Saturday, 12 March 2016

BIG CHALLENGE, BIG DREAM

PURSUIT OF DREAMS
Banyak orang tidak menyangka, bahwa jalan hidupnya terpaksa harus membuat impian besarnya terkubur dalam-dalam. Banyak orang bahkan harus banting setir pada kehidupan yang lebih nyata, karena menganggap bahwa impian besarnya tidak lebih dari bunga tidur semata, dan ia harus cepat terbangun dari mimpinya. Tapi bisakah kita mampu untuk mempertahankan impian besar ini walau dengan keadaan terseok-seok, terbentur fisik dan psikis dan harus tetap mampu untuk bangkit kembali?
Entah sejak usia berapa tahun, saya mendambakan untuk bercita-cita sebagai seorang pendidik. Entah spesifiknya pada profesi apa, yang penting passion saya selalu kembali untuk mengajar. Namun ketika di bangku kuliah, saya mulai memantapkan diri untuk bercita-cita sebagai seorang dosen. Namun, pada saat itu saya belum mendapatkan esensi yang sangat mendalam mengapa saya harus menjadi seorang dosen? Apa memang itu adalah minat saya, bakat saya, faktor lingkungan, atau faktor konformitas yang hanya sekedar terbawa arus dari lingkungan teman yang sebagian besar berorientasi untuk menjadi seorang ilmuwan?
Usai mendapatkan gelar sarjana pada tahun 2012, banyak yang menyarankan saya untuk segera melanjutkan di jenjang S2. Namun posisi saya saat itu masih belum lulus sarjana untuk jurusan yang satunya (kebetulan ambil double degree). Akhirnya saya tetap fokus untuk menyelesaikanya, dan mencoba kegiatan luar yang awalnya untuk bekal prestige saya sebagai mahasiswa perguruan tinggi swasta. Kenapa harus prestige? Apa yang harus diperjuangkan dari sebuah prestige?
Pada saat itu kebetulan saya terlibat dalam komunitas nasional dimana mayoritas dari mereka berasal dari mahasiswa PTN. Dan pembahasan yang selalu muncul dari benak mereka adalah, udah pernah exchange belum? Udah pernah ikutan penelitian? Pernah ikutan kompetisi apa? Udah pernah kontribusi apa slama ini? Sebetulnya pertanyaan tersebut memacu diri saya untuk menunjukan bahwa mahasiswa PTS juga mampu bersaing dengan mereka yang berada di PTN. Hingga akhirnya saya menemukan titik dimana ini semua bukan sekedar prestige semata, namun semua ini ada sisi positif dari lingkungan saya dimana mereka memacu kita untuk mampu berkontribusi dan menjadi agen perubahan bagi bangsa dan negara, dimulai dari pemudanya, yaitu kita.
Perubahan mindset saya saat itu menjadikan konsep saya dalam bercita-cita menjadi semakin matang. Saya melihat kembali apa potensi terbesar saya, dan mengapa saya memilih untuk menjadi dosen, bukan guru, bukan psikolog, atau yang lain. Dari situlah saya mulai bangkit kembali untuk melanjutkan cita-cita saya untuk melanjutkan jenjang S2, dan sebagai syarat mutlak untuk menjadi seorang dosen. Namun, meletakan target pertama belum menjadikan saya untuk mampu menyusun plannning secara matang. Dan ini berdampak pada ketidakfokusan saya untuk mencapai target yang diinginkan. Mau lanjut ke luar negeri, tapi saya malah ambil kursus writing dan translation di Pare. Baru setelah sadar kalo yang saya perlukan adalah IELTS dan TOEFL, saya baru mulai mengambil dan terpaksa tidak saya lakukan dengan optimal. Kenapa tidak bisa optimal? Karena saat itu saya sedang dapat rejeki yang luar biasa lebih indah dari pengejaran itu semua. Ya, rejeki itu adalah Jodoh.
 
NIKAH ATAU S2?

