Senin, 22 Oktober 2012

welcome OKTOBER



Welcome Oktober!
            Bagiku bulan ini bakalan jadi bulan sesuatu banget, lebih sesuatu dari sesuatunya Syahrini. Secara bulan ini sebagai pertanda akan berahirnya bulan september yang selalu mengenang sejarah kepedihan bagi saya. Yah, lagu “wake me up when september ends” emang bakalan gak bisa terlupakan dari memori ini. Lagu dimana perjumpaan itu berawal dengan cinta pertama, setelah sekian tahun lamanya dan harus kandas juga di ujung jalan. Ini mungkin akan menjadi cinta terahir dalam konteks “pacaran” karena sudah saya niatkan untuk gak bakalan pacaran lagi seumur hidup. Bukan berarti saya memutuskan untuk jadi seorang lesbian loh ya, helo! Artinya saya hanya siap untuk menikah dan tidak siap lagi untuk pacaran berlama-lama. Ya taarufan aja laah,,eaaa....
            Ok, back to oktober. Mungkin karena saya menyambut kehadiran bulan ini dengan senyuman yang lebar dan penuh kebahagiaan, tak terasa bulan ini terlewati dengan hari-hari yang bikin hati ini selalu cenat-cenut, wow  smash beudd...yah as u know lah,,gw gitu loh cewek yang dibilang super “sok” sibuk akhirnya pernah merasakan hati cenat-cenut juga hahahaa. Ya iyalah cenat cenutnya toh juga bukan dalam konteks Lope Lope alias LOVE #uhuukk, kayak kesedek biji salak rasanya. Tapi tentunya dalam konteks yang bisa dibilang “ini masa depan gue bro!”
            Di minggu pertama bulan oktober, ini pertama kalinya saya ikutan latian medley untuk performance pertama saya di Bangkok, Thailand. Yah, finally, dengan segala tekat, keinginan, usaha, semangat yang membara, buah dari kegagalan gak lolos jadi exchange participant di Aussie, ahirnya saya menapakan kaki keluar negeri juga. Tentunya bukan cuman buat jalan-jalan donk. Tapi saya bersama 20 pelajar se-Indonesia dinyatakan resmi sebagai peserta Inter-Cultural Learning and Friendship Program di Bangkok, Thailand. And It`s my first experience going to abroad. Selangkah lebih maju lah untuk mengikuti jejak Trinity, the author of “The Naked Travel” yang bukunya selalu saya embat setiap kali terbit, karena sense backpakernya sama bakat nulisnya bakal mengubek-ubek perasaan para pembaca yang gila traveling. Dan ini juga yang menginspirasi saya untuk keliling dunia, tapi tidak menginspirasi untuk nikah tua (maaf ya mba trinity, jujur itu indah hehee).
            Sekali terbukanya peluang kesempatan untuk bisa eksis, semakin ketagihan saya mencari scholarship untuk mengikuti fellowship maupun internship program ke berbagai belahan dunia via internet. Tak habis-habisnya setiap detiknya seperti sudah menjadi sebuah kewajiban untuk menjadi seorang scholarship hunter. Salah satunya, saya sangat antusias untuk menjadi tim member-nya Aiesec Expansion UNS. Sudah kedua kalinya saya mengikuti open recruitment yang diselenggarakan oleh commite. Sayang disayang, ternyata baik manager maupun tim member aiesec haruslah mahasiswa dari UNS yang telah menaungi Aiesec untuk wilayah Solo. Ada rasa kecewa, tapi lebih tepatnya sangat kecewa. Apa para mbak dan masnya gak tau kalo saya sebegitu niatnya untuk mengikuti platform ini. Tapi saya tidak ingin menyerah, saya datangi salah satu commite yang sedang mengurusi pendaftaran untuk menanyakan alasan lebih lanjut mengapa saya selalu ditolak. Ternyata dia adalah president-nya Aiesec exp UNS. Namanya monica. Gadis manis bermata sipit dengan behel hijau itu menerangkan mengenai alasan kenapa saya tidak bisa menjadi tim member aiesec, namun ternyata saya hanya bisa menjadi volunteer atau ICU yang biasa diambil dari delegasi kampus lain ketika Aiesec menyelenggarakan Meet And Greet setiap tahunya. Monic mensarakan untuk menjadi ICU saja namun untuk Meet N Greet tahun depan, karena tahun ini sudah dilaksanakan seminggu yang lalu dan mereka telah mengundang delegasi dari Unisri sebagai ICU. Yah, kecewa untuk kesekian kalinya, telat info lagi.
