah SWT yang ditunjukan melalui ibadah haji dapat mengingatkan kita betapa banyak pesan moral yang disampaikan melalui ibadah tersebut. Pesan moral tersebut sekiranya dapat mengantarkan kita untuk memaknai arti hidup dan bagaimana bersikap yang disyariatkan Allah SWT. Oleh karena itu, betapa pentingnya pelatihan Manasik Haji untuk dapat disampaikan dan menjadi suatu kegiatan di suatu sekolah. Manasik Haji dapat dijadikan sebagai pendidikan akhlak dimana peserta didik dapat memahami esensi dari Ibadah haji bukan hanya sekedar pelaksanaanya saja. 


Haji merupakan ibadah dimana setiap muslim di seluruh belahan dunia berbondong-bondong mengunjungi kota nan suci guna menyempurnakan rukun Islam yang ke lima. Namun, lebih dari itu ibadah haji banyak memberikan pesan moral bagi seluruh umat manusia akan kekuasaan Allah yang tiada tandingnya. Ibadah haji memberikan esensi bahwa disetiap ritual dalam pelaksanaan haji Allah menunjukan kekuasaanya agar manusia dapat berfikir untuk dapat memaknai hidupnya lebih berarti.
Ibadah haji menjadi suatu kesaksian perjalanan-perjalanan Nabi untuk menyerukan ketauhidan dan keimanan Allah SWT. Jejak sejarah kehidupan Nabi Adam terekam dalam situs manasik haji. Berbicara tentang Nabi Adam tentu sulit melepaskanya dengan tanah Arafah, sebuah padang luas di mana beliau bertemu kembali dengan Hawa di sebuah gunung yang kini dinamai Gunung Cinta (Jabal Rahmah), selepas terpisah karena diusir dari Surga. Kabah merupakan catatan sejarah perjalanan Nabi-nabi yang telah lalu.
 Air zam-zam menjadi kesaksian perjuangan siti Hajar untuk bertahan hidup bersama buah hatinya Ismail. Keikhlasanya diuji sebagai seorang istri dari Nabi Ibrahim untuk dapat menerima kepergian suaminya dalam  melaksanakan perintah Allah SWT. Kisah perjuangan siti Hajar tersebut diabadikan melalui amalan ibadah haji yang dinamakan Sa`i, yaitu berlari-lari kecil dari Shafa ke Marwah. Sebuah catatan sejarah dimana siti Hajar berjuang mencari setetes air untuk anaknya Ismail yang sedang menangis kehausan. Selain itu, air zam-zam membuat para ilmuwan terkagum-kagum akan kandungan dan manfaatnya. Air zam-zam mengandung banyak kelebihan, yaitu zat flourida yang berfungsi membunuh kuman dan membantu proses penyembuhan. Molekul airnya membentuk kristal heksagonal nan berkilau, bahkan sumurnya tidak pernah ditutupi lumut sekalipun, Masaru Emoto (peneliti molekul air).
Hakikat pengorbanan dari Ibadah Haji ditunjukan melalui kejadian penyembelihan Ismail yang memberikan sarat hikmah yang dramatis, agar setiap dari kita senantiasa meresapi makna besar di balik pengorbanan, di balik kesediaan tulus sebagai seorang hamba kepada Kekasihnya. Terlebih ketaatan Ismail sebagai seorang anak ditunjukan akan keikhlasanya menjalankan perintah sang Ayah dan bagaimana semestinya menyikapi ujian yang nyata dari Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam QS. As-Shaffat: 104-107, “Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”.
Disisi lain, haji adalah perjalanan spiritual dan kejiwaan. Michael Wolfe, seorang muallaf yang berprofesi sebagai pengarang, penyair, dan produser asal California AS, menyebut ziarah ke Mekkah seperti pulang ke rumah, tekanan gravitasi yang tinggi sehingga menjadi imun bagi tubuh. Tempat ibadah yang memancarkan energi positif, karena setidaknya lima kali sehari menerima pancaran energi positif dari orang yang salat dan thawaf saat berdoa, kemudian di pancarkan kembali kepada kita semua (Sarhindi, 2013). Energi yang disalurkan tersebut sama halnya seperti hukum ketertarikan. Apa yang kita fokuskan akan menjadi apa yang kita tarik masuk kedalam hidup. Sama halnya ketika kita menjadi pribadi yang selalu berfikiran positif, maka pancaran energi tersebut akan kembali ke diri kita sehingga kita lebih menjadi pribadi yang bersyukur dan berserah diri.