Alangkah bahagianya menemukan pasangan yang sangat mendukung impian kita. Bagi sebagia wanita, itu merupakan salah satu harapan terbesar kepada pasangan mereka. Banyak teman yang mengelung, pasangan mereka cenderung melarang ini dan itu. Entah alasanya seperti apa. Yang jelas, saya menyampaikan dengan suami tentunya dengan komunikasi yang baik, agar mudah untuk saling difahami seperti apa visi misi hidup kita. Sebelum menikah saya sudah utarakan keinginan saya untuk bisa segera melanjutkan S2. Ayah saya juga menyampaikan apa cita-cita saya ketika suami melamar saya. Hal itu dilakukan agar kedua pihak keluarga saling memahami tujuan kita yang kelak akan dicapai bersama-sama.
             Rencana awal, setelah nikah saya ingin segera langsung melanjutkan jenjang S2. Namun saya masih belum diberi peluang untuk mendapatkan beasiswa saat itu. Kebetulan jurusan yang saya ambil baru ada di jawa, sementara pekerjaan suami di Palembang, Sumatara. Selain itu, saya mengalami gejolak batin jika harus berpisah lagi dengan suami. Bayangkan, sebelum menikah saya hanya bertemu dengan suami saya sekali saja. Kami tidak sempat berpacaran dan melakukan kontak langsung secara mendalam. Walaupun saat itu komunikasi via telpon kami terbilang sayang intens. Akhirnya saya harus merubah haluan. Saya ingin membangun attachment dengan suami saya terlebih dahulu, paling tidak satu tahun. Baru setelah itu saya akan berjuang lagi untuk lanjut kuliah.
Satu tahun sudah kita menjalani bahtera rumah tangga. Keresahan mulai datang ketika ingin melaksanakan apa yang sudah kita rencanakan. Ya, seperti janji saya dulu. Kembali pada rencana panjang untuk mencapai impian itu. Suami dengan begitu ikhlasnya, suatu ketika beliau pernah bilang sama saya,
“ Sayang, kamu tahu kenapa aku begitu mensupport cita-citamu itu, karena pada akhirnya aku memaknai bahwa itu bukan sekedar cita-citamu saja, melainkan harapan bersama, untuk mencapai tujuan hidup kita dalam membangun keluarga sakinah mawaddah warahmah”
           Masya Allah, seketika saya melebur dalam dekapanya sambil menyeka tetesan air mata yang penuh haru itu. Kita akan berjuang bersama sayang untuk tujuan bersama kita. Setelah itu, suami berusaha mencari peluang kerja perusahaan yang bonafit di Jawa. Alasanya ia tidak mau gegabah sekedar keluar dari kerjaan di Palembang, karena dunia kerja di Jawa adalah dunia yang penuh persaingan. Makanya dia hanya apply pada perusahaan yang besar saja, tidak sekedar abal-abal. Namun, atas ridho Allah, belum ada perusahaan yang memberi kesempatan itu. Saya begitu tahu bagaimana etos kerja suami, semua itu hanya pada permasalahan Ijin Allah. Tapi mengapa Allah belum meridhoi rencana kami? Kadang terbenak dalam hati untuk kecewa dan sedih.  Apa memang ternyata Allah masih meridhoi cita-cita ini?
          Belum lagi orang tua dari kedua belah pihak sangat memberatkan. Saya faham betul posisi saya. Saya adalah seorang istri. Dan sayalah yang akan meninggalkan suami saya. Walaupun berkantong izin dan support suami, tidak serta merta perizinan dari orang tua berjalan mulus. Namun saya tetap menghormati mereka, mendengarkan petuah mereka. Bahwa cita-cita tidak harus secepatnya diwujudkan, masih banyak waktu sampai tidak harus membuat kita jadi terpisah. Pada dasarnya profesi saya kelak tidak dijadikan prioritas utama untuk mencari nafkah. Karena sejatinya mencari nafkah adalah tugas utama suami. Sementara mendidik anak dan mengurus rumah tangga adalah tugas utama istri. Saya tertunduk malu. Ada apa dengan diri saya sehingga segitu berjuangnya mempertahankan prinsip ini? Salahkah dengan impian ini? Terlalu abstrakah atau terlalu muluk-mulukah tujuan mulia ini?
              Mungkin memang sayalah yang terlalu muluk-muluk bermimpi, tanpa memahami situasi dan kondisi. Yang ada dalam benak saya, saya ingin menjadi dosen sekaligus ilmuwan di bidang ilmu saya. Saya mampu menemukan konsep dan penemuan baru dalam penelitian saya, yang kelak suatu saat nanti selain mengajar, konsep tersebut akan saya transformasikan ke anak-anak dan suami saya untuk membangun lembaga bersama. Lembaga tersebut gunanya untuk bisa bermanfaat bagi masyarakat luas. Jadi ibaratnya saya harus punya bekal untuk menciptakan impian besar tersebut. Ah, mungkin saya terlalu banyak disuntik kisah-kisah heroik dari reality show Kick Andy, yang menjadikan diri saya akhirnya harus kembali untuk menginjak bumi dan meninggalkan langit yang penuh dengan angan-angan. Saat hati mulai pasrah untuk melepasnya, entah mengapa manusia malaikat yang bernama suami itu terus menerus meyakinkan keputusan saya. Berusahalah hingga titik akhir, dimana Allah benar-benar memutuskan bahwa saat ini memang bukan jalanmu!
            Bismilllahirrahmanirrahim, kata-kata itu kembali membius keputusan saya. Saya bulatkan tekat pulang ke Boyolali untuk menjalani proses pendaftaran mahasiswa S2 di UGM. Setelah menunggu giliran tes TOEFL dan TPA, 3 minggu kemudian saya kembali lagi ke Palembang karena pengumuman hasil tes administrasi masih 2 bulan lagi. Sepulang kesana, saya dibanjiri berbagai macam pertanyaan dari orang-orang sekitar, baik yang psoitif maupun negatif. Tapi saya sudah berjanji dalam diri untuk selalu berpositif thinking dan tidak mau mengotori hati saya ketika diberi pertanyaan yang mungkin cukup membuat saya tidak nyaman. Whatever it takes, do everything like the winds blow.

THANKS GOD, IM PREGNANT!

            Sebulan sudah waktu penantian pengumuman kini terlewati. Tinggal satu bulan lagi untuk menunggu pengumuman untuk lanjut ke seleksi wawancara dan tes tertulis dari jurusan. Ternyata, Allah memberikan kejutan rizki yang tidak disangka-sangka dan yang selama ini sangat kami dambakan. Alhamdulillah, diberikan kesempatan kedua kali ini hamil untuk anak pertama kami. Subhanallah walhamdulillah Allahukabar.  Terimakasih ya Allah, setahun sudah kami menantikannya. Dan saya tidak mau gagal untuk kedua kalinya. Saya harus benar-benar menjaga titipan Allah ini. Sayang, sehat terus ya nak di perut bunda. Ya Allah, fabiayyi aalaa irabbikuma tukadzibaan.

              Uforia kebahagiaan ini masih menghiasi rumah tangga kami. Ini menjadi kabar bahagia bagi orang tua, terutama mertua kami sebagai cucu pertama. Suami begitu perhatianya menjaga demi anak pertama kami. Sayapun sekarang lebih berhati-hati, dan mengerem segala aktivitas sosialita saya yang suka kumpul sama teman-teman. I totally stay at home currently. Semua demi dan demi babyku tersayang. Lalu gimana ya kabar S2nya? Jadi? Jadinya kami berdiskusi kembali dalam rutinitas pillow talk sebelum tidur. Kini giliran suami yang bimbang, “sayang, gimana kalo diundur lagi aja ya. Masak kamu nanti hamil sendirian gitu kamu siap?” saya tidak mampu menjawab apa-apa. Solusi terbaiknya adalah salat istikharah. Mencari solusi terbaik yang diridhai oleh Allah. Kenapa sih apa-apa harus ridho Allah? Ya, karena Allahlah yang paling tahu kemampuan hambanya kan. La yukallifullahu nafsan illa wus`aha.
             Alhamdulillah, waktu pengumuman tiba. Saya dinyatakan lolos untuk lanjut ke tahap seleksi tes tertulis dan wawancara dari jurusan. Akhirnya jawaban dari Allah datang dari prasangka hambanya. Awalnya saya utarakan dengan suami. Lalu saya menyampaikan kepada ibu mertua saya, “ Bu, karena tahap seleksinya tinggal sekali lagi, saya selesaikan semuanya dulu gih. Urusan diterima tidak, saya insya allah ikhlas. Kalo memang diterima berarti ini sudah kehendak AllaH, tapi kalo gak keterima berarti saya memang harus fokus sama kehamilan saya.” Ibu mertua saya merestui dan bahkan mendukung saya untuk tetap lanjut. Terima kasih bu atas restunya.
             Dan pada akhirnya, setelah menjalani proses yang berlika-liku, jalan Allah adalah meridhoi saya untuk lanjut S2 dengan kondisi hamil dan jauh dari suami dan orang tua. Saya ingat betul cerita dari temen yang baru tahu hamil setelah keterima beasiswa LPDP untuk lanjut kuliah di UK. Kebetulan suaminya juga melanjutkan di Eropa tapi berbeda kota yang jaraknya bisa satu jam. Dia jauh dari suami dan bahkan sangat jauh dari orang tua. Tidak ada teman lama disana. Tapi ia tetap melanjutkan studinya sampai akhirnya bayinya lahir pada saat kuliah di UK. Masya Allah. Tegar banget ya. Berarti saya juga bisa kayak dia. Paling tidak orang tua tidak begitu jauh, dan suami masih bisa menjenguk sebulan sekali. Saya selalu yakin, Allah tidak memberatkan hambanya kecuali sesuai dengan kemampuannya. Udah itu saja prinsip yang saya pegang. Bismillahirrahmanirrahim
           Sekarang sudah 2 bulan saya menjadi mahasiswa  sekaligus bumil. Doa saya semoga Allah melancarkan kehamilan saya, Allah melancarkan kuliah saya, diberi lingkungan, teman, dan dosen yang baik. Begitu luar biasa baiknya Allah, selama ini teman-teman sangat peduli sama saya, suami semakin perhatian walaupun jarak jauh, orang tua tetap terus mensupport. Sampai ada temen yang ingin menjadikan kehidupan saya sebagai bahan penelitian. Daya juang mahasiswa dengan kondisi hamil dan mandiri kali ya .. Hehee.. intinya saya harus nikmatin semua ini. Saya harus terus bahagia, jauhi berprasangka buruk, tetap hormati orang tua, ambil baik-baiknya, jangan terlalu sensitif dan selalu berprasangka baik, itu kuncinya. Saya bahkan lebih fokus dari studi S1 saya dulu karena karena sekarang saya lebih banyak fokus untuk belajar dan menjaga kesehatan si buah hati. Si baby sekarang usianya udah 5 bulan di kandungan. Sehat terus ya sayang, semoga terlahir secara sempurna, sehat jasmani rohani, menjadi qurrata a`yun bagi semuanya. Aminn.

             Walaupun cita-cita study abroad belum terealisasikan, setidaknya bisa melanjutkan di kampus terbaik di negeri ini. Bukan maksut saya  hanya mengejar title kampusnya. Tapi saya akui atmosfer keilmuwanya sangat terpelihara dengan baik bila kita merasakan kuliah disini. Semoga kelak akan terealisasikan study abroad saat S3 nanti. Tentunya dengan full scholarship dan bisa membawa anak dan suami. Bukan untuk gaya-gayan tentunya. Percayalah, kalo kita sungguh-sungguh menuntut ilmu, maka kita akan merasakan kenikmatan belajar yang sebenarnya. Tentunya, semua ilmu itu bisa bermanfaat agar kelak menjadi amal jariyah. Aminn ya rabb. Jadi, masih takut untuk bermimpi? 

Tuesday, 24 November 2015

PENDIDKAN AKHLAK MELALUI MANASIK HAJI



“Labaikallah humma labaik..labaikalaa syariikala kalabbaik....”
 Bacaan talbiah berkumandang khusyu` menggema di setiap sudut ruangan masjidil haram diiringi  para jemaah haji yang melantunkan untaian doa saat mengelilingi ka`bah. Suasana tersebut tak terlepas dari ritual ibadah haji yang dilaksanakan setiap tahunya di tanah suci Makkah.
Pada tanggal 22 September 2015, Sekolah Islam Al-Azhar Palembang mengadakan pelatihan manasik haji mulai dari level TK hingga SMP. Hal ini bertujuan agar murid dapat mempelajari pelaksanaan ibadah haji dari awal hingga akhir. Selain itu, murid dapat belajar hikmah kebersamaan, pengorbanan, dan keikhlasan dalam berbibadah.
Keagungan Allah SWT yang ditunjukan melalui ibadah haji dapat mengingatkan kita betapa banyak pesan moral yang disampaikan melalui ibadah tersebut. Pesan moral tersebut sekiranya dapat mengantarkan kita untuk memaknai arti hidup dan bagaimana bersikap yang disyariatkan Allah SWT. Oleh karena itu, betapa pentingnya pelatihan Manasik Haji untuk dapat disampaikan dan menjadi suatu kegiatan di suatu sekolah. Manasik Haji dapat dijadikan sebagai pendidikan akhlak dimana peserta didik dapat memahami esensi dari Ibadah haji bukan hanya sekedar pelaksanaanya saja. 


Haji merupakan ibadah dimana setiap muslim di seluruh belahan dunia berbondong-bondong mengunjungi kota nan suci guna menyempurnakan rukun Islam yang ke lima. Namun, lebih dari itu ibadah haji banyak memberikan pesan moral bagi seluruh umat manusia akan kekuasaan Allah yang tiada tandingnya. Ibadah haji memberikan esensi bahwa disetiap ritual dalam pelaksanaan haji Allah menunjukan kekuasaanya agar manusia dapat berfikir untuk dapat memaknai hidupnya lebih berarti.
Ibadah haji menjadi suatu kesaksian perjalanan-perjalanan Nabi untuk menyerukan ketauhidan dan keimanan Allah SWT. Jejak sejarah kehidupan Nabi Adam terekam dalam situs manasik haji. Berbicara tentang Nabi Adam tentu sulit melepaskanya dengan tanah Arafah, sebuah padang luas di mana beliau bertemu kembali dengan Hawa di sebuah gunung yang kini dinamai Gunung Cinta (Jabal Rahmah), selepas terpisah karena diusir dari Surga. Kabah merupakan catatan sejarah perjalanan Nabi-nabi yang telah lalu.
 Air zam-zam menjadi kesaksian perjuangan siti Hajar untuk bertahan hidup bersama buah hatinya Ismail. Keikhlasanya diuji sebagai seorang istri dari Nabi Ibrahim untuk dapat menerima kepergian suaminya dalam  melaksanakan perintah Allah SWT. Kisah perjuangan siti Hajar tersebut diabadikan melalui amalan ibadah haji yang dinamakan Sa`i, yaitu berlari-lari kecil dari Shafa ke Marwah. Sebuah catatan sejarah dimana siti Hajar berjuang mencari setetes air untuk anaknya Ismail yang sedang menangis kehausan. Selain itu, air zam-zam membuat para ilmuwan terkagum-kagum akan kandungan dan manfaatnya. Air zam-zam mengandung banyak kelebihan, yaitu zat flourida yang berfungsi membunuh kuman dan membantu proses penyembuhan. Molekul airnya membentuk kristal heksagonal nan berkilau, bahkan sumurnya tidak pernah ditutupi lumut sekalipun, Masaru Emoto (peneliti molekul air).
Hakikat pengorbanan dari Ibadah Haji ditunjukan melalui kejadian penyembelihan Ismail yang memberikan sarat hikmah yang dramatis, agar setiap dari kita senantiasa meresapi makna besar di balik pengorbanan, di balik kesediaan tulus sebagai seorang hamba kepada Kekasihnya. Terlebih ketaatan Ismail sebagai seorang anak ditunjukan akan keikhlasanya menjalankan perintah sang Ayah dan bagaimana semestinya menyikapi ujian yang nyata dari Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam QS. As-Shaffat: 104-107, “Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”.
Disisi lain, haji adalah perjalanan spiritual dan kejiwaan. Michael Wolfe, seorang muallaf yang berprofesi sebagai pengarang, penyair, dan produser asal California AS, menyebut ziarah ke Mekkah seperti pulang ke rumah, tekanan gravitasi yang tinggi sehingga menjadi imun bagi tubuh. Tempat ibadah yang memancarkan energi positif, karena setidaknya lima kali sehari menerima pancaran energi positif dari orang yang salat dan thawaf saat berdoa, kemudian di pancarkan kembali kepada kita semua (Sarhindi, 2013). Energi yang disalurkan tersebut sama halnya seperti hukum ketertarikan. Apa yang kita fokuskan akan menjadi apa yang kita tarik masuk kedalam hidup. Sama halnya ketika kita menjadi pribadi yang selalu berfikiran positif, maka pancaran energi tersebut akan kembali ke diri kita sehingga kita lebih menjadi pribadi yang bersyukur dan berserah diri.
Pelaksanaan ibadah haji menjadikan Makkah menjadi tuan rumah yang mempersatukan manusia lintas-etnis dan lintas-agama. Setiap muslim melaksanakan solat di Masjidil Haram dengan gerakan yang berbeda-beda. Ada yang melipat tanganya erat di depan dada, hanya sekedar melipat ujung tanganya saja, tangan terlipat di bawah perut, bahkan ada yang solat tanpa melipat tanganya ke depan. Namun, pernahkah kita mendengar berita tentang adanya pertikaian akibat perbedaan tersebut di Masjidil Haram? Lalu kenapa di negara kita sendiri settitik hal yang berbedapun dipermasalahkan bahkan mengarah untuk saling menghujat? Bahkan banyak yang mengatakanya sebagai suatu Bid`ah? Kita terlalu disibukan untuk mencari celah saudara kita sesama muslim dan lupa bagaimana Allah mengajarkan kita tentang cara menyeru ke saudara kita dengan cara yang baik. Masya Allah, betapa besarnya karunia Allah menunjukan kebesaranya melalui Ibadah Haji.

Monday, 24 August 2015

MENITI JEJAK SANG PENANDAI. CINTA, SASTRA, DAN KARYANYA: DARWIS TERE LIYE



Seorang lelaki berumur + 35 tahun datang memasuki panggung acara dengan penampilan celana jeans, sepatu kets, kaos berwarna biru muda, dan topi putih menutupi kepalanya. Sosok pribadi yang sederhana itu rupanya sedang dinanti-nanti oleh ratusan orang yang memenuhi auditorium Rumah sakit Mata Sumatra Selatan demi menyaksikan kedatanganya di kota Palembang ini. Ya, ini kedua kalinya saya bertemu dengan bang Darwis Tere Liye. Seorang penulis yang sudah menerbitkan lebih dari 20 hasil karyanya dan tersebar diseluruh belahan nusantara.
Bang Tere, sebagai sapaan akrabnya, memulai pembicaraan dengan sebuah cerita. Alkisah diceritakan 3 orang sahabat yang sama-sama mengambil jurusan kedokteran di universitas terkemuka di Indonesia. Mereka tinggal di kos yang sama, kelas yang sama, hingga mereka meraih gelar dokter pada waktu yang sama. Setelah 5 tahun lamanya kebersamaan yang mereka jalin, tiba saatnya mereka untuk  mengabdikan diri dan mengamalkan ilmu ke kampung halaman mereka masing-masing. Si gadis A kembali ke kampung halamanya di Sumatra, si gadis B kembali ke salah satu kota di Sulawesi, dan si gadis C yang kembali di salah satu daerah di pulau Jawa. Saat berpisah, mereka bertiga memiliki suatu janji. Kelak beberapa tahun yang akan datang, setelah masing-masing sudah menjalani bahtera rumah tangga, mereka akan bertemu kembali untuk melepas kerinduan. Mereka akan menceritakan siapakah diantara mereka yang merawat pasien paling banyak, dan itu akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka yang berprofesi sebagai seorang dokter.
Setelah 10 tahun lamanya akhirnya mereka memutuskan untuk bertemu di suatu tempat yang mereka janjikan. Ini adalah saatnya ketiganya menceritakan kuseksesan mereka sebagai seorang dokter. Si gadis A mulai bercerita, bahwa dengan pemahaman ilmunya yang sangat baik, ia dapat mendirikan klinik pribadi di kotanya. Kliniknya tidak pernah sepi dari pasien. Semua warga berbondong-bondong untuk berobat kepadanya, bahkan ia memberikan pengobatan gratis bagi warga yang kurang mampu. Selama kurang lebih 10 tahun ini, hampir 1.500 pasien yang sudah ditanganinya. Jumlah yang tentunya membanggakan baginya. Lalu si gadis B menceritakan pengalaman pribadinya. Berbekal pengalaman organisasi yang ia geluti selama di bangku kuliah, hatinya tergerak untuk menjadi sukarelawan bencana alam yang terjadi pada beberapa tempat di Indonesia. Setiap tahunya, ia disibukan dengan membantu para korban bencana alam di seluruh belahan nusantara. Hingga total pasien yang ia tangani sudah melebihi 1.600 pasien. Suatu prestasi yang luar biasa tentunya. Kedua sahabatnya berdecak kagum atas prestasi yang ia raih. Kemudian si gadis C mulai menceritakan pengalamanya selama 10 tahun ini. Awalnya ia merasa malu karena prestasi yang ia raih tidak sehebat dari kedua sahabatnya. 
Disaat kedua sahabatnya memiliki kesempatan besar untuk mengamalkan ilmunya pada masyarakat, justru diawal kariernya Allah memberikanya berbagai macam ujian. Ibunya sakit keras dan perlu perawatan intens. Lantaran si gadis C merupakan anak satu-satunya yang berkarier di bidang kedokteran, ibunya hanya ingin dirawat oleh anaknya sendiri. Akhirnya ia tidak memiliki kesempatan untuk membuka praktek seperti layaknya dokter yang lain. Ketika si ibu pulih, Allah memberikan ujian dengan penyakit suaminya yang tak kunjung sembuh. Ia harus merawat suaminya seperti ia dulu merawat ibunya. Hingga akhirnya waktunya banyak ia habiskan hanya  untuk merawat ibu dan suaminya hingga beberapa tahun lamanya. Ada rasa kesal dan kecewa kenapa semua ini terjadi pada dirinya. Kedua sahabatnyapun amat sangat menyayangkanya. Namun, rupanya ia belum selesai bercerita. Selama si gadis C menghabiskan waktu untuk merawat ibu dan suaminya, ternyata ia tidak pernah luput untuk menulis hasil pengalaman medisnya yang ia tuangkan kedalam blog. Ia menulis berbagai macam tips dan resep untuk mengobati segala macam penyakit dan bagaimana merawat anak. Ia tak berhenti berkarya dengan segala kondisi keterbatasan yang ia alami saat ini. Ia tulis semua hasil pengalamanya ketika merawat ibu dan suaminya, bahkan pengalaman-pengalamanya selama ia mengasuh anak. Hingga pada akhirnya seorang blog walker meliriknya dan meminta si C untuk membuat buku. Selang beberapa bulan, diterbitkanlah buku si C tersebut dan rupanya bukunya menjadi buku terlaris hingga tercetak lebih dari beberapa ribu eksempelar. Seketika kedua sahabatnya terkejut dan tidak menyangka sebelumnya. Ternyata dialah yang menulis beberapa buku yang sering mereka jadikan referensi selama berkarier. Tidak dipungkiri lagi, justru si C lah yang paling banyak mengobati pasien melalui buku-buku yang ia tulis. Allah maha adil bukan?
Sebenarnya, hakikat dari menulis adalah segala sesuatu yang kita alami maupun kita miliki dituangkan pada sebuah tulisan yang nantinya akan bermanfaat bagi banyak orang. Itulah mengapa setiap cerita memberikan nuansa yang berbeda-beda, karena setiap orang memiliki persepsi masing-masing dan pengalaman yang tidak serupa. Inspirasi menulispun bisa muncul dari mana saja. Bahkan hal yang selama ini banyak terabaikan orangpun, bisa menjadi sumber inspirasi dalam menulis. Prinsipnya hanya satu, lakukanlah yang terbaik, maka kesuksesan akan datang dengan sendirinya.
Menulis bukan semata berorientasi pada tulisan yang dipublikasikan lalu menjadi buku. Atau menulis hanya sekedar untuk menjadi terkenal. Menulis merupakan proses dimana si penulis memiliki beribu-ribu motivasi terbaik. Maka apabila salah satunya tumbang, ia masih memiliki motivasi yang lain untuk terus menulis. Kenapa harus seperti itu? Karena tidak pernah lahir seorang penulis dalam satu malam, diperlukan proses untuk selalu konsisten dan seberapa produktifkah kita dalam menulis. Tidak masalah nantinya akan menjadi pajangan semata, atau Tuhan berkehendak lain untuk membuat tulisanmu menjadi sebuah buku. Walaupun sejatinya banyak orang yang ingin tulisanya bisa dibaca oleh semua orang. Oleh karena itu, ada beberapa tips untuk penulis awal yang bercita-cita untuk membuat buku, namun masih bingung ingin menulis apa,:
Pertama, belajar untuk konsisten menulis. Berjanjilah untuk menulis 1000 kata perhari secara terus menerus hingga hari ke 180.
Kedua, pilah-pilih hasil tulisanmu yang berjumlah 180 itu dengan mengolompokanya berdasarkan tema yang sama.
Ketiga, tema yang sekiranya paling banyak kita tulis itulah yang nantinya kita olah untuk diajukan pada penerbit.
Keempat, nikmati saja prosesnya. Penulis setenar Tere Liye saja memiliki beribu tulisan yang tidak ia terbitkan, dan akhirnya hanya sekedar menjadi pajangan di laptopnya. Tidak ada kata menyangkan, karena esensi menulis terdapat pada prosesnya, bukan hasilnya.
Apabila pepatah cina mengatakan, waktu terbaik menanam pohon adalah 20 tahun yang lalu, dan waktu terbaik kedua adalah hari ini. Tidak ada kata terlambat untuk berubah lebih baik. Tidak ada kata terlambat untuk menulis. Kita memilih untuk terlambat atau tidak sama sekali? Ballighu anni walau aayah. Sampaikan padaku walau seayat. Tulislah segala sesuatu bermanfaat walaupun satu ayat/ kalimat. Sekian :)