            By the way, barangkali tidak semua orang dikampus saya tidak tahu apa sih Aiesec itu. Bahkan untuk mahasiswa uns sendiri pun sebagian ada yang masih bertanya-tanya aiesec itu apa. Mungkin dalam benak orang awam Aiesec itu label minuman, atau  semacam nama distro di solo. Seharusnya commite aiesec UNS lebih menghargai saya dong, karena saya satu-satunya mahasiswa dari UMS yang benar-benar niat banget untuk ikutan Aiesec, dan setiap diadakan recruitment saya selalu datang jauh-jauh dari UMS. Gak salah kalo sebagaian commite sudah hafal dengan wajah dan nama saya.  
            Kembali lagi ke pembahasan awal. Ok, begini ceritanya. Awalnya saya tertarik dengan organisasi ini berawal dari teman saya di Jogja, Caesar. Barusan sebulan yang lalu Caesar pulang dari India untuk mengikuti Internship Program aiesec. Sekarang dia menjabat sebagai Vice President of Outgoing Exchange Aiesec UPN Veteran Jogjakarata. Tahun yang lalu , ternyata dia juga salah satu participant dari Asean Youth Friendship Network sama halnya dengan saya, namun tujuanya ke Malaysia. Kemampuan bahasa inggrisnya tidak perlu diragukan. Yaiya, setiap hari ia harus berbahasa Inggris dan Skype-an dengan pacarnya yang orang India itu, dan juga karena keseharianya untuk mengurusi Aiesec dengan bahasa wajibnya bahasa inggris juga. Ya, pas banget dengan jurusan yang dia ambil, Hubungan Internasional. Mahasiswa HI setidaknya harus berpengalaman untuk melalang buana ke luar negeri untuk mengaplikasikan ilmunya di bangku kuliah. Nah lo, jadi skak mat. La trus kenapa saya yang tidak berbasic HI sama sekali segitu ngebetnya pengen ikutan aiesec? Knapa tidak ikutan JASPI (jasa psikologi) yang mestinya sangat direkomendasikan untuk para calon psikolog tentunya. Atau jadi asisten praktikum lah biar dapat nilai tambah dari dosen. La kalo saya basicnya malah ke budaya lah, sosial lah, semua hal yang berhubungan dengan conferenses, sosial, komunikasi, seperti itu lah yang mengalir di darah saya. Memang psikologi kajianya sangat luas. It`s ok kalo kita nantinya fokus ke budaya, bahkan ke sosial, karena cangkupan psikologi kan emang luas. Dan barusan sekarang ini saya menemukan jati diri saya, eaaa. Saya suka perkumpulan, saya suka speaking daripada writing, berdiskusi, jalan-jalan pastinya, dan semua itu sepertinya aiesec dapat mendukung minat saya saat ini. walaupun banyak organisasi yang mungkin serupa dengan aiesec, karena sudah niat dari awal saya prioritaskan ini dulu. Tapi ya, memang belum rejekinya untuk dapat menjadi bagian dari Aiesec. Hmm, cukup berlapang dada, mandang ke tembok, sambil mengepalkan tangan. Ingin rasanya saya teriakan satu kalimat: AKU PASTI BISAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
            Walaupun di bulan ini, saya gagal mencoretkan salah satu dream list di buku saya, it doesnt matter. Saya yakin, sukses itu awal dari kegagalan. Bahkan gak cuman gagal di aiesec saja, saya juga gagal untuk berkesempatan untuk menjadi participant Forum Indonesia Muda yang ke 13 di Cibubur. Padahal forum ini rekomended banget. Salah satu alumninya dari UMS, mas agung dan mas sony yang saya kenal dari Muhamadiyah English Debating Society, dan tentunya mereka berdua itu orang-orang hebat. Mas sony pernah mengikuti short course dari IIEF di amerika selama satu semester, dan mas agung barusan 2 minggu yang lalu pulang dari thailand untuk mengikuti studi banding dari kampus yang ia ajar sekarang, sekarang mas agung sudah jadi dosen di Stikes purwodadi. Wow! Saya belum jadi apa-apa untuk saat ini!