Pelaksanaan ibadah haji menjadikan Makkah menjadi tuan rumah yang mempersatukan manusia lintas-etnis dan lintas-agama. Setiap muslim melaksanakan solat di Masjidil Haram dengan gerakan yang berbeda-beda. Ada yang melipat tanganya erat di depan dada, hanya sekedar melipat ujung tanganya saja, tangan terlipat di bawah perut, bahkan ada yang solat tanpa melipat tanganya ke depan. Namun, pernahkah kita mendengar berita tentang adanya pertikaian akibat perbedaan tersebut di Masjidil Haram? Lalu kenapa di negara kita sendiri settitik hal yang berbedapun dipermasalahkan bahkan mengarah untuk saling menghujat? Bahkan banyak yang mengatakanya sebagai suatu Bid`ah? Kita terlalu disibukan untuk mencari celah saudara kita sesama muslim dan lupa bagaimana Allah mengajarkan kita tentang cara menyeru ke saudara kita dengan cara yang baik. Masya Allah, betapa besarnya karunia Allah menunjukan kebesaranya melalui Ibadah Haji.

Monday, 24 August 2015

MENITI JEJAK SANG PENANDAI. CINTA, SASTRA, DAN KARYANYA: DARWIS TERE LIYE



Seorang lelaki berumur + 35 tahun datang memasuki panggung acara dengan penampilan celana jeans, sepatu kets, kaos berwarna biru muda, dan topi putih menutupi kepalanya. Sosok pribadi yang sederhana itu rupanya sedang dinanti-nanti oleh ratusan orang yang memenuhi auditorium Rumah sakit Mata Sumatra Selatan demi menyaksikan kedatanganya di kota Palembang ini. Ya, ini kedua kalinya saya bertemu dengan bang Darwis Tere Liye. Seorang penulis yang sudah menerbitkan lebih dari 20 hasil karyanya dan tersebar diseluruh belahan nusantara.
Bang Tere, sebagai sapaan akrabnya, memulai pembicaraan dengan sebuah cerita. Alkisah diceritakan 3 orang sahabat yang sama-sama mengambil jurusan kedokteran di universitas terkemuka di Indonesia. Mereka tinggal di kos yang sama, kelas yang sama, hingga mereka meraih gelar dokter pada waktu yang sama. Setelah 5 tahun lamanya kebersamaan yang mereka jalin, tiba saatnya mereka untuk  mengabdikan diri dan mengamalkan ilmu ke kampung halaman mereka masing-masing. Si gadis A kembali ke kampung halamanya di Sumatra, si gadis B kembali ke salah satu kota di Sulawesi, dan si gadis C yang kembali di salah satu daerah di pulau Jawa. Saat berpisah, mereka bertiga memiliki suatu janji. Kelak beberapa tahun yang akan datang, setelah masing-masing sudah menjalani bahtera rumah tangga, mereka akan bertemu kembali untuk melepas kerinduan. Mereka akan menceritakan siapakah diantara mereka yang merawat pasien paling banyak, dan itu akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka yang berprofesi sebagai seorang dokter.
Setelah 10 tahun lamanya akhirnya mereka memutuskan untuk bertemu di suatu tempat yang mereka janjikan. Ini adalah saatnya ketiganya menceritakan kuseksesan mereka sebagai seorang dokter. Si gadis A mulai bercerita, bahwa dengan pemahaman ilmunya yang sangat baik, ia dapat mendirikan klinik pribadi di kotanya. Kliniknya tidak pernah sepi dari pasien. Semua warga berbondong-bondong untuk berobat kepadanya, bahkan ia memberikan pengobatan gratis bagi warga yang kurang mampu. Selama kurang lebih 10 tahun ini, hampir 1.500 pasien yang sudah ditanganinya. Jumlah yang tentunya membanggakan baginya. Lalu si gadis B menceritakan pengalaman pribadinya. Berbekal pengalaman organisasi yang ia geluti selama di bangku kuliah, hatinya tergerak untuk menjadi sukarelawan bencana alam yang terjadi pada beberapa tempat di Indonesia. Setiap tahunya, ia disibukan dengan membantu para korban bencana alam di seluruh belahan nusantara. Hingga total pasien yang ia tangani sudah melebihi 1.600 pasien. Suatu prestasi yang luar biasa tentunya. Kedua sahabatnya berdecak kagum atas prestasi yang ia raih. Kemudian si gadis C mulai menceritakan pengalamanya selama 10 tahun ini. Awalnya ia merasa malu karena prestasi yang ia raih tidak sehebat dari kedua sahabatnya. 