Thursday, 11 June 2015

TEKNIK LUAR BIASA MENDIDIK ANAK UNTUK INDONESIA HEBAT


TEKNIK LUAR BIASA DAN ANDA HARUS MENCOBA!

     Semalam saya baru saja dibuat haru oleh anak-anak komplek dimana saya tinggal. Ceritanya begini, setiap  Senin-Jumat saya dan suami selalu berangkat kerja dari jam 6 pagi sampai jam 6 petang kami baru tiba di rumah. Padatnya waktu di luar rumah membuat kami hanya sempat membersihkan pekarangan rumah setiap Sabtu/Minggu. Tapi, karena rumah kami belum berpagar akhirnya anak-anak seringkali bermain di pekarangan dan SELALU saja meninggalkan SAMPAH.
 Saya pernah menegur pada beberapa anak yang kebetulan sering belajar di rumah saya,

 “Nak kalo maen di halaman kami jangan buang sampah sembarangan ya, kasih tau sama teman-teman yang lain”ujarku sambil tersenyum mengingatkan.

“Iya us, nanti saya sampaikan ke teman-teman, tapi biasanya yang sering mengotori itu si ini si itu us..” dan kesimpulanya adalah tidak ada anak yang berani mengakui perbuatanya.

       Saya mengiyakan saja, dan berharap besok sudah tidak ada lagi sampah yang bertebaran di sekitar halaman rumah kami. Keesokanya saya cek lagi halaman rumah, masih TETAP dengan sampah-sampah mentereng asik di pekarangan rumah. Saya mulai naik pitam
Usai Shalat Maghrib, saya menyiapkan kertas, spidol warna-warni, kotak susu bekas, dan kertas kado untuk merencanakan aksi terbaru saya agar mereka jera. Saya buat tulisan besar-besar yang bertuliskan “DILARANG BUANG SAMPAH SEMBARANGAN!!!” dengan tanda seru tak terhingga sebagai ancaman terakhir bagi mereka. Namun, saya mulai berfikir hal itu justru membuat anak-anak tidak akan pernah singgah di halaman kami lagi. Bukankah saya hanya ingin mengajarkan mereka akan kesadaran diri dan tanggung jawab?
       
        Lalu akhirnya tulisan tersebut saya ganti dengan tulisan,
 “SELAMAT BERMAIN ANAK-ANAK. JAGA KEBERSIHAN TEMPAT KALIAN BERMAIN YA..BUANGLAH SAMPAH PADA TEMPATNYA. KALAU TEMPAT BERMAIN KALIAN KOTOR, MAKA RUMPUT-RUMPUT AKAN MENANGIS ”.

    Saya bagi tulisan tersebut dalam 4 potongan kertas besar. Setelah itu saya buat kado dari kotak susu bekas yang saya isi dengan beberapa permen saya yang saya belih di warung sebelah. Kado tersebut saya tuliskan,
 “AMBIL HADIAH DI DALAM KOTAK JIKA KALIAN MENJAGA KEBERSIHAN”. 

     Keesokan harinya saya letakan kertas dan kado tersebut di sudut halaman rumah. Suami saya hanya cengar-cengir melihat tingkah konyol saya dan menduga pasti tidak ada perubahan apa-apa dari masalah ini.
       
        Ketika pulang sore hari, saya dibuat tercengang dengan keadaan rumah yang sangat berbeda dari sebelumnya. Saya melihat halaman rumah benar-benar bersih, bahkan rumput-rumput liar disekitarnya sudah ada yang membersihkan! Tentunya sudah tidak ada lagi satupun sampah yang mejeng disana. Saya menduga pasti ini perbuatan anak-anak. dan ternyata benar. Di depan rumah saya sudah terpampang kertas yang bertuliskan,
“USTADZAH KAMI SUDAH MEMBERSIHKAN TEMPAT USTADZAH. KAMI MENYAPU TERAS DAN MEMBERSIHKAN RUMPUT. DARI SISKA, SELA, WAWA, AIRA, DLL”

         Seketika saya speechless karena merasa terharu dengan perubahan baik dari anak-anak tersebut. Saya buka kotak kado yang saya isikan permen tadi, ternyata sisanya tinggal 5 biji. ALHAMDULILLAH. Dari kejauhan mereka melihat kami dari kejauhan. Saya panggil mereka dan saya peluk mereka satu persatu.

         Pesan Moral:
Merubah perilaku anak sama halnya dengan menemukan mutiara di dalam karang. Mereka memerlukan respon positif dari seorang pendidik, bagi pendidik di lingkungan terkecilnya (keluarga) maupun lingkungan yang lebih besar seperti sekolah dll. Mengarahkan mereka tidak perlu dengan meluapkan emosi negatif dan terus-menerus menyeru dengan perkataan “JANGAN” tanpa adanya pemahaman mendalam mengapa hal tersebut tidak perlu dilakukan. Anak tak lain berbeda dengan manusia pada umumnya yang memiliki HATI untuk menelaah keinginan kita. Sampaikan dengan kalimat positif dan reinforcement yang menyenangkan seperti memberi reward kepada mereka. Saya rasa anak-anak Indonesia akan berkembang lebih baik jika kita mendidik mereka dengan kasih sayang. Semoga bermanfaat J