            Lebih terasa belum menjadi apa-apa lagi ketika saya berkenalan dengan orang-orang yang penuh inspiratif via social network. Saya berkenalan dengan mbak rindha devie, yang saat ini sedang mengikuti short course selama enam bulan di jepang melalui program KIZUNA, dan juga berkenalan dengan Susi mahasiswa universitas Brawijawa yang menjadi salah satu participant One Young World di Amerika. Keduanya seorang yang begitu low profile dan mempunyai semangat yang luar biasa. Dari profile picture mereka, tampak seorang yang biasa saja, tidak heboh seperti saya yang suka gonta-ganti dp dengan gaya yang berbeda-beda (aih, baru terasa malunya L). Tapi mereka memiliki power yang besar, semangat dan tekat yang kuat. Nah itu yang saya suka! Beberapa hari lalu saya ngobrol sama susi via facebook. Saya curhat sama susi. Kenapa kebanyakan exchange program dan scholarship itu hanya diberikan bagi mahasiswa perguruan tinggi negeri saja. Itu sudah saya buktikan beberapa kali. Ahir bulan ini ada summer exchange program ke Jepang dan Korea, dan ini hanya dikhususkan bagi mahasiswa Universitas Padjajaran dan Universitas Gadjah Mada salah satunya. Selama inipun saya tidak pernah menemukan beasiswa yang dikhususkan bagi mahasiswa perguruan tinggi swasta. Aih mirisnya menjadi kalangan kedua. Tapi persepsi saya itu dicekal sama Susi. Dia bilang programnya juga terbuka untuk mahasiswa dari perguruan tinggi swasta, karena beasiswa yang ia dapat langsung dari Dikti. Ya saya tau sus, tapi kami yang dari kalangan kedua ini tentunya harus lebih extra miles lagi kalo ingin mendapatkan informasi mengenai beasiswa dan pertukaran pelajar, bahkan dana dan peluang dari kampuspun tidak sembarangan diberikan kepada mahasiswa  berprestasi yang lolos seleksi.           Salah satu contohnya adalah kedua teman saya yang beberapa bulan yang lalu mengikuti program ke Jepang selama dua minggu. Saya kira dia didelegasikan dari kampus karena mereka berdua adalah mawapres (mahasiswa prestasi),  yaitu ajang paling bergengsi di kampus kami. Keduanya adalah teman dekat saya, satunya teman di Muhamadiah English Course, dan satunya lagi satu ogranisasi dengan saya di Nadil Munaqosah Lughah Arabiyah dan Lembaga Pers berbahasa arab di kampus saya. Saya tahu mereka berdua adalah orang-orang hebat. Orang hebat yang katanya akan terus selalu menjadi hebat karena sudah berawal dari rencana yang hebat (saya baca sendiri loh di blognya salah satu dari mereka). Tapi yang dipertanyakan orang hebat yang selalu hebat itu dalam konteks seperti apa ya? Apa orang yang ingin selalu dipandang hebat dan enggan memberikan kesempatan bagi orang yang ingin juga menjadi hebat? Karena ahir-ahir ini saya juga baru tahu kalau ternyata programnya itu adalah independent (bukan delegasi kampus). Dan kampus hanya memberitahukan kepada para mawapres saja untuk mengikutinya. Seharusnya kan diberitahukan kepada khalayak umum. Ya kita kan juga tidak tahu, walau mereka yang tidak berkesempatan menjadi mawapres tenyata memiliki potensi yang lebih besar dan dapat memberikan kontribusi yang baik untuk kampus kami. Lain cerita lagi, saya baru tahu ternyata ketika mas agung dinyatakan lulus seleksi Forum Indonesia Muda yang ke-11 dan satu-satunya dari kampus kami, tidak serta merta kampus mau membiayai untuk akomodasi keberangkatan dan biaya selama di Cibubur. Proposalnya saja ditolak, bahkan dibilang hal itu dibuat-buat dan tidak dipercayai! Bayangkan saja, untuk menjadi peserta FIM itu bukan orang sembarangan yang dapat terseleksi dari sekian ribu orang. Tapi ini jelas-jelas malah ditolak proposalnya. Akhirnya mas agung memberanikan diri untuk menemui pak rektor di kantornya. Tiada disangka, beliau begitu appreciate dengan kegiatan yang akan diikuti. Beliau pun tidak tanggung-tanggung memberikan cek sebesar 1,5 juta untuk akomodasi selama acara! Nah itu baru yang namanya rektor. Hidup pak rektor! Pro rakyat kecil, justru yang terbelakang itulah yang memiliki energi yang besar. U`re deserve become a leader!
Bersambung......

1 komentar:

  1. dari dulu informasi semacam ini jarang banget terpublikasi luas ke publik ..

    BalasHapus