Disaat kedua sahabatnya memiliki kesempatan besar untuk mengamalkan ilmunya pada masyarakat, justru diawal kariernya Allah memberikanya berbagai macam ujian. Ibunya sakit keras dan perlu perawatan intens. Lantaran si gadis C merupakan anak satu-satunya yang berkarier di bidang kedokteran, ibunya hanya ingin dirawat oleh anaknya sendiri. Akhirnya ia tidak memiliki kesempatan untuk membuka praktek seperti layaknya dokter yang lain. Ketika si ibu pulih, Allah memberikan ujian dengan penyakit suaminya yang tak kunjung sembuh. Ia harus merawat suaminya seperti ia dulu merawat ibunya. Hingga akhirnya waktunya banyak ia habiskan hanya  untuk merawat ibu dan suaminya hingga beberapa tahun lamanya. Ada rasa kesal dan kecewa kenapa semua ini terjadi pada dirinya. Kedua sahabatnyapun amat sangat menyayangkanya. Namun, rupanya ia belum selesai bercerita. Selama si gadis C menghabiskan waktu untuk merawat ibu dan suaminya, ternyata ia tidak pernah luput untuk menulis hasil pengalaman medisnya yang ia tuangkan kedalam blog. Ia menulis berbagai macam tips dan resep untuk mengobati segala macam penyakit dan bagaimana merawat anak. Ia tak berhenti berkarya dengan segala kondisi keterbatasan yang ia alami saat ini. Ia tulis semua hasil pengalamanya ketika merawat ibu dan suaminya, bahkan pengalaman-pengalamanya selama ia mengasuh anak. Hingga pada akhirnya seorang blog walker meliriknya dan meminta si C untuk membuat buku. Selang beberapa bulan, diterbitkanlah buku si C tersebut dan rupanya bukunya menjadi buku terlaris hingga tercetak lebih dari beberapa ribu eksempelar. Seketika kedua sahabatnya terkejut dan tidak menyangka sebelumnya. Ternyata dialah yang menulis beberapa buku yang sering mereka jadikan referensi selama berkarier. Tidak dipungkiri lagi, justru si C lah yang paling banyak mengobati pasien melalui buku-buku yang ia tulis. Allah maha adil bukan?
Sebenarnya, hakikat dari menulis adalah segala sesuatu yang kita alami maupun kita miliki dituangkan pada sebuah tulisan yang nantinya akan bermanfaat bagi banyak orang. Itulah mengapa setiap cerita memberikan nuansa yang berbeda-beda, karena setiap orang memiliki persepsi masing-masing dan pengalaman yang tidak serupa. Inspirasi menulispun bisa muncul dari mana saja. Bahkan hal yang selama ini banyak terabaikan orangpun, bisa menjadi sumber inspirasi dalam menulis. Prinsipnya hanya satu, lakukanlah yang terbaik, maka kesuksesan akan datang dengan sendirinya.
Menulis bukan semata berorientasi pada tulisan yang dipublikasikan lalu menjadi buku. Atau menulis hanya sekedar untuk menjadi terkenal. Menulis merupakan proses dimana si penulis memiliki beribu-ribu motivasi terbaik. Maka apabila salah satunya tumbang, ia masih memiliki motivasi yang lain untuk terus menulis. Kenapa harus seperti itu? Karena tidak pernah lahir seorang penulis dalam satu malam, diperlukan proses untuk selalu konsisten dan seberapa produktifkah kita dalam menulis. Tidak masalah nantinya akan menjadi pajangan semata, atau Tuhan berkehendak lain untuk membuat tulisanmu menjadi sebuah buku. Walaupun sejatinya banyak orang yang ingin tulisanya bisa dibaca oleh semua orang. Oleh karena itu, ada beberapa tips untuk penulis awal yang bercita-cita untuk membuat buku, namun masih bingung ingin menulis apa,:
Pertama, belajar untuk konsisten menulis. Berjanjilah untuk menulis 1000 kata perhari secara terus menerus hingga hari ke 180.
Kedua, pilah-pilih hasil tulisanmu yang berjumlah 180 itu dengan mengolompokanya berdasarkan tema yang sama.
Ketiga, tema yang sekiranya paling banyak kita tulis itulah yang nantinya kita olah untuk diajukan pada penerbit.
Keempat, nikmati saja prosesnya. Penulis setenar Tere Liye saja memiliki beribu tulisan yang tidak ia terbitkan, dan akhirnya hanya sekedar menjadi pajangan di laptopnya. Tidak ada kata menyangkan, karena esensi menulis terdapat pada prosesnya, bukan hasilnya.
Apabila pepatah cina mengatakan, waktu terbaik menanam pohon adalah 20 tahun yang lalu, dan waktu terbaik kedua adalah hari ini. Tidak ada kata terlambat untuk berubah lebih baik. Tidak ada kata terlambat untuk menulis. Kita memilih untuk terlambat atau tidak sama sekali? Ballighu anni walau aayah. Sampaikan padaku walau seayat. Tulislah segala sesuatu bermanfaat walaupun satu ayat/ kalimat. Sekian